Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #20

Mendamaikan Dua Hati.

Surabaya, Oktober 2012.

Tari menatap pemandangan pagi ini dengan senyum lebar meski hatinya masih sedikit resah. Rama mengantar Tari dan Cip pagi ini keluar dari rumah singgah para pencari. Tari akan segera menuju bandara dan kembali ke Bali. Cip, pagi ini juga akan kembali ke Malang.

“Tuhan luar biasa mengatur pertemuan ini. Ini sudah dinanti puluhan tahun, Ram.”

Rama hanya menyambut dengan anggukan kepala dan senyum tipis. Tangannya terulur ke arah Cip, dan dengan dua tangan dia mencium punggung tangan Cip dengan takzim, sama seperti ketika ia menikahi Pramita dulu. Dia dulu menghormati Cip sepenuhnya, kinipun sama. Entah, apa arti ini semua, tapi yang Rama tahu, dia tetap menganggap Cip sebagai kakak.

Cip tidak menolaknya. Wajahnya memang masih dingin, tapi seingat Rama, begitulah Cip setiap kali berhadapan dengannya. Bahkan ketika diam-diam mengkhawatirkan keadaannya dulu, lelaki itu tak pernah memperlihatkannya.

“Jaga kesehatan, Mas. Maafkan saya atas semuanya. Maafkan juga kalau saya akan sering menelepon Mas.”

Cip masih mematung, dan Rama tak masalah dengan itu. Kali ini dia memandang Tari. “Hati-hati di jalan. Terima kasih banyak untuk semuanya. Kamu sahabat paling tulus yang pernah kukenal.”

Tari mengangguk singkat lalu menggenggam tangan Rama singkat saja, seolah berusaha menguatkan Rama dan meyakinkannya, ini sudah terbaik untuk mereka semua.

Tari berangkat terlebih dahulu. Taksi sudah datang, dan Cip masih mematung di depan taksi berikutnya yang ia pesan menuju terminal Bungurasih.

“Hati-hati di jalan, Mas,” ucap Rama lirih. Ada sesuatu yang ikut beranjak bersama langkah Cip. Ia berdiri sampai taksi itu menghilang di tikungan. Rama tak pernah tahu, air mata Cip jatuh setelah Rama tak nampak lagi olehnya.

                                               ***

Lihat selengkapnya