Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #10

Senja yang Mengikat, Malang 2012

Dua belas tahun.

Waktu selama itu rupanya belum cukup untuk menghapus sepenuhnya satu nama dari kepala Rama.

Dua belas tahun berlalu dalam rutinitas yang hampir selalu sama. Pukul enam ia membuka pintu rumah, berpamitan pada Dewi, mengantar Sekar yang dulu masih mengeja kini mulai mengenakan seragam SMP. Malam hari ia kembali membantu menutup toko hingga lampu terakhir dimatikan. Hidupnya tampak utuh. Hanya ia sendiri yang tahu, ada satu ruang dalam dirinya yang tak pernah benar-benar selesai dibereskan.

Dari luar, tak ada yang berubah, hanya saja ada sebuah pintu yang tak pernah benar-benar tertutup. Pintu itu selalu terbuka sedikit setiap kali gerimis turun. Setiap kali mencium bau tanah basah. Setiap kali mendengar nama Malang disebut dalam percakapan orang lain.

Bertahun-tahun ia menunggu kesempatan untuk kembali, untuk menemukan banyak kepingan yang hilang dari memorinya. Mencari tahu asal diri, bagaimana Pramita, bagaimana hidup Pramita sepeninggalnya? Ini sudah lewat dua dekade, bagaimana keadaannya? Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali menggema, bersahutan dengan  harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Hingga pada suatu pagi di awal tahun 2012, manajernya meletakkan sebuah map berwarna biru di atas meja kerjanya. “Akhirnya acc survei lanjutan untuk pembukaan cabang.”

Rama mendongak. Manajernya membuka halaman pertama map itu, lalu mendorongnya pelan ke arah Rama. “Malang.”

Rama hanya mengangguk kecil. “Baik, Pak.” Sesederhana itu jawabannya, berkebalikan dengan hatinya yang membuncah oleh sesuatu, yang Rama sendiri kurang jelas mengartikannya. Apa senang? Apa hanya semata penasaran akan kisah masa lalu? Atau apa?

Tapi ia bersyukur, paling tidak, setelah dua belas tahun kesempatan itu ada lagi.

Tahun 2012. Malang menyambutnya dengan gerimis ketika ia dan timnya tiba.

Setibanya di Malang, Rama kembali menjadi dirinya yang dikenal semua orang di kantor yang selalu selesai lebih dulu dibanding tenggat waktu.

Sejak pagi ia berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain bersama tim. Mengawasi pengukuran luas bangunan, mencatat akses kendaraan besar, memotret titik bongkar muat, hingga memeriksa kemungkinan perluasan gudang di kemudian hari. Sementara anggota tim lain mulai mengeluhkan hujan yang tak kunjung reda, Rama masih berdiri di bawah payung, mencocokkan hasil pengukuran dengan denah yang dibawanya.

“Pak Rama,” panggil salah seorang staf muda, “kayaknya sudah aman.”

Rama menggeleng pelan. “Kalau pintu di sini, nanti truk empat puluh kaki masuk dari sisi barat, masih bisa muter?” Staf itu terdiam.

“Belum kepikiran ya?” Rama mengulas senyum, untuk menenangkan staf yang memucat di depannya. “Nggak apa-apa. Ini fungsi survei.”

Dan lay out yang mereka kira sudah sempurna berujung perombakan. Sore harinya, ketika semua data selesai direkap, manajer tim menepuk bahu Rama. “Makanya saya selalu minta Pak Rama ikut survei.” Rama menoleh singkat, mengangguk dan bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

“Kalau semua orang telitinya sama kayak Pak Rama, kita jarang lembur.” Beberapa terkekeh, Rama hanya tersenyum tipis. Itu pujian yang sudah biasa ia terima. Tak seorang pun tahu bahwa setiap pujian justru membuatnya semakin berhati-hati. Ia masih mengingat hari pertama bekerja belasan tahun lalu. Saat itu ia datang tanpa hal yang bisa dibanggakan. Sebagian besar jejak hidupnya bahkan hilang bersama ingatannya sendiri. Seandainya bukan karena Pak Rahmat yang bersedia menjamin dan memberinya kesempatan, mungkin ia tak pernah berdiri di tempatnya sekarang.

Sejak hari itu Rama berjanji pada dirinya sendiri, ia boleh datang dengan masa lalu yang kosong. Tetapi ia tidak akan membiarkan orang yang telah mempercayainya menanggung malu karena dirinya.

Karena itu, di mana pun ia ditugaskan, Rama selalu bekerja sebaik yang ia mampu. Termasuk hari ini, meski ada satu bagian dari hatinya yang sejak tadi terus berteriak meminta untuk pergi.

Menjelang sore, seluruh titik survei akhirnya selesai diperiksa. Rama menutup mapnya, memastikan tak ada catatan yang tertinggal. Hujan yang sejak siang hanya berupa gerimis mulai turun sedikit lebih deras.

“Akhirnya selesai juga,” ujar Pardi sambil meregangkan badan. “Pak Rama pasti masih kuat muter satu putaran lagi,” lanjutnya,  disambut tawa yang lain. Begitulah Pardi, yang sering disebut Parodi, mencairkan suasana tegang dan penat saat survey lapangan.

Rama hanya tertawa kecil. Dia bertekad akan segera menyusun laporan setibanya di hotel, dan malamnya, dia sudah ada rencana tersendiri. Sudah lama Rama menunggu hari ini. Nanti, setelah laporan harian selesai dikirim ke kantor pusat ia butuh keluar sendiri ke Bundaran Tugu, atau ke mana pun langkahnya membawanya. Asal memberinya kesempatan menemukan satu jejak kecil yang selama ini ia cari.

Hujan semakin rapat ketika mereka berjalan menuju area parkir. “Awas licin,” ujar Rama.

Pardi melambaikan tangan tanpa menoleh. “Tenang, Pak. Saya ini bersahabat dengan licinnya dunia.”

“Makanya sekarang kayak belut,” celetuk salah seorang rekan. Tawa kembali terdengar.

Pardi menoleh ke belakang, hendak membalas gurauan itu. Sayang, sepatunya menginjak lumut tipis di bibir trotoar. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Pardi terjatuh ke badan jalan.

Sebuah sepeda motor yang melaju bahkan tak sempat membunyikan klakson. Suara rem juga tak sempat terdengar berderit karena motor itu langsung menghantam Pardi yang terkapar sebelum akhirnya terguling beberapa meter di depan.

Teriakan rekan Rama bersahutan, dan mereka berlarian mendekat. Rama tertegun. Beberapa detik yang lalu masih dipenuhi tawa, kini berubah menjadi kepanikan. Suara tubuh membentur aspal itu membangkitkan sesuatu yang telah lama terkubur di kepalanya. Rama menggeleng singkat, ia tidak akan memaksakan diri mengingat. Ia harus segera mengamankan anak buahnya. Segera dia meminta beberapa orang mengurus si pemotor, dan juga Pardi.

Lihat selengkapnya