Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #8

Sesuatu di Bundaran Tugu, 2000

Sekar belajar tengkurap di bulan ketiga, dan Rama yang pertama melihatnya. Setelah makan malam dan Dewi masih membereskan meja makan, Rama bersila di lantai, memandangi putrinya yang ngos-ngosan dengan kepala yang belum sepenuhnya tegak, dan Rama tertawa sendiri. Baru beranjak setelah Sekar kelelahan dan mulai menangis. Digendongnya Sekar dengan gemas, pipinya yang bulat ia cium berkali-kali. Tawanya menggema di ruang keluarga dekat ruang makan.

Buku catatan kerja yang lama sudah ia ganti dengan yang baru. Yang lama ia simpan di laci meja. Tidak dibuang, tapi juga tidak pernah ia buka. Cukup tahu ia ada di sana. Itu sudah cukup.

Hujan turun dan Rama kadang mendengarkan dengan fokus. Kadang ada lapisan yang muncul sekilas, tapi ia sudah belajar tidak mengejar. Dibiarkan datang, dibiarkan pergi. Seperti tamu yang tidak diundang tapi juga tidak diusir, cukup diberi tahu bahwa rumah ini sudah ada penghuninya.

Awal tahun 2000, manajer meletakkan map biru di meja kerjanya. Rama membuka halaman pertama. Kota tujuan survei tertera di sana, dan ia membacanya beberapa detik.

Malang.

Ini pertama kalinya dia harus berjauhan dengan Dewi dan Sekar dalam waktu lebih dari tiga hari. Entah bagaimana cara Rama menahan rindunya kelak. Rama menarik napas panjang lalu menutup map itu, meletakkannya rapi di sudut meja, lalu kembali mengetik laporan yang belum selesai.

                                   ***

“Hati-hati di jalan a, Dewi sama Sekar menunggu,” bisik Dewi sambil merapikan kerah kemeja Rama.

Rama mengangguk dengan senyum teduhnya. Bibirnya mencium lembut dahi Dewi. Matanya memindai wajah Dewi, senyumnya, lesung pipitnya, semuanya. Tangannya membelai pipi Dewi perlahan, dan baru berhenti saat terdengar deheman Pak Rahmat di kejauhan. Dewi terkekeh dan mendorong bahu Rama menjauh. Rama tersenyum lebar, ganti matanya memindai Sekar yang masih berbaring di kasur di antara tumpukan mainan di sekitarnya. Betapa ia akan merindukannya.

“Oleh-oleh apa, Neng?” tanya Rama sambil menutup ranselnya.

“Sejuknya Malang bawa sini,” jawab Dewi asal lalu terkekeh sendiri. Ini Dewi yang ia kenal selama ini. Yang tidak membebaninya dengan banyak tuntutan. Dan selalu ada di sisinya, menguatkan dirinya yang rapuh dan memiliki banyak kekosongan, bahkan tentang ingatannya sendiri.

                                                           ***

Hari kedua di Malang ditutup dengan langit yang kembali diguyur hujan tipis. Sejak pagi Rama berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, meninjau calon gudang di kawasan Gadang, memeriksa akses menuju jalan utama, lalu berdiskusi panjang dengan calon distributor hingga menjelang petang.

“Lumayan melelahkan juga, ya, Pak,” kata mitra lokal yang sejak pagi menemaninya.

Rama tersenyum kecil.

“Malam ini istirahat yang enak dulu, Pak. Saya sudah pesan kamar di Hotel yang legendaris.”

“Hotel legendaris?” Pertanyaan Rama lebih mirip gumaman.

“Iya. Hotel legendaris di kota ini. Sayang kalau ke Malang belum pernah menginap di sana.”

Rama hanya mengangguk. Mobil mereka berbelok memasuki kawasan pusat kota. Gerimis masih turun ketika bangunan itu mulai terlihat dari balik pepohonan tua yang mengelilingi bundaran Tugu.

Lihat selengkapnya