Lelaki yang Menggenggam Janji

Raihan Langit
Chapter #2

Bab