Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #17

Yang Hilang di Persimpangan

Surabaya, Oktober 2012

Suara-suara di sekitarnya makin samar, tertelan deru di kepalanya sejak entah kapan. Tapi memorinya tidak berhenti. Justru semakin deras, menyeret Rama lebih jauh ke malam yang sama, ke kegelapan yang ia kira sudah berakhir di sana.

 

Malang, 1984.

Sepanjang perjalanan, meski nyeri terasa di sekujur tubuh, Rama berpura-pura pingsan tapi berusaha menajamkan indera. Telinganya mencoba menangkap suara di sekitarnya, termasuk apa yang mereka rencanakan, dan akan ke mana mobil ini menuju.

Rama semakin waspada saat Colt Diesel itu berhenti di sebuah pos perhentian truk, lampu neon pucat menyinari beberapa kendaraan lain yang juga singgah. Suara obrolan, suara kopi dituang, suara seseorang menyalakan rokok, semua terdengar terlalu biasa untuk situasi yang ia alami.

Dua dari lima orang yang menculiknya turun, mungkin untuk makan atau sekadar meregangkan badan. Yang tersisa di dalam, mengawasinya sambil menguap, lalu ikut keluar sebentar untuk membeli rokok di warung sebelah, meninggalkan Rama sendirian dengan tangan yang masih terikat, agak kendur karena gerakan kendaraan sepanjang jalan.

Rama menilai situasi sejenak, tidak ingin banyak membuang waktu. Untuk pertama kali dalam hidup, dia tidak ingin menyerah begitu saja pada nasib. Ada Pramita dan calon anaknya. Sekuatnya dia akan berusaha kembali dan mengamankan mereka.

Ia tidak berpikir panjang. Dengan susah payah ia melepaskan ikatan tangannya, tak peduli darah mengucur karena gesekan tali dengan tangan.   Rama menabrakkan badannya ke pintu yang tertutup tidak sempurna. Ia  jatuh ke tanah berkerikil dengan tubuh yang sudah lemas karena banyak berdarah dan nyeri di mana-mana.

Seseorang berteriak, mungkin menyadari Rama kabur.  Rama berlari, tidak tahu ke arah mana, hanya tahu ia harus menjauh dari cahaya pos perhentian itu.

Suara letupan memecah sunyi.

Sepersekian detik, dunia di sekitarnya membeku. Yang muncul satu gambaran,  tangan seorang perempuan menariknya masuk ke bawah meja, cepat, kasar, tanpa sempat menjelaskan apa-apa, sementara suara di luar berdentum berkali-kali.

Lalu satu letupan lagi, dan gambar itu hilang secepat munculnya.

Lihat selengkapnya