Malang, 1983
Masih belum jam istirahat siang saat Rama ijin keluar, alasannya ke kamar mandi. Lestari mengamati langkahnya yang nampak bimbang.
“Mas Basuki sakit. Ini sudah hari ketiga dia demam tinggi. Aku ajak periksa ke puskesmas juga tidak mau.”
Keesokan paginya, Lestari sengaja menunggu Rama di gerbang. Di tangannya sudah siap beberapa obat dan vitamin, yang akan dia serahkan untuk Rama dan kakak semata wayangnya. Rama datang dengan lingkar mata menggelap.
“Terima kasih, Tar. Syukurlah Mas Bas pagi ini sudah mendingan. Tadi malam masih demam tinggi, pagi ini sudah bekerja lagi.”
Lestari tersenyum dan mengangguk. Ikut senang melihat Rama yang tampak lega.
Tapi kemudian hari itu langit Malang seperti ikut menangis. Gerimis turun deras saat Rama mengantar jenazah kakaknya ke pemakaman. Tak banyak orang datang. Hanya beberapa tetangga, dan Lestari.
Tidak ada Pramita. Bukan salah siapa-siapa. Ia memang tidak tahu. Tak pernah tahu. Lestari tahu pun bukan karena Rama memberi tahu. Dia tahu karena menguping kabar yang disampaikan teman kerja Basuki.
Rama berdiri kaku, wajahnya tanpa ekspresi. Tangannya bergetar saat menaburkan bunga terakhir ke atas tanah basah. Dunia yang tadinya sudah rapuh, kini runtuh sepenuhnya. Tinggal dia sendiri di kota ini. Tak ada yang menanyainya bagaimana hari ini. Tak ada yang pulang malam dalam kondisi lelah tapi masih sempat menanyakan satu dua hal kepadanya. Sisa dia sendiri saja.
Demam berdarah sudah membawa kakak semata wayangnya pulang. Sisa Rama tertinggal di dunia yang kacau ini. Kelak harus bagaimana?
Lestari berdiri di sampingnya. Tak bicara, hanya ada di sana.
“Mas Bas satu-satunya yang selalu ada. Sekarang, bahkan dia pun diambil.” Rama berucap getir pada Lestari, yang tersisa setelah para pengantar pergi dari area pemakaman.
“Kamu boleh sedih. Tapi nanti kamu harus bangkit.” Tak ada respons dari Rama yang masih memandang kosong nisan di depannya. “Mas Bas sudah berusaha sejauh ini demi kamu. Jangan sia-siakan perjuangannya.”
"Mas Bas dulu... " Rama berhenti. Tapi kalimat itu sudah setengah keluar, dan duka yang menumpuk sejak tadi rupanya cukup untuk membuat pertahanannya yang biasa rapat sedikit terbuka.
"Mas Bas dulu selalu ada di depanku. Setiap kali Bapak marah, mabuk, ngamuk, Mas Bas yang maju. Aku cuma perlu jongkok, tutup kepala, tunggu sampai selesai." Suaranya datar, seperti membaca sesuatu yang sudah lama dihafal luar kepala.
"Kalau Mas Bas nggak ada, bapak akan mencengkeram bajuku, lalu menampar, memukul,”
Rama termangu, kalimat itu belum tuntas. Tangannya mengambil sejumput bunga di depannya, lalu ia lempar perlahan ke dekat nisan. “Kalau ada Mas Bas, aku aman. Mas Bas yang babak belur. Sampai sekarang, kalau ada yang narik kerahku, badanku langsung—”
Kalimat itu patah lagi. Pandangan Rama kosong menatap nisan Basuki. “…kaku.” Ia berhenti, mengerjap, seperti baru menyadari apa yang barusan ia ucapkan. Wajahnya berubah, seolah ingin menarik kembali kalimat itu ke dalam mulutnya.
"Maaf," gumamnya cepat. "Lupakan. "
Lestari tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di sisi Rama, membiarkan angin sore membawa bau tanah basah bercampur bunga yang mulai layu.
Lestari tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menyimpan kalimat itu, utuh, di tempat yang sama ia menyimpan hal-hal lain tentang Rama yang tidak pernah ia ungkit kembali kecuali benar-benar diperlukan.
"Nggak apa-apa," katanya saja, pelan, lalu meletakkan tangannya di bahu Rama.
Air mata jatuh tanpa suara apalagi isak. Getir itu menyala dalam hening. Hanya riuh yang bisa dia rasakan di dalam. Hatinya ingin meneriakkan banyak ketidakadilan ini, tapi apa Tuhan masih mau mendengarnya? Sepertinya tidak. Lihatlah, ujiannya sejak kecil hingga sekarang tidak berkurang.
Bahunya bergetar, matanya basah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membiarkan orang lain melihat retak jiwanya. Lestari tanpa suara dan kalimat menghibur apapun, hanya memegang pundak Rama, ingin menyuarakan, bahwa ada dirinya yang entah siapa ini untuk menemani. Mungkin tidak akan selamanya. Setidaknya, saat ini dia masih bisa ada di sini. Setidaknya, untuk saat ini, Rama bisa merebahkan kepala yang penuh riuh dengan pilu itu di bahu Lestari.
Kelulusan SMA yang disambut riuh oleh para siswa, tidak berlaku untuk Rama. Tak akan banyak yang berbeda dalam hidupnya. Dia tetap sepi, dan di sini. Bedanya, dulu dia bekerja di percetakan hanya malam hari, kini setelah lulus bisa penuh hari, dengan kenaikan gaji tentu.
Yang berbeda lagi, tentu tidak akan ada Tari yang rajin mengajaknya berbincang. Dia akan kuliah di Surabaya. Pramita, akan bekerja untuk mencari tabungan untuk biaya kuliah.
Tapi yang tidak pernah Rama sangka, dia yang selama ini hanya berani mengamati Pramita secara sembunyi-sembunyi di sekolah, kini bisa dekat dengannya, tanpa rencana.
“Ngapain kamu di situ?” tanya Pramita saat dia hendak masuk rumahnya dan Rama yang sedang lewat akan ke toko kecil membeli beras bertemu.
Rama mendekat tapi pada jarak aman dia berhenti.
“Nggak ada, cuma kebetulan lewat.”
Pramita cuma menggumam lalu hendak masuk. Tapi saat hendak menutup pintu, dia urung menutup pintu. “Ada yang bisa dibantu?”
Rama tidak menyangka Pramita mengajaknya berbicara. Rama tergagap sebentar, lalu menggeleng. “Nggak ada, tutup pintunya, kamu sendirian sekarang. Hati-hati.”
Pramita nampak bingung, tapi menurut dan segera menutup pintu. Itu keuntungan tinggal di kawasan padat dan rapat seperti ini. Info tentang gang sebelah mudah saja terdengar oleh Rama, meski tanpa perlu mencari tahu. Dia tahu Mas Cip, kakak satu-satunya Pramita baru menikah, dan mereka lalu pindah dari rumah itu. Tinggal Pramita sendirian di rumah kecil itu.
Lebih dulu Rama yang bekerja di percetakan. Jadi kalau ada yang menuduhnya bekerja di sini demi mendekati Pramita, dia akan mudah menyanggahnya. Rama bekerja sejak masih sekolah, sedang Pramita, baru menjadi honorer di kantor dinas kesehatan di seberang sana, mungkin jarak mereka hanya sekitar 200 meter, setelah lulus SMA. Kantor itu sering memesan formulir dan alat tulis dari tempat Rama bekerja.