Surabaya, Oktober 2012.
“Rama Dhana Purnomo, kenapa kamu belum mati!” desis orang itu di depan Rama. Wajahnya tak asing, tapi ingatan tentangnya yang masih enggan menyapa.
Rama memercingkan mata, mencoba menajamkan wajah di depannya yang terasa separuh dikenal. Ini rasa penasaran yang menyakitkan, ia ingin tahu tapi tak sanggup mencapainya.
Satu tangannya kemudian berayun hendak menghantam muka Rama dan tubuhnya bereaksi seperti biasa, menutup mata, pasrah, saat seseorang berteriak mencegah. Laki-laki itu menoleh sejenak pada seseorang yang sepertinya penjaga masjid samping mereka. Laki-laki itu kemudian kembali menatap Rama, dan tangan itu kembali berayun hendak menghajar.
Rama memilih menutup mata, menerima takdirnya kembali. Untuk dimaki, dihajar, dibenci, atas kesalahan yang dia lupa sama sekali.
Tapi kepalan tangan itu tidak juga sampai ke mukanya. Rama membuka mata setelah cengkeraman pada kerah bajunya lepas. Ada seseorang, lain lagi, mendekat dan mencegah laki-laki itu untuk menghajarnya. Laki-laki itu mungkin seumuran dengannya, bedanya nampak tenang, dan, berkharisma. Wibawanya membuat laki-laki itu menurut.
Rama mengedarkan pandang, dia kini berada di sebuah kamar dengan pintu terbuka. Di depan pintu itu, halaman masjid. Di mana tepatnya Rama tak ada gambaran. Kepalanya terlalu penuh oleh banyak ingatan yang mendadak menyerbu.
“Istirahat dulu, perlu obat untuk sakitnya? Biasanya minum obat apa?” tanya si penyelamat tadi sambil mengamati wajah pucat Rama yang jelas nampak kesakitan.
Rama hanya menggeleng tanpa membuka mata. Kepalanya terlalu sakit untuk memikirkan obat apa yang dia mau. Laki-laki itu tidak memaksa.
“Nama saya Rajendra, saya ada di depan. Kalau butuh bantuan dan saya masih ada di sini, saya akan bantu. Istirahat dulu.”
Rama hanya mengangguk, lagi-lagi tanpa membuka mata.
Laki-laki yang bernama Rajendra tadi melangkah keluar dan membiarkan Rama beristirahat. Langkahnya tenang berbelok ke laki-laki yang hendak menghajar Rama tadi. Ada di luar kamar dia sekarang.
“Kalau dia bersalah pada hidup Njenengan, tidak usah mengotori tangan Njenengan dengan menyakitinya.”
Ucapan Rajendra yang teduh membuat laki-laki itu tidak lagi muntap. Dia mengatur napas berkali-kali. Dengusannya terdengar oleh Rama.
“Kalau orang tersayangmu terluka dan menderita selama puluhan tahun karenanya, kamu masih bisa berkata seperti itu?” balasnya dengan suara berat dan dalam, nampak sekali amarah itu masih besar di dalam.
“Saya sekarang merawat orang yang membuat istri dan anak saya meninggal. Kurang sakit apa? Hidup kadang memang membawa komedi setragis ini. Tapi amarah jarang membawa manfaat. Kalau perlu marah, marah saja. Marahlah seperlunya, tanpa amarah.”
Rama mendengar suara Rajendra sayup-sayup karena suasana sekitaran masjid ini begitu tenang dan sunyi. Pembicaraan dua orang itu kemudian terjeda oleh azan.
Rama tak ada daya untuk bangkit. Hatinya terlalu remuk, dan kepalanya juga seakan hampir pecah.