Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #4

Perempuan Pembawa Senyum, Karawang, 1985

“Hebat Bapak, bisa gitu namanya Rama, Bapak kasih nama dia Rahmat Tubagus. Lumayan mirip,” ujar Dewi geli di tengah makan malam yang tenang. Rama hanya tersenyum tipis menanggapi. Inilah mereka berdua, sepasang anak bapak, yang pandai menertawakan suasana.

Rahmat Tubagus.  Begitu Pak Rahmat menamainya dulu, gabungan dari namanya sendiri dan harapan sederhana, tanpa dasar apa pun selain naluri seorang tua yang ingin memberi sesuatu pada orang yang tidak punya apa-apa. Rahmat, dari namanya. Tubagus, jangan tanya mengapa atau dari mana asalnya, itu hanya terdengar enak didengar di telinga bagi Pak Rahmat kala itu.

Setahun kemudian, setelah kepingan ingatan itu kembali dan satu nama muncul jelas di kepalanya nama pemberian Pak Rahmat itu perlahan luruh dari pemakaian sehari-hari. Hanya Dewi yang masih kadang menyebutnya, biasanya saat menggoda, seperti malam itu. "Rahmat Tubagus," katanya, lalu tertawa kecil menyadari betapa dekat nama pemberian bapaknya dengan nama asli yang akhirnya kembali sendiri ke ingatan Rama, seolah sebagian dari Rama sudah lama menuntun Pak Rahmat menebaknya, tanpa keduanya sadar. Memang baru sebatas itu. Ingatan lain tentang asal, bahkan nama lengkap saja Rama belum temukan.

Setahun saling mengenal, Rama kini bahkan sudah mau dipaksa makan bersama dalam satu meja. Meski masih di meja luar, di halaman samping antara rumah dan toko. Rama masih rikuh untuk masuk ke rumah Pak Rahmat dan Dewi. Sekian bulan berlalu, tapi Rama masih memilih duduk di meja samping rumah daripada masuk ke rumah induk.

Beberapa hari setelah mengingat nama aslinya, Pak Rahmat mengajak Rama ke balai desa.

"Urus KTP kamu, Gus—" Pak Rahmat terkekeh kecil. "—Ram."

Petugas di sana sudah lama kenal Pak Rahmat sebagai putra asli kampung meski lama merantau. Tak banyak ditanya saat ia meminta KTP untuk Rama.

"Namanya?"

"Rama," jawab Rama pelan. "Rama P."

"P-nya apa?"

Rama membeku, tanpa sadar ia mencoba memaksa dirinya mengingat, dan kepalanya mulai berdenyut.

"Tulis saja P, titik," sela Pak Rahmat, ia mulai hapal ekspresi Rama yang menahan nyeri bila memaksa diri mengingat yang ia lupa. Dua minggu kemudian, KTP itu di tangan Rama. Ia menatap nama yang tercetak di sana lama sekali. Rama P.

Rasanya aneh. Seolah hidupnya baru dimulai, meski ia tahu hidup itu sesungguhnya pernah ada jauh sebelum huruf itu dicetak di kartu yang kini ia genggam.

Toko yang semakin ramai membuat mereka menambah tenaga. Tengah hari, ada jeda waktu sejam toko tutup karena mereka istirahat, sering dipakai Dewi dan Rama mengantar makanan ke Pak Rahmat di sawah. Dulu, Dewi bisa mengantar sendiri, tapi akhir-akhir ini Pak Rahmat sering meminta dibawakan makanan, cemilan, kerupuk, dan hal-hal lain yang membuat Dewi seorang tidak bisa mengantar ke sawah sendirian. Jadilah Rama membonceng Dewi bersepeda berdua, hampir tiap hari.

“Kayak suami istri,” gumam Dewi sambil duduk di boncengan, lalu terkekeh-kekeh. Dia tidak tahu, efeknya adalah semu merah di wajah putih Rama.

Dua tahun kebersamaan mereka bertiga, ada perubahan baru. Pak Rahmat merestui kedekatan  Dewi dan Rama. Bahkan lebih dari sekadar kedekatan, melainkan pernikahan. Omongan orang luar semakin memanaskan telinga. Demi mengurangi kemungkinan fitnah, Pak Rahmat menawarkan pernikahan.

Rasanya sudah cukup lama, Pak Rahmat geli dengan wajah salah tingkah Rama tiap digoda tetangga tentang Dewi. Belum lagi kalau ada laki-laki yang menggoda Dewi, meski pura-pura tidak peduli, muka Rama menegang tak terima.

“Neng, gimana?” bisik Pak Rahmat di teras depan rumah mereka. Malam sudah larut, ia kuatir angin menerbangkan percakapan ini ke telinga Rama di belakang sana.

Dewi tercenung beberapa saat. “Siapa yang mau sama perempuan yang dicap mandul seperti Dewi, Pak?” Akhirnya ada yang terucap.

“Tidak semua pernikahan harus diberi anak, Neng.” Pak Rahmat mengambil jeda sejenak. Ia tahu, pendapatnya ini banyak yang menentang. “Tapi, kalian bicarakan lagi berdua.”

Lihat selengkapnya