Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #9

Mencari Celah Ke Kota Yang Mengenalnya

Dua hari kemudian Rama kembali ke Karawang. Belum sempat tubuhnya benar-benar beristirahat, setumpuk pekerjaan sudah menunggu di meja. Laporan hasil survei harus selesai malam itu juga agar dapat diserahkan kepada manajer keesokan paginya. Seharian ia tenggelam dalam angka, daftar kebutuhan gudang, perhitungan biaya distribusi, dan rekomendasi calon mitra logistik.

Tangannya terus mengetik, tapi pikirannya berkali-kali terseret ke tempat lain. Sesekali angka-angka di layar komputer berpendar, seolah berubah menjadi jalanan basah yang memantulkan lampu-lampu malam di bundaran itu. Aroma kopi di ruang kerja perlahan tergeser oleh bau tanah selepas hujan yang hanya ada di kepalanya. Di sela bunyi ketukan papan ketik, telinganya kembali menangkap tawa yang datang hanya sekejap, cukup lama untuk membuat dadanya menghangat, lalu menghilang sebelum sempat ia kenali.

Entah berapa kali ia berhenti mengetik. Jari-jarinya menggantung di atas papan ketik.

“Pramita.” Nama itu kembali terucap lirih. Rama mengusap wajahnya pelan sebelum memaksa diri kembali bekerja. Tidak ada ruang untuk mencari jawaban. Tahun 2000 belum mengenal cara cepat menemukan seseorang. Nama saja tidak cukup. Jika ingin menemukan seseorang, orang harus bertanya dari satu mulut ke mulut yang lain, atau berharap takdir sedang berbaik hati mempertemukan mereka kembali.

Malam-malam berikutnya berjalan nyaris sama. Rumah kembali sunyi  setelah Sekar tertidur. Dewi mematikan lampu ruang tengah dan masuk ke kamar. Rama biasanya menyusul beberapa menit kemudian, tetapi akhir-akhir ini ia lebih sering duduk sendirian di teras.

Hujan yang turun di Karawang selalu membawanya ke kota lain. Ke udara dingin yang menyentuh wajahnya. Ke bundaran yang berkilau setelah gerimis. Ke sebuah bangku taman yang entah mengapa terasa begitu akrab. Dan kepada perempuan yang wajahnya masih diselimuti kabut. Sedikit demi sedikit, fragmen-fragmen itu mulai datang tanpa diundang meski tak pernah utuh. Hanya potongan-potongan pendek yang muncul lalu menghilang sebelum sempat dirangkai menjadi sebuah cerita.

Dinding rumah bercat pucat. Meja penuh buku dan kertas. Jendela dengan tirai bermotif bunga. Suara perempuan yang memanggil namanya dari salah satu sudut. Lalu sunyi. Semuanya seperti kepingan kaca yang berserakan.

Satu hal saja yang semakin hari semakin sulit ia bantah. Malang bukan sekadar kota yang pernah ia datangi. Kota itu mengenalnya. Dan jauh di sana, ada seseorang yang namanya terus kembali setiap kali ia mencoba melupakannya.

Pramita Maheswari.


                                   ***     

Hari-hari berlalu, bulan berganti, dan Rama menjalani peran sebagai suami dan ayah nyaris tanpa cela. Dewi tetap  istri yang tangguh, teliti, dan penyabar. Sekar tumbuh jadi anak yang ceria, pintar, dan menyayangi ayahnya dengan manja.

Sejak kepulangannya dari Malang, setiap map perjalanan dinas selalu ia buka dengan satu harapan yang sama. Matanya tidak lagi mencari besaran uang saku atau lamanya penugasan. Yang pertama kali ia cari hanyalah satu nama kota. Malang.

Ketika nama kota lain yang muncul, ia menutup map itu pelan, menyimpannya kembali tanpa komentar. Besoknya ia tetap bekerja seperti biasa. Tak seorang pun tahu, setiap surat tugas yang bukan menuju Malang selalu meninggalkan satu kekecewaan kecil yang ia kubur sendiri.

Lihat selengkapnya