Tuban, 1982
Rumah itu tidak pernah benar-benar berdiri tegak. Dinding bagian belakang, yang menghadap got, sudah retak sejak Rama kecil. Retakan itu melebar tiap musim, ditambal dengan adukan semen yang tidak pernah cukup, lalu retak lagi di tempat yang sama. Atap dari seng bergelombang, berkarat di sudut-sudut yang bocor, dan setiap kali ada yang berjalan di lantai yang retak, suaranya menjalar sampai ke dapur.
Ibu mereka pergi pada suatu pagi beberapa bulan sebelum Rama naik ke kelas dua SMA. Tidak ada keributan. Tidak ada barang yang dibawa selain satu tas kain. Mulanya Basuki dan Rama mengira ibunya sudah lelah dihajar oleh ayah mereka saat mabuk. Mungkin, besok atau lusa ia akan datang lagi, seperti biasa.
Sayang kali ini tidak. Tiga hari kemudian Basuki menemukan kertas terselip di antara piring-piring di rak dapur, selembar surat yang ditulis dengan tulisan tangan yang ia kenal.
Suratnya pendek. Hanya beberapa baris yang mengatakan ia tidak bisa lagi tinggal, bahwa ia minta maaf, dan bahwa anak-anaknya sudah cukup besar untuk tidak membutuhkannya lagi.
Basuki membaca surat itu berdiri di depan rak, lalu duduk di lantai, lalu membacanya lagi. Rama menunggu di ambang pintu dapur, melihat kakaknya yang saat itu sembilan belas tahun, sudah bekerja serabutan di pasar, membaca surat yang sama tiga kali sebelum melipatnya kembali dan memasukkannya ke saku kemeja, bukan membuangnya.
Tidak pernah ada kepastian setelah itu. Tidak ada kabar dari tetangga yang melihatnya pergi mana. Tidak ada surat susulan. Bisa jadi ia sudah menikah lagi di kota lain, membangun hidup baru dengan nama yang berbeda, atau apakah ia sudah lama mati di tempat yang tidak diketahui siapa pun, dikuburkan tanpa seorang pun dari keluarga lamanya tahu.
"Dia pergi buat dirinya sendiri," gumam Basuki suatu malam, ketika mereka berdua duduk di teras belakang yang nyaris ambruk. Bukan kalimat yang membutuhkan jawaban. "Bukan buat kita. Buat dirinya." Basuki tersenyum miring. “Dia tidak sanggup menghadapi suaminya dan kita yang disuruh menghadapinya.”
Dalam seminggu, mungkin hanya dua kali bapaknya datang, marah-marah sambil mabuk, melempar apapun yang ada di dekatnya, mengobrak abrik lemari demi mencari uang yang tersisa, hanya untuk kemudian mabuk lagi.
Dulu, ibunya bekerja sebagai buruh dan dari pekerjaan itu mereka bisa menyambung hidup, demi sekolah, demi makanan yang kadang hanya berlauk garam. Sekarang, tersisa Basuki harus mengambil alih peran kedua orang tua itu.
Rama tidak menjawab. Kemarahan kakaknya terasa lebih besar dari yang bisa ia tampung sendiri, jadi ia membiarkan Basuki meluapkan segala penatnya.
Bapak mereka tidak banyak berubah setelah istrinya pergi. Malah sepertinya tidak peduli sama sekali.
Ada satu malam, beberapa minggu setelah ibu mereka pergi, yang akan Rama ingat. Suara sesuatu jatuh dari ruang depan, lalu suara bapak yang meninggi, lalu suara Basuki, bukan suara marah, tapi suara yang dipaksakan tegas.
"Jangan pukul Rama." Dulu ibu mereka yang sering berteriak begitu sambil memasang badan menjadi tameng dan berhadiah memar di pipi dan lengan keesokan harinya. Sekarang, kalimat itu Basuki yang meneriakkannya.
Hanya itu yang sampai ke telinga Rama dari balik pintu kamarnya, sebelum sunyi yang lebih menakutkan dari teriakan apa pun menggantikannya. Ia tidak pernah tahu pasti apa yang terjadi di ruang depan malam itu. Yang ia tahu, esok paginya Basuki memakai kaos lengan panjang meski cuaca panas menyengat, dan memar di pelipisnya.
Hampir empat bulan setelah ibu pergi, seorang lelaki muda datang ke rumah itu sore hari, mencari Basuki. Rama mengenalinya, itu teman sekolah Basuki dulu, sekarang bekerja untuk juragan tempat bapak mereka berutang. Basuki belum pulang. Lelaki itu ragu sebentar di ambang pintu, lalu menulis di selembar kertas yang ia simpan dalam tasnya. Tak berapa lama ia menyerahkan sepucuk surat yang sudah dilipat rapat.
"Buat Basuki," katanya, menyerahkannya pada Rama. "Cuma dia yang boleh baca.” Rama hanya mengangguk perlahan. Laki-laki itu berbalik setelah melihat Rama beberapa saat dengan pandangan tak tega.
Rama memegang surat itu sampai Basuki pulang menjelang magrib, tidak membukanya meski tangannya gatal ingin tahu, dan menyerahkannya begitu kakaknya melepas sandal di depan pintu. Basuki membacanya sendirian di kamar.
Ketika Rama menyusul ke ambang pintu beberapa menit kemudian, wajah kakaknya sudah berubah warna. Bukan marah seperti biasanya, melainkan kosong. Basuki tidak bicara apa-apa. Ia melipat surat itu kembali, memasukkannya ke saku kemeja, dan pergi tidur lebih awal dari biasanya.
Tengah malam, Basuki tergesa menyiapkan tas punggung besar, dan memasukkan beberapa hal, termasuk dari lemari reyot Rama.
"Kita pergi," katanya. “Sebelum Subuh.” Tidak ada penjelasan lebih lanjut.
“Kenapa, Mas?”