Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #19

Hanya Hak Untuk Dikenang

Surabaya, Oktober 2012


           Menjelang tengah hari, Rama sudah jauh lebih tenang. Wajahnya masih pucat, tetapi demamnya mulai turun. Ia sudah mampu duduk lebih lama, dan beberapa suap makanan akhirnya berhasil ia telan.

Tari menerima telepon di dekat Rama, sepertinya tentang pekerjaan, bahwa dia minta waktu sampai lusa.

“Pergi Tar, kamu sibuk.”

Tari menyimpan ponselnya di tas lalu menggeleng. “Santai. Surabaya Denpasar sejam aja.”

“Aku akan baik-baik saja, Tar. Terima kasih banyak sudah banyak membantu, mulai dari masa muda kita sampai saat ini.”

           Tari menatap Rama lama. Baik-baik saja? Wajah itu masih pucat, matanya cekung, bahkan duduk tegak pun belum sepenuhnya kuat. Tapi di satu sisi, Tari memang harus segera kembali ke Bali. Pekerjaan menantinya.

           “Mas Cip nggak kerja? Ini Senin,” alih Tari. Bukan niat mengusir, tapi meninggalkan Cip dan Rama hanya berdua, itu seperti mempertemukan avtur dan api, yang akan segera melalap avtur hingga tak bersisa, selain kenangan. Yang namanya Pak Rajendra kemarin, sudah tidak ada, sepertinya sudah pergi setelah jamaah subuh. Tidak ada penengah lagi di antara mereka.

           “Masih cukup nih waktu otw ke Malang Mas,” lanjut Tari.

           Cip bergeming. Dia paham kekuatiran Tari. Tapi dia sudah ijin baru saja untuk tidak masuk kerja hari ini. Urusan Rama yang dia nanti puluhan tahun, kini ada di depan mata, mana mudah dia meninggalkannya.

           Mata Rama tak lagi sibuk mencari sesuatu seperti semalam. Kilatan harapan yang sempat menyala ketika kenangan mulai kembali kini padam perlahan. Jawaban yang ia cari ternyata justru menghapus alasan untuk berharap.

           “Mau disuapin lagi Ram?”

           Rama tertawa perlahan meski ekspresinya masih dominan hampa.

           “Makan Ram, lalu pulanglah ke rumah barumu. Ke anak istrimu yang menerimamu apa adanya. Relakan Pramita dan Marita. Biarkan mereka dalam hidup mereka saat ini.”

Rama kembali terdiam, kepalanya menunduk lagi. Tari memandanginya sendu. “Kamu sudah ditolak mentah-mentah tanpa peduli sebab kenapa kamu sampai harus meninggalkan mereka. Lemahnya, kamu tidak ada bukti apapun. Jadi buat apa repot-repot menjelaskan? Mereka akan tetap menolak dan memakimu. Ah tidak. Pramita bukan tipe seperti itu. Pramita perempuan hebat, Ram. Sedikitpun dia tidak pernah mendidik Marita tentang kebencian. Tapi aku terus terang heran kenapa Marita nampak demikian membencimu.”

           “Apa kamu mau bilang, aku yang menghasut Marita?” Cip menyambar. Tari berbalik ke arah Cip di belakangnya.

           “Wah, kenapa bisa punya pikiran seperti itu Mas? Aku saja nggak berpikir ke sana.”

           Kondisi berbalik, sepertinya Rama yang harus jadi penengah antara dua orang ini.

           Suara azan memecah perdebatan. Cip pergi ke arah masjid, dan Tari dengan kesadaran penuh, memutuskan memundurkan jadwal pesawatnya ke Bali. Cip enggan pergi, jadi Tari tak tega meninggalkan mereka hanya berdua.

           “Kamu tahu Ram,” bisik Tari supaya tidak terdengar orang yang sedang berlalu lalang menuju masjid untuk jamaah duhur. “Kemarin siang, Mas Cip meneleponku. Dia bilang, dia menemukanmu. Dia melihatmu di depan rumah sakit tempat Marita bekerja. Aku langsung mencari tiket ke Surabaya.”

           Rama hanya memandang Tari, seperti biasa menikmati semua ocehan Tari. “Dia mengikutimu, kami sering teleponan. Dia bilang kamu naik bus dari Malang menuju Surabaya, dan dia ikut naik dengan menjaga jarak. Dan setiap kamu pindah bus, dia ikut. Segitu effort-nya.”

           Tari tersenyum kecut. “Aku sampai Surabaya sore, dan lalu bingung. Surabaya luas, aku harus ke mana? Lalu Mas Cip bilang ke sini. Apa kamu sengaja ke sini? Atau semesta yang mengarahkanmu?”

           Rama tersenyum pahit. “Yang kedua,” jawabnya singkat.

Tari mengangguk dengan tersenyum lebar. “Untung saja kamu berada di tempat yang tepat.”

           Pandangan Tari mengedar ke luar ruangan. “Aku juga alumni tempat ini.” Tari terkekeh. Lalu berpamitan pada Rama untuk ikut jamaah duhur.

           Alumni? Apa maksudnya? Rama sedang malas menerka, ia memilih beranjak, dan salat di dalam ruangan. Kepalanya masih belum terlalu bisa diajak kompromi. Jalan saja masih belum tegak. Bahkan setelah salat, dia duduk bersandar di atas sajadah, tertidur hingga sore hari tanpa berubah posisi sama sekali.

“Kalian berdua jangan ribut, aku mau telepon Marita.” Rama tak perlu menoleh untuk melihat siapa yang masuk ruangannya barusan. Pasti Tari dan Mas Cip. Mungkin Tari lupa, bahwa sampai sesore ini, Rama dan Cip belum bertengkar. Mata Rama mengedar mencari petunjuk waktu, dan terkejut melihat sudah hampir jam 16. Ia kira baru jam 14. Rama ragu, dia sebenarnya tertidur atau pingsan?

           Tari menggunakan pengeras suara di telepon genggamnya. “Assalammualaikum cantik,” sapanya riang, seperti Tari yang Rama kenal sejak SMA, tidak menampakkan hatinya pernah hancur lebur.

           [Waalaikumsalam, MaTar,]

           “Lagi ngapain?”

           [Lagi ambil libur MaTar, lagi jalan-jalan nih ngopi santai.]

“Wah kemajuan, punya kata santai sekarang rupanya,”

           Terdengar gelak tawa di seberang sana.

           [Ada apa Matar?]

Lihat selengkapnya