Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #12

Jerat Kenangan, 2012

Putus asa kadang membuat manusia berhenti mencari arah. Yang tersisa hanya kaki yang terus melangkah, seolah tubuh masih ingin hidup sementara hati telah menyerah.

Rama kehilangan harapan. Ia melangkah sekehendak kakinya. Tak ada tujuan pasti, selain hanya mengulur waktu supaya tidak segera pulang ke Karawang, dengan hati yang hancur lebur.

Entah dorongan apa yang menggerakkan kakinya, setelah turun dari taksi, Rama justru menaiki bus menuju Surabaya. Tanpa alasan apapun. 

Rama turun dari bus di Terminal Bungurasih tanpa tujuan yang ia mengerti. Hilang sudah sedikit harapannya untuk bisa menemui Pramita. Semua sakit yang bisa ia pendam sendiri karena kehilangan kenangan ini seperti tidak berujung.

Harusnya setelah dari terminal dia bisa saja melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Pasar Turi kemudian naik kereta kembali menuju Karawang. Sayang, pikiran Rama sedang kosong, sekosong hatinya yang merasa dipaksa untuk melupakan, tapi kenangannya menari-nari menggoda di benaknya.

Rama berjalan kaki tanpa arah pasti. Kemudian asal menaiki bus kota yang ada, dan turun sekehendak hati. Hanya melangkah, menikmati keriuhan di luar sana, untuk melipur kekosongan dalam dirinya.

Mungkin  orang akan berkata, “Relakan saja.” Mudah sekali mengucapkannya ketika yang hilang hanya cerita orang lain. Mereka tak pernah hidup dengan rasa bersalah yang bahkan tidak mereka mengerti asalnya.

Beberapa orang menoleh kepadanya. Barangkali wajah lelaki yang berjalan dengan mata kosong memang selalu mengundang tanya. Rama tidak peduli. Ia hanya ingin tubuhnya lebih lelah daripada pikirannya. Sekaligus dia berharap ada seseorang yang mengenalnya, dan akan memberi informasi tentang orang tanpa kenangan lengkap ini, supaya tak lagi terombang ambing oleh pekatnya kehampaan.

Lihat selengkapnya