Setelah jamaah subuh bubar, Rama berjalan sendirian berkeliling sekitar rumah singgah. Matanya menemukan satu titik yang menarik, taman kecil di balik kamar yang ia tempati.
Kursi taman sederhana masih lembap oleh embun pagi, tapi Rama tak peduli. Ia duduk menikmati perubahan warna langit dari gelap hingga menjadi keemasan. Tanpa memikirkan apapun. Hanya berupaya menikmati semua momen di depannya.
“Biasa ngopi?” sapa seseorang. Di tangannya ada dua cangkir kopi yang baunya membuat Rama segera mengiyakan. Tak lupa mengucap terima kasih. Laki-laki tadi sudah beranjak pergi lagi, sepertinya membagikan kopi pada jamaah lain yang masih ada.
“Gimana Surabaya?” Suara lain lagi yang menyapa telinga Rama. Dia menoleh, kali ini seseorang yang bernama Rajendra itu yang mendekat. Senyumnya ramah dan hangat. Dia lalu minta izin duduk di sebelah Rama.
“Saya biasanya kalau ke Surabaya hanya ke lokasi survey, lalu hotel. Baru kali ini saya ke Surabaya bukan urusan pekerjaan. Dan ternyata, nyaman.”
Rajendra tersenyum lalu meminum kopinya seteguk. “Syukurlah, Pak.”
Rama memutar sebagian badannya ke arah Rajendra. “Pak, siapa pendiri rumah ini?”
Rajendra mengernyit. “Kenapa memangnya, Pak?”
Rama menggeleng singkat. “Nggak apa-apa, Pak. Hanya membayangkan, betapa banyak tabungan kebaikannya. Saya dengar tempat ini sering menampung orang-orang seperti saya.”
Rajendra mengangguk singkat lalu memangku kedua tangannya yang menggenggam cangkir kopi.
“Entah ada berapa banyak alumninya.” Lalu Rajendra terkekeh. “Tempat ini, padahal biasa saja. Tidak megah, tidak mewah, tidak terlalu luas, tapi entah kenapa, berada di sini membuat hati, yang jadi luas.”
Rama mengangguk, setuju sepenuhnya. Dia tiba dalam keadaan hati yang sempit dan sesak luar biasa. Kini, perasaannya sudah mulai bisa agak luang. “Saya kira Anda yang punya,” tebak Rama, disambut kekehan Rajendra.
“Saya cuma salah satu alumni.”
Rama tak menyangka. Sosok di depannya yang teduh dan berkharisma ternyata salah satu alumni? Pantasnya malah menjadi penyembuh.
“Berapa lama Anda perlu waktu untuk sembuh, Pak?”
Rajendra menerawang. “Lupa pastinya, Pak. Saya dua kali ke sini dalam keadaan hancur.”
“Tapi bisa sembuh total kan dari semua luka Pak?”
Rajendra tersenyum tipis. “Sembuh, bukan berarti lupa ya Pak.”
Rama mematung, dalam hati ia tidak akan meminta untuk lupa lagi.