Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #24

Hawu, dan Kamu

“Sejak kapan tumpukan kayu yang sedang dibakar nampak seindah itu, a?”

Rama tersadar dari lamunannya. Dewi nampak mengulum senyum di sisinya. Dia duduk, ikut bersila di depan hawu. Beginilah Dewi sejak dulu. Di manapun, dia tidak berkeberatan menemani. Seperti kali ini, duduk di lantai semen di depan hawu, tak masalah bagi Dewi. Dia yang tidak pernah mesra berlebihan, tidak menuntut romantisme yang memuakkan. Tapi cukup ada, seketika Rama merasa cukup.

Rama meraih bahu Dewi dan menghilangkan jarak di antara mereka. Dewi tak mengelak. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Rama.

“Neng, di antara semua kepahitan yang pernah aku alami, aku menyadari, betul-betul menyadari bahwa Ia tidak pernah meninggalkanku. Salah satunya adalah dengan kehadiran Neng menemani si rapuh ini.”

Dewi mengelus punggung tangan kanan Rama perlahan.

“Bayangkan Neng, kalau Ia tidak mengirimkan malaikat untuk menolongku melalui Bapak dan Neng, apa jadinya aku?”

Dewi tak merespons dengan kalimat. Jemarinya ia tautkan ke jemari Rama, seakan dari sana ia bisa menularkan semangat. Dan memang iya. Rama tersenyum merasakannya.

“Aa sungguh tak masalah lagi dengan penolakan Pramita dan Marita?”

Rama tersenyum tipis. Matanya masih fokus memandang percikan api di hawu di depannya. “Awalnya berat, Neng. Tapi aku mencoba melihat dari sudut pandang Marita.”

Rama balas menggenggam lembut tangan Dewi. “Aku tidak tahu seberat apa masa lalu mereka karena kutinggalkan, dan betapa mereka berupaya melaluinya sekuat tenaga dan merelakan kepergianku.”

Rama menoleh ke arah Dewi di sisinya. “Kalau aku datang, mungkin benar akan membuat luka lama itu terkoyak dan menghadirkan sakit kembali.”

Dewi mengangkat kepalanya dari bahu Rama. “Tiap orang punya pandangan berbeda ya a.”

Ia menoleh ke arah Rama yang juga sedang memandangnya. “Kalau Dewi jadi mereka, tak masalah bertemu. Membiarkan aa menjelaskan semuanya, meski keadaan tidak akan berubah hanya karena penjelasan aa.”

Dewi menghalau abu yang tertiup angin lembut ke arah mereka dengan satu tangannya yang masih bebas. “Tapi setidaknya, kita sama-sama tahu dan tak mengapa meski kita harus merelakan yang sudah berlalu dan melanjutkan hidup kita masing-masing.”

Rama mengangguk, perlahan kembali memandang lurus ke arah hawu. Pramita mungkin akan bersikap seperti Dewi kalau mengingat sifatnya. Tapi tidak sama dengan Marita.

“Marita yang terlihat sangat keras, Neng. Mungkin kehidupan yang membentuknya menjadi seperti itu. Pramita mungkin tidak mengajarkan kebencian. Tapi entahlah Neng, waktu bisa merubah banyak hal bukan?”

Dewi terasa mengangguk di bahu Rama.

“Terima kasih sudah menerimaku yang seperti ini, Neng. Maafkan kekacauanku dulu. Sekarang, aku janji akan berusaha menjadi ayah dan suami yang utuh untuk kalian.”

“Kamu menantu yang baik kok Ram.”

Rama dan Dewi tidak perlu menoleh. Pasti Pak Rahmat yang bicara. Dia lalu terkekeh sendiri dan kembali berlalu. Langkah kakinya tergesa masuk dan tergesa keluar. Sepertinya hanya mengambil gelas lalu bergegas berangkat ke sawah.

Rama dan Dewi tertawa kecil. Orang tua satu itu selalu penuh kejutan. Bahkan, dia dekat sekali dengan Sekar. Berusaha menyesuaikan dengan gaya Sekar seolah dia teman seumurannya.

“Dewi percaya itu, a. Teruji. Apalagi setelah aa pulang dari Surabaya yang terakhir itu. Seperti melihat pribadi baru. Sorot mata aa jauh lebih tenang. Seakan segalanya sudah ‘usai’. Ah gimana ya njelasinnya, tapi aa berubah kok.”

Rama tersenyum lebar. “Iya, Neng. Maaf waktu itu sempat hilang dari radar beberapa hari ya.”

Dewi tertawa pelan. Siapa juga yang tidak panik suaminya menghilang tanpa bisa dihubungi, secara mendadak.

“Kalau suatu hari Neng Marita menerima semuanya… hati Aa akan bagaimana?” tanya Dewi, kali ini sambil mengamati mata Rama yang masih asyik memandang kayu bakar di depannya.

