Kereta malam dari Surabaya menuju Jakarta bergerak lambat melewati sawah-sawah yang sudah gelap. Rama duduk di dekat jendela, keningnya nyaris menyentuh kaca yang berembun oleh napasnya sendiri. Beberapa kali ia mengusapnya dengan lengan baju, lalu membiarkannya berembun lagi.
Baru kali ini ia pulang ke Karawang tanpa oleh-oleh untuk Dewi, Sekar dan Pak Rahmat. Ia tersadar sudah terlalu lama ia tinggal di Surabaya melebihi janji, dan langsung bergegas pulang. Tak ingin membuang sedikit waktu untuk mencari oleh-oleh.
Sepanjang perjalanan Surabaya-Jakarta, ia tidak memikirkan Pramita seperti biasanya. Bukan karena sudah usai. Ia tahu betul tentang mereka belum selesai, dan mungkin tidak akan pernah selesai dalam artian yang biasa dipakai orang. Tapi pikirannya untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun terakhir, lebih banyak berputar pada wajah-wajah lain. Dewi, berdiri di ambang pintu, menghitung berapa lama lagi ia harus menunggu tanpa tahu harus menunggu apa.
Rama mencoba membayangkan apa yang akan ia katakan. Setiap kalimat yang tersusun dalam kepalanya terasa seperti permintaan maaf yang sudah terlalu sering ia ucapkan, pada terlalu banyak orang, dalam terlalu banyak bentuk, sampai ia sendiri curiga kata-katanya sudah kehilangan bobot.
Rama membuka buku catatan kerja yang baru, yang selalu ia bawa meski kini nyaris kosong. Ia menulis satu kalimat, lalu mencoretnya. Menulis lagi, mencoret lagi. Tak ada kalimat yang salah. Kali ini ia sadar, bukan kata-kata yang paling dibutuhkan Dewi.
Ia menutup buku itu dan menatap sawah di luar, hitam pekat kecuali di titik-titik rumah yang masih menyalakan lampu.
Kereta berhenti di Jakarta saat subuh. Ia lanjut naik bus ke Karawang, duduk di kursi paling belakang, memilih tidak tidur meski matanya berat. Ia ingin sampai dalam keadaan sadar penuh, bukan dalam keadaan setengah mimpi seperti biasanya ia pulang dari perjalanan dinas.
Tidak seperti biasanya di mana staf kantor akan menjemputnya di Jakarta, kali ini Rama memilih menikmati perjalanannya seorang diri.
Ia melihat pintu toko dari kejauhan. Ojek yang ia tumpangi lalu menurunkannya tepat di depan halaman rumah. Dewi sedang menyapu halaman depan saat berjalan masuk halaman.
Sapu di tangan Dewi berhenti bergerak. Rama berjalan mendekat, kali ini lebih cepat. Ia sudah menyiapkan entah berapa kalimat sepanjang perjalanan, tapi begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, semua kalimat itu menghilang begitu saja.
Dewi tidak mendekat. Ia berdiri di tempatnya, sapu masih di tangan, menatap Rama dari ujung rambut sampai sepatu. Melihat samar memar tipis yang belum sepenuhnya hilang di pipi, baju yang bahkan bukan baju yang ia bawa saat berangkat, wajah yang lebih kurus dari biasanya.
"Empat hari, a." Suaranya datar. "Dewi telepon kantor, mereka bilang cuti aa sudah habis dari kemarin lusa."
Rama diam di depannya. Tidak ada yang bisa ia katakan yang tidak terdengar seperti alasan.