Lelaki Yang Dibawa Hujan

Wulan Kashi Dhamar
Chapter #25

Epilog

Ada rumah yang berdiri dari bata dan semen. Ada juga rumah yang berdiri dari luka yang dipilih untuk tidak dijadikan reruntuhan.

Rama akhirnya pulang ke salah satu dari keduanya. Tapi kisah ini, kisah tentang lelaki yang dibawa hujan, yang kehilangan namanya sebelum kehilangan hatinya hanyalah satu jendela dari rumah besar yang dihuni lebih banyak orang daripada yang pernah ia sadari.

Di jendela lain, ada seorang perempuan bernama Pramita, yang tidak pernah benar-benar muncul di halaman-halaman ini kecuali lewat bayangan, kenangan, dan luka yang diceritakan orang lain tentang dirinya. Itu bukan kealpaan. Itu keputusan. Karena ada duka yang terlalu dalam untuk dipinjam sudut pandangnya oleh siapa pun selain pemiliknya sendiri. Perempuan di Ambang Titian adalah rumah itu. Rumah yang berdiri di titian sempit antara bertahan dan menyerah, antara mengenang dan melupakan, tempat Pramita akhirnya diberi ruang untuk bersuara dengan bahasanya sendiri, bukan bahasa yang dipinjamkan orang-orang di sekitarnya.

Di jendela lain lagi, ada Marita, yang di buku ini hanya sempat kita kenal sebagai luka yang mengeras jadi amarah, lalu amarah yang perlahan belajar melunak. Tapi kekerasan bukan seluruh dirinya, sebagaimana ombak bukan mewakili seluruh laut. Ananta Rasa membuka pintu ke ruang yang tidak pernah kita masuki di sini. Ruang tempat Marita berhenti jadi anak yang ditinggalkan, dan mulai jadi perempuan yang memilih.

Lihat selengkapnya