Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #23

Tentang Damai Dalam Diri

“Hati manusia itu seperti rumah, Ram.”

Tiba-tiba saja Pak Rahmat mengucapkan itu, saat Rama memakai sepatunya hendak berangkat kerja. Sekar sudah berangkat lebih dulu, bersama teman-temannya.

“Gimana maksudnya, Pak?”

Pak Rahmat masih serius membaca koran di teras depan. “Kadang terlalu kecil untuk menampung beberapa luka dan beberapa kenangan. Tapi juga terlalu besar untuk dikosongkan oleh satu kehilangan. Maka yang bisa kau lakukan sekarang satu: berdamai.”

Rama tertegun. “Berdamai?” gumamnya. “Saya berperang melawan siapa?”

 “Bukan dengan orang lain. Tapi dengan dirimu sendiri. Dengan Impian dan harapanmu.”

Rama tertegun. Impian? Harapan?

“Karena sebelum kita kembali pada siapa pun, kita harus pulang ke diri kita sendiri dulu. Menerima segala buruk dan bodohnya kita, di masa yang sudah berlalu.”

Rama tak menjawab maupun menyanggah. Ia bingung, tumben mertuanya itu bicara dengan bahasa filosofis begini?

“Ini, kamu baca sendiri.” Pak Rahmat terkekeh, dan menyodorkan koran yang ia baca. Rama menerimanya, dan ternyata yang Pak Rahmat ucapkan tadi adalah rubrik puisi di sudut bawah kiri.

Rama menahan senyum. Beginilah mertuanya yang dia kenal selama ini, selalu penuh kejutan. Bisa-bisanya mengerjai Rama di pagi hari begini.

Tidak usah berlari.

Lihat selengkapnya