Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #6

Luka Tak Tertimbang

Karawang, Mei 1998

Sudah sore, tetapi udara masih terasa kering dan menyengat. Tanah di halaman puskesmas merekah, sementara debu halus menempel di ujung celana setiap orang yang keluar masuk bangunan itu.

Rama duduk sendirian di lorong. Selembar kertas lusuh telah berpindah-pindah dari telapak ke jemarinya entah berapa kali. Baru ketika seorang perawat keluar dari ruang rawat sambil tersenyum tipis, genggamannya mengendur. Rama tersenyum tipis membalas.

Rama yang hendak masuk ruangan, urung ketika melihat Dewi masih tertidur di salah satu bed, tak ingin mengganggu. Rama mengamati wajah pucat itu. Pusing yang ia keluhkan beberapa minggu terakhir, yang awalnya dikira kelelahan karena aktifitas  toko, ternyata punya sebab lain. Dia hamil. Kabar yang sama sekali tidak mereka sangka, di usia Dewi yang sudah dianggap melewati masa subur. Kebahagiaan ini harusnya utuh. Tapi Rama punya masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai, dan kabar baik datang dengan cara yang membuka kembali lubang lama itu.

Rama baru menyadari Pak Rahmat sudah berdiri di sisinya saat suaranya membuyarkan lamunan Rama. Mungkin toko tutup sore demi pak Rahmat bisa menyusul ke sini.

 “Aya naon, meuni pucat pisan, Ram?”

Rama tersenyum tanpa menjawab apapun,  tidak ingin menambah beban pikiran Pak Rahmat.

Pak Rahmat menepuk pundak Rama perlahan, berusaha menyalurkan ketenangan. Ia maklum dengan segala kekalutan Rama saat ini. Karena ini bukan hanya tentang kesehatan Dewi, dan kehamilan di usia yang tidak muda lagi. Tapi juga tentang ketakutan Rama akan masa lalu yang sepertinya mulai kembali menghantuinya. Juga tentang situasi lingkungan yang kurang kondusif.

                                   ***

Sepulangnya dari rawat inap, Rama cuti sehari. Ia masih ingin membersamai Dewi, takut ia terlalu banyak bergerak di toko sementara kondisinya saat ini berbeda.

Rama luput satu hal, toko tidaklah seperti tahun-tahun kemarin di mana mereka sampai perlu memperkerjakan banyak pegawai untuk mengemas barang, dan mengirim ke beberapa toko kecil.

Rama berjalan berkeliling toko, aktifitas yang sudah lama tidak dia jalani semenjak bekerja. Ia berhenti di dekat salah satu rak. “Sebelah mie sekarang meuni kosong?” tanya Rama pada Dewi di meja kasir. Pak Rahmat sudah kembali sibuk di sawah.

Dewi tersenyum pahit. “Lupa a? Dewi cerita kan, distributor tidak bisa kirim banyak. Harga sedang nggak karuan.”

Rama tertegun. Ia kira hanya pabrik yang terancam. Selama ini ia hanya mengkhawatirkan PHK di pabriknya sendiri. Ia tidak menyadari krisis itu sudah merembes sampai ke rak-rak toko mertuanya.

“Udah Teh?” sapa Dewi pada salah satu tetangga yang sedang berbelanja. Ia mengangguk, dan Dewi mengambil tas keresek kecil untuk belanjaan yang ada di depannya. Sekarang hanya keresek ukuran kecil dan sedang yang sering terpakai. Tidak seperti biasanya, yaitu karung ukuran beras 25 kg, kardus, atau keresek yang besar.

"Beras yang dulu paling kecil lima kilo, sekarang Dewi bikin satu kilo," katanya sambil menimbang. "Gula juga, seperempat kilo sekarang paling laku."

"Pak Jaja kena PHK minggu lalu," sambungnya pelan, tanpa diminta, saat tangannya masih sibuk membungkus. "Istrinya kemarin nangis di sini."

Rama hanya membisu. Dollar yang melambung entah bagaimana caranya membuat sembako jadi barang yang harus dihitung sampai ukuran terkecil.

Suara televisi yang Dewi keraskan memecah lamunan itu. Jakarta dan beberapa kota mulai rusuh. Penjarahan di beberapa titik.

Mereka bertatapan sebentar. Dewi mengangguk kecil. "Tenang a, Dewi jaga diri. Bapak besok nggak ke sawah kalau aa kerja."

Rama mengaminkan dalam hati, meski hatinya jauh dari tenang.

“Pak Nanang malah kasihan a, tiga bulan nggak digaji. Anaknya kemarin-kemarin beli beras setengah kilo. Nggak tega Dewi mah. Mereka serumah berempat, beras setengah kilo jadi berapa kali makan.”

Rama menghela napas panjang, merenungi situasi yang tak pernah dia duga begini. Dollar melambung menimbulkan efek domino luar biasa. Siapa sangka, sembako menjadi barang mewah.

Lihat selengkapnya