Lelaki yang Menggenggam Janji

Raihan Langit
Chapter #1

Bab 1 : Ranting yang Patah

Hari itu, dunia seolah kehilangan seluruh warnanya, menyisakan rentetan peristiwa yang bergerak lambat dalam dekap keheningan yang pekat.

Aina Munaroh lulus sekolah dan ia senang bukan main, sedangkan aku yang melihat senyumnya yang merekah itu, justru merasa sedih dengan cara yang tidak bisa kujelaskan.

Senyumnya adalah sekuntum bunga yang mekar di musim yang salah; ia begitu indah, namun kelopaknya seakan menggugurkan seluruh kebahagiaan dari dalam dadaku.

Ada rasa ngilu yang menyusup diam-diam, sebuah firasat buruk yang mengetuk pintu hati tanpa permisi.

Aku menyadari, kebahagiaannya hari ini adalah dentang lonceng pembuka bagi kesunyian panjang yang akan segera melahapku.

Aina Munaroh akan pergi kuliah, dan di sudut hatiku yang paling gelap ada sebuah kecemasan yang terpahat perlahan-lahan, seakan sebuah jurang tiba-tiba telah tercipta dan membentang di antara kami. Langkah kakiku tertahan di sini, tanpa bisa ikut ke mana ia pergi.

Di sinilah aku, terkunci pada tanah yang sama, menjadi penunggu rindu yang malang sementara mimpinya telah mengepakkan sayap untuk terbang jauh semakin tinggi.

Setiap kali ia berbicara tentang masa depan, aku mendengar detak jam dinding yang menghitung mundur sisa waktu kebersamaan kami.

Aku menjadi bayang-bayang yang tertinggal, meratapi matahari yang bersiap terbit di belahan bumi yang lain.

***

Hari yang paling kutakutkan itu akhirnya tiba.

Sore itu terminal seolah-olah sedang menahan napasnya sendiri, suara bising mesin bus yang meraung dan teriakan kenek yang bersahutan tenggelam begitu saja oleh gemuruh sepi yang mendesak di antara kami berdua.

Kami berjalan bersisian tanpa sepatah kata pun, membiarkan jarak beberapa senti di antara lengan kami terasa seperti jurang yang tak mampu kami seberangi, karena kami tahu bahwa setelah jurang bernama ruang dan waktu itu tercipta, maka perpisahan akan benar-benar terjadi.

Lihat selengkapnya