Karawang, 1986
“Aku memang bisa dibilang orang bawaan, Neng. Tapi aku harus bisa membuktikan kalau aku memang layak mendapat kesempatan ini,” ucap Rama di suatu malam pada Dewi di ruang makan. Ia baru menutup buku kerja di meja makan yang telah bersih dari bekas makan malam. Pak Rahmat sudah keburu pergi ke poskamling, hendak main catur bersama bapak-bapak yang kena jadwal ronda.
Setahun kemudian, namanya terpampang di papan pengumuman sebagai Koordinator Logistik.
Di tahun itu, hanya ada satu pabrik lagi yang sepadan ukurannya, berdiri di kecamatan sebelah, jaraknya cukup jauh. Selebihnya, sejauh mata memandang dari gerbang pabrik, hanya hamparan sawah yang menghijau mengikuti musim tanam. Cocok sekali julukan Karawang sebagai lumbung padi. Bangunan tempat Rama bekerja menonjol aneh di tengah petak-petak itu, seperti sesuatu yang salah tempat tapi dibiarkan saja karena toh memberi banyak orang pekerjaan.
Bekerja di sana, apalagi sampai dipercaya jadi koordinator, membuat nama Rama semakin dikenal, sekaligus diperbincangkan. Anak menantu Pak Rahmat kerja di pabrik, gajinya tetap setiap bulan, tidak tergantung musim hujan atau kemarau seperti nasib sawah mereka. Itu saja sudah cukup untuk membuatnya dipandang sedikit berbeda, sedikit lebih beruntung, di kampung yang sebagian besar penduduknya masih menghitung hidup dari panen ke panen.
Buku catatan kerjanya kini sudah separuh penuh. Sebagian besar berisi jadwal bongkar-muat, nomor truk, nama-nama supplier. Tapi di lembar belakang buku itu, menyelip satu-dua baris yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kadang sebuah kata, kadang sebuah nama yang belum lengkap, hanya untuk menahan gambaran wajah yang ia coba kunci sebelum hilang lagi. Ia tidak pernah berniat menjadikannya semacam diari. Tapi tangannya, setiap kali pikirannya kosong di tengah malam, selalu kembali ke buku yang sama.
Karawang, 1989
Dewi menemukan buku itu terbuka di meja dapur suatu sore, ketika Rama sedang mandi. Di halaman agak belakang, di baris atas, ada kalimat yang sempat membuatnya mengernyit: tawa itu.
Dewi mengembalikannya ke tempat semula seperti tidak pernah membacanya.
Dulu, di tahun-tahun pertama, ia akan bertanya. Setiap kali ada yang aneh dalam tatapan Rama, setiap kali ia bicara dalam tidur, Dewi akan menunggu pagi dan menanyakannya pelan-pelan sambil menyiapkan sarapan. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu jarang membawa jawaban. Seringkali hanya berujung pada keheningan yang lebih panjang, kadang sampai dua-tiga hari. Dewi belajar. Ia tidak berhenti peduli, hanya berhenti mengejar.
Tahun ini, ketika ia menemukan baris-baris seperti itu, ia memilih diam. Bukan karena tidak ingin tahu. Karena ia sudah tahu caranya menunggu.
Karawang, 1992
Pak Rahmat mulai mengeluh lutut nyeri setiap kali pulang dari sawah, dan diam-diam menyerahkan separuh urusan tanam ke tetangga yang dia percaya. Rama dan Dewi hanya membantu memantau sebisanya.
Di malam-malam yang tenang, sesekali Rama masih membuka buku catatan kerjanya, duduk sendiri di ruang makan setelah semua orang tidur. Tapi lebih sering ia hanya membuka halaman kosong, menatapnya lama, lalu menutupnya kembali tanpa menulis apa-apa. Tidak ada yang datang. Hanya rasa bahwa sesuatu seharusnya ada di sana, sesuatu yang belum punya bentuk untuk dituliskan.
Karawang, 1995
Suatu malam di musim panen, Rama iseng membaca ulang buku catatan kerjanya dari halaman paling awal. Ia tidak biasa melakukan ini, tapi malam itu tangannya bergerak sendiri membalik halaman demi halaman, melewati jadwal-jadwal lama yang sudah tidak relevan, berhenti di halaman-halaman belakang dari buku.
1989.
Tawa itu.
1991.
Wajah di pintu,
perutnya besar.
1993.
Suara tawa.
Dua tahun sekali. Cukup jarang untuk bisa ia anggap angin lalu, cukup jauh jaraknya untuk membuatnya berpikir mungkin sudah selesai.
Tapi tahun ini berbeda. Baru bulan Maret, setelah dua minggu lembur tanpa libur menyelesaikan pengiriman besar, ia terbangun jam tiga pagi dengan gambaran yang sama. Perempuan di ambang pintu, perutnya membesar, begitu nyata sampai ia sempat memanggil nama yang tidak ia ingat sendiri begitu matanya terbuka.
Bulan Juli, ia dan salah satu mandor bersitegang soal jadwal pengiriman yang molor. Bukan pertengkaran besar, tapi cukup membuatnya pulang dengan kepala penuh dan dada sesak sepanjang malam. Gambaran itu datang lagi sebelum ia sempat tertidur sepenuhnya.
Awal September, suara klakson truk yang mendadak dekat di jalan pabrik membuatnya tersentak, bukan kecelakaan, hanya truk lewat terlalu mepet. Telinganya berdenging. Napasnya tercekat beberapa saat. Jantungnya masih berdegup kencang lama setelah itu, dan malam itu juga, gambaran yang sama muncul untuk ketiga kalinya tahun ini.