Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #11

Hadiah Berupa Kepergian

Rama melamun sendirian pagi ini di ruang makan, menatap uap kopi yang semakin tipis. Lucu, pikirnya. Setelah dua puluh tahun mencari, ia justru menemukan mereka dalam keadaan yang paling tak mungkin ia bayangkan.

Dan semesta rupanya masih ingin Rama berjuang lebih. Pardi, saat itu ternyata harus dirujuk karena patah kakinya tidak sederhana dan harus diatasi di Surabaya. Rama harus merelakan urusan pribadinya demi mengurus Pardi.

Sekarang yang perlu Rama upayakan adalah mencari waktu untuk bisa cuti dan pergi ke Malang.

“Pergi a, semoga pencarian kali ini membuahkan hasil yang baik bagi kita semua.”

Pengertian yang diberikan Dewi, membawa pada rasa yang sama, seperti yang dia rasa, dari Pramita. Sepertinya begitu. Rama tak asing dengan hal ini. Pasti Pramita juga begini. Kepingan kenangan muncul saat dia duduk di tengah malam sendirian dengan rasa takut yang ia pendam sendiri dan entah kenapa. Pramita merengkuh bahunya untuk menenangkannya. Kenapa Rama takut saat itu?

Sayangnya upayanya mengingat hanya menimbulkan nyeri di kepala. Dewi beranjak mendekat lalu memegang tangan Rama untuk menghindari Rama menjambak rambut sekuat tenaga seperti biasa kalau nyerinya datang dan menghebat.

“Sabar a, Dewi temani pelan-pelan, jangan memaksa diri,” bisik Dewi. Rama menumpukan kedua tangannya di meja makan dan berusaha menenangkan diri. Khawatir Sekar datang dan melihat Rama dalam kondisi yang seperti ini.

Rama mengusap mukanya beberapa kali. Semoga kali ini wajahnya sudah mulai kembali normal.

“Hidup ini punya banyak kejutan ya a. Dulu, Dewi punya banyak penggemar. Dewi menikah dengan seseorang yang paling ganteng. Ternyata Dewi tidak diratukan sama sekali hanya karena tak kunjung hamil.”

Dewi tertawa perlahan, sambil tangannya mengusap bahu Rama, berusaha menenangkan seperti biasa. “Lalu Dewi cerai. Wajah sudah tak secantik dulu, dan  ditinggalkan oleh suami. Mantan suami cepet banget dapat ganti. Dewi? Sendirian merana.”

Meskipun kalimatnya menyedihkan, nada Dewi tetap santai. Mungkin begitu kalau seseorang sudah berdamai dengan masa lalunya. Tidak seperti Rama.

“Dewi waktu itu tidak percaya lagi pada cinta dan tak ada keinginan berumah tangga. Dewi heran juga, kenapa bisa-bisanya kita menikah. Rasa di antara kita tidak ada yang memaksa. Semua berjalan alami. Dan mungkin karena semakin tua, Dewi semakin santai dan aa juga tidak memaksa punya anak, sehingga kita akhirnya malah dipercayai Sekar.”

Rama tersenyum kali ini. Tangannya memegang lembut tangan Dewi di bahunya.

“Tapi Dewi juga merenung kadang. Kenapa Dewi harus bersuamikan seseorang yang bahkan ingatan saja masih harus dia cari. Bagaimana kalau suatu saat aa meninggalkan Dewi?"

Tangannya berhenti mengusap sebentar, lalu melanjutkan lebih pelan.

"...atau bahkan membawa Sekar, kembali bersama keluarga aa yang dulu?"

Rama menggeleng sambil mempererat genggaman  tangan Dewi yang masih berdiri di belakang Rama.

“Dewi ikhlas a, bahkan seandainya harus sendiri lagi. Bukan karena Dewi tidak cinta. Tapi justru karena Dewi melihat aa selama ini sudah banyak menderita. Seandainya menemukan permata aa yang hilang itu bisa membahagiakan aa, Dewi akan ikut bahagia.”

Rama kembali menggeleng, kali ini lebih kuat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa Dewi.

“Aku,…” Rama nampak memikirkan apa yang akan ia ucapkan. Dewi tak mengejar, seperti biasa ia menunggu.  

Lihat selengkapnya