Rama tersenyum tipis. Dia membalas tatapan Dewi, meski sekilas sebelum kembali asyik menatap hawu. “Dulu aku mengejar yang hilang karena merasa di sanalah rumahku.”

Rama melepaskan jemari Dewi perlahan, lalu tangannya sibuk membalik ubi dalam hawu dengan penjepit. “Tapi setelah semua perjalanan ini, aku sadar. Rumah bukan sekadar siapa yang ada di sampingku, tapi siapa yang menenun luka dan sabarku setiap hari. Kamu, Neng.”

Rama memandang Dewi dalam-dalam. “Pramita adalah bagian dari masa laluku. Tapi kamu bagian dari jiwaku dan perjalanan jiwaku, hingga hari ini.”

Air mata menggenang di kedua mata jernih Dewi. Mata yang seringkali menghibur Rama dengan sorot mata usil sedari dulu itu, kali ini menatap Rama syahdu.

“Maaf tidak selalu berarti kita kembali ke tempat yang sama, Neng. Maaf itu seperti hujan, datang untuk membersihkan, bukan untuk membawa kita mundur.”

Rama meraih jemari Dewi, menggenggamnya lembut. Ingin meresapi kenyataan ini. Tangan ini, senyum ini, sungguh-sungguh nyata.

“Kalau Pramita memaafkan, itu cahaya. Tapi aku tidak ingin melangkah ke belakang hanya karena cahaya itu datang dari sana. Hidupku sekarang sudah berpijak di sini. Bersama kamu, dan Sekar yang usil seperti kakeknya.”

Tawa Dewi terdengar sedikit keras kali ini. Iya, Pak Rahmat dan kejahilannya sudah satu paket.

“Kamu Neng, yang bertahan ketika aku bukan siapa-siapa, bahkan untuk diriku sendiri.”

Tawa Dewi mereda, kembali syahdu menatap Rama. Dewi diam mendengarkan, sesekali matanya mengamati seluruh wajah Rama. Matanya, alisnya, kulit putihnya.

“Cinta bukan soal siapa yang datang lebih dulu Neng, tapi siapa yang tetap memilih membersamai kita saat semua orang mungkin memilih pergi, atau melupakan.”

Dewi menautkan jemarinya ke jemari Rama. Merasakan kehangatan dari tangan Rama. Seseorang yang mungkin tidak romantis karena masa lalunya yang pahit dan menghajarnya berulang kali. Tapi dia setia, tulus dan mencintai mereka. Itu sangat cukup.

“Kalaupun aku diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, aku tetap akan memilih jalan ini. Karena setelah aneka kepahitan itu, aku menemukan diriku dan tujuanku hadir di dunia ini, Neng.”

Senyum haru terbit di bibir Dewi.

“Aku juga tak ingin kembali untuk menebus sesuatu yang sebenarnya sudah Tuhan ubah jalannya.”

Air mata yang sedari tadi berusaha Dewi tahan akhirnya lolos juga meski hanya setetes. Rama menyekanya dengan jari tangannya, lembut.

Dewi memandangnya dengan tatapan haru. Rama membalasnya dengan kecupan hangat di bibir Dewi. Ciuman itu terasa hangat, dan tulus. Dewi memejamkan mata dan setetes air mata masih sempat bergulir kembali. Tapi ini hanya air mata haru. Tak sia-sia dia membersamai perjalanan laki-laki yang babak belur oleh hidup ini, sejak kecil.

“Aduh mata aing!”

Seketika Rama dan Dewi melepas ciuman mereka dan menoleh ke arah pintu. Imas, yang bekerja di toko mereka masuk dan sepertinya dia tidak menduga ada adegan demikian. Dia nampak panik dan salah tingkah.

“Maaf Pak, Bu, nggak sengaja, mau ke kamar mandi abdi teh,” ujarnya sambil tetap menutup mata dengan kedua tangannya. Dewi terbahak dan Rama membantu Dewi berdiri.

“Bisa jatuh kamu ke kamar mandi pakai tutup mata, Imas. Sok buka mata,” ucap Dewi geli sambil berdiri tertatih. Kakinya sedikit kesemutan setelah duduk agak lama barusan.

Imas menurut dan berlari kecil ke belakang, ke arah kamar mandi. Dewi masih tertawa sambil menatap Rama di depannya. Rama memeluknya hangat, dan mengecup keningnya sebentar.

“Takut ada yang intip, Neng,” bisiknya lembut. Dewi kembali tergelak, lalu berpamitan akan menyapu halaman depan rumah. Rama mengangguk, lalu kembali sibuk dengan ubi yang ia taruh dalam abu panas dalam hawu.

Rasanya belum terlalu lama Rama membolak balik ubi dan hendak menggantinya dengan pisang, saat Dewi tergopoh masuk.

“A, ada tamu,”

Lihat selengkapnya