Surabaya, Oktober 2012
Sesuatu terasa di pipi Rama, mungkin tisu, untuk mengusap air mata yang membanjir, dari kedua matanya yang masih tertutup. Angin terasa meniup lembut wajahnya. Sepertinya ada yang mengipasi. Tapi putus asa terlalu mendominasi hatinya, membuatnya enggan bahkan sekadar membuka mata.
Lagipula, memorinya kini sedang mendatanginya, membawakan senyum indah Pramita, hadir kembali mewarnai hidupnya. Dia berharap suara Tari kembali membawanya ke masa-masa indah saat itu. SMA. Dia pernah jatuh sedalam itu mencintai Pramita. Rasa buncahnya masih terasa. Wajah Pramita semakin jelas. Senyumnya, kelembutannya, ketegarannya. Dan semua keindahannya. Biarlah kalau perlu Rama tak ingin bangun lagi kalau dia bisa merasakan kenangan indah ini. Masa depan terlalu menyakitkan. Biarlah dia tinggal di masa lalu ini saja.
Malang, Awal 1984.
Pramita menungguinya pulang dengan wajah yang sulit disembunyikan, antara gembira dan gugup, dua hal yang tidak biasa muncul bersamaan di wajahnya. Begitu Rama melepas sepatu di depan pintu, ia menggandeng tangan Rama masuk, lalu menuntunnya untuk duduk.
Pramita menyusul duduk di sisinya. “Aku hamil.”
Hanya dua kata. Rama diam sesaat, mencoba memastikan ia tidak salah dengar. Matanya memindai Pramita, tidak nampak ada gurauan di sana. Mata Rama perlahan berbinar, tangannya bergerak meraih wajah Pramita, dan menciumnya lembut di dahi.
"Dan satu lagi," bisik Pramita melanjutkan, kali ini sedikit bimbang tergambar di wajahnya, "namaku masuk daftar CPNS."
Dua kabar itu datang bersamaan, dan untuk beberapa detik Rama tidak tahu harus bagaimana. Dia bahagia, itu pasti. Hanya sedikit rasa aneh dalam dadanya. Rasa rendah? Apa karena itu Pramita nampak sedikit bimbang saat menyampaikannya? Status mereka kini berbeda. Pramita lebih jelas kini masa depannya. Ia bersyukur, dan semoga ini jadi pacuan supaya dia bisa minimal mengimbangi Pramita, syukur-syukur bisa lebih, demi anak yang kini Pramita kandung.
Ia memeluk Pramita, lama, lebih lama dari biasanya, mencoba menyalurkan rasa nyaman dan tenang pada pujaan hatinya.
Rama tidak lembur di sudut ruang tamu seperti biasanya. Malam ini dia ingin menemani Pramita tidur lebih awal, demi kesehatan calon anak mereka.
"Kalau nanti anak kita laki-laki, siapa namanya?"
Rama berpikir sebentar. "Prama Agung Waradhana?"
Pramita tertawa kecil. "Indah. Kalau perempuan?"
"Rani Marita Indurasmi." Rama mengucapkannya pelan, seolah mengeja setiap suku katanya.
"Kamu sudah memikirkan ini sebelumnya?"
"Sejak tadi sore kamu memberiku kabar bahagia itu," Rama tersenyum melirik Pramita di sisinya.
Pramita bangkit, mengambil kertas dan menuliskan kedua nama itu. Rama tidak tahu kertas itu akan tersimpan, terlipat, terselip di antara barang-barang yang nantinya akan dianggap remeh, atau justru akan menjadi satu-satunya jejak dari malam ini yang tersisa.
Tiga hari kemudian, di pasar dekat percetakan, Rama melihat sebuah wajah yang membuat hatinya terasa mendadak remuk. Wajah itu pernah muncul di teras rumahnya di Tuban, bertahun lalu, berdiri di belakang seseorang yang datang menagih sesuatu yang tidak pernah benar-benar jelas berapa jumlahnya. Sekarang mereka berdiri di sebuah pasar kecil di Malang, mengobrol santai dengan penjual rokok dan sesekali pandangan mereka mengedar.