“Sayang aku tidak ada di Malang saat itu, Mas. Mereka berdua ini, Pramita dan Rama saya kira sama-sama korban,” lirih Tari berucap. Tangannya secara rutin masih mengganti handuk basah untuk mengompres Rama.
“Sok tahu,” desis Cip.
“Mas, kalau Rama pelaku, mana mungkin dia mengemis minta bertemu saat ini? Kita tunggu penjelasannya. Jangan main hantam saja. Kalau dia ada cidera di kepala gimana?”
“Aku malah ingin dia sudah mati sejak lama saja. Susul saja Basuki.”
Tari mendecak kesal. “Mas Cip pernah tidak membayangkan ada di posisi Rama? Mendadak ditinggal sebatang kara di antah berantah. Mereka belum lama tinggal di Malang. Setibanya di Malang juga langsung sibuk banting tulang. Dan tiba-tiba saja Rama harus sendirian?”
Cip mendecak. “Dia laki-laki Tar. Bukan tempatnya untuk merengek. Dia sudah dewasa waktu itu.”
“Kalau Pramita yang mengalami, bisa Mas bilang seperti itu? Kamu sudah SMA Mit, sudah dewasa. Bisa?”
Cip terdengar mendengus. Rama sayup-sayup mendengar pembicaraan mereka. Matanya enggan membuka.
Malang, 1983
Hari-hari setelah kematian Basuki adalah hari-hari sunyi. Rama tidak datang ke sekolah selama hampir seminggu. Lestari yang datang ke rumah kontrakan kecilnya, membawa nasi bungkus, buku pelajaran, dan sekali-sekali makanan ringan.
Setelah beberapa hari berlalu, Rama kembali ke sekolah. Hidup tetap bergerak. Tugas-tugas tak pernah peduli pada siapa yang sedang kehilangan.
Seragam yang dikenakannya kini lebih longgar. Lingkar hitam di bawah matanya belum memudar. Ia duduk di bangkunya, menatap papan tulis tanpa benar-benar melihat apa pun.
Baru ketika sosok Pramita melintas di depannya, sorot mata itu sempat menyala. Hanya sesaat. Gadis itu tetap berjalan seperti biasa, tanpa sekali pun mencari keberadaan Rama di antara kerumunan.
Lestari tahu itu dan ia hanya ingin Rama tetap hidup, tetap berjalan. Dan jika harus menjadi penopang sementara agar Rama tak runtuh, ia rela. Lestari-lah yang kadang merayu Pramita untuk tidak ke perpustakaan tiap hari. Kadang ia memaksa Pramita duduk di halaman belakang sekolah, membaca buku di sana, hanya demi melihat mata Rama yang tak berkedip memandangi Pramita. Dan mata itu kembali tampak hidup. Itu cukup bagi Lestari.
***
“Gimana ini Mas? Apa kita bawa ke rumah sakit saja?”
Sayup suara Tari kembali masuk ke indera pendengaran Rama. Kesadarannya masih hilang dan timbul sekehendak sendiri. Rama tak kuasa mengaturnya.
Rama tak mendengar jawaban. Dia juga tak menyadari kalau sedari tadi dia menggumamkan lirih, nama Pramita Maheswari.
Bibirnya kadang juga menyunggingkan senyum, saat mengingat senyum Pramita yang hadir, lewat mimpi yang hadir saat ini. Entah mimpi, atau kilas balik kenangannya. Rama tak paham pasti. Hanya saja kali ini dia begitu menikmati tidur dan mimpinya.
“Ram, kamu itu idola sejak masuk ke SMA kita. Dan kamu dengan rasa mindermu membuat kesan seolah kamu itu cool dan unreachable.”
Rama terharu, lebih dari dua dekade, dan Tari tetaplah Tari. Dia yang akan bercerita apapun, panjang lebar, membiarkan Rama hanya menjadi pendengar yang baik.
“Kamu tak pernah percaya pada dirimu. Kamu nggak percaya akan ada yang menerimamu. Bahkan aku yang ingin menjadi sahabatmu saja tidak semudah itu bisa masuk dalam hidupmu.”
Terdengar suara tawa kecil Tari, mungkin mengenang bagaimana dulu awal mereka berkenalan, Tari bermonolog. Dia bercerita panjang lebar, dan Rama kadang hanya menyempatkan diri untuk meliriknya datar.
“Padahal aku tidak ada maksud mendekatimu seperti yang lain. Aku hanya ingin menjadi pembawa pesan untuk banyak kalimat yang ingin kamu rangkai, tapi kamu tidak percaya ada yang mau mendengarmu.”
Tari menghela napas panjang. Tangannya kembali mengganti kompres di dahi Rama. “Anak muda mengidolakanmu. Orang dewasa mencibirmu yang seakan tak punya masa depan. Padahal kamu sedang berjuang untuk dirimu sendiri agar bisa menerima kehancuran hatimu.”
Ada beberapa tetes air mata bergulir dari sudut mata Rama yang masih terpejam dengan bibir kebiruan dan wajah pucat. Tangan Tari mengusapnya lagi.
“Orang mungkin menertawakan kerapuhanmu, tapi tidak ada yang benar-benar ingin membantumu. Kebanyakan justru menghakimi. Sebagian lagi membanding-bandingkan beban mereka denganmu dan lalu menertawakan bahumu yang tak kuat menanggung bebanmu. Begitulah manusia. Maafkan mereka, ya?”
Tak masalah dengan Rama yang diam, Tari sudah biasa dengan diamnya Rama. Dia juga sudah biasa dengan sorot mata tajam dari seseorang yang sedari tadi mondar mandir di dekatnya itu. Kadang duduk, kadang berdiri dan melangkah gusar, lalu duduk lagi, belum lagi raut muka yang nampak marah dan penuh penghakiman itu.
“Kamu terlalu memanjakan Rama, Tar. Laki-laki memang harus tangguh. Rama terlalu cengeng. Itu kenapa aku tidak setuju dia dekat dengan Pramita dulu.”
Tari memutar mata jengah. “Mas, sampean jangan menyamakan kekuatan bahu tiap orang dong. Sampean sih enak, mau bawa beban ratusan kilo mungkin kuat, tapi bagi Rama, lima kilo mungkin sudah menyakitinya, karena dia punya luka sehingga sakit saat membawa beban sekecil itu.”
Laki-laki itu, tersenyum sinis. “Kamu lupa masa kecilku setragis apa? Aku harus jadi ayah, ibu, kakak, teman, dan saudara Pramita. Aku segalanya buatnya. Aku harus abai sama sakitku sendiri hanya demi kuat di depannya. Dan kamu masih menyalahkan aku dan mendukung laki-laki cengeng ini?”
“Mas mau perang kuat-kuatan angkat beban ceritanya? Pilih lawan yang sepadan, Mas. Rama bukan lawan Mas. Rama itu bukan lemah. Dia cuma udah bawa beban dari sebelum sampean kenal dia. Sampean kuat angkat seratus kilo karena sampean start dari nol. Rama start dari minus lima puluh. Ya jelas lima kilo aja udah bikin dia limbung."”
Mungkin suara Tari dan Cip lama-lama semakin meninggi meski mereka berusaha meredamnya, sehingga seseorang dari dalam masjid memilih beranjak mendekat ke arah kamar mereka.
“Semua sudah makan malam?” tanyanya perlahan. Tari dan Cip menoleh dan serentak menggeleng.
“Maturnuwun Pak. Kami kenyang.” Tari yang menjawab segera karena melihat Cip yang mukanya masih nampak penuh amarah. “Kenyang makan umpatan,” sindir Tari perlahan.
Laki-laki itu memilih menyingkir kembali. Tapi setidaknya suara mereka berdua mulai mereda.
“Kamu punya andil dalam kekacauan hidup Pramita, Tar,” desis Cip.
Tari tersenyum kecut. Beginilah Cip yang dia kenal. Kakak kandung satu-satunya dari Pramita, sahabat SMA-nya ini terlalu dipaksa dewasa sejak kecil, sehingga setelah dewasa kadang dia kekanakan.
Tari diam sebentar, matanya beralih ke arah Rama yang masih terbaring dengan mata tertutup, napasnya mulai teratur.
"Mas Cip," katanya, lebih pelan dari nada bicaranya biasanya. "Semalam, waktu Mas Cip narik kerah Rama sebelum mukul dia, Mas Cip perhatikan nggak, dia langsung diam total? Nggak berontak, nggak ngelak, matanya kosong?"
Cip terdiam, tidak langsung menjawab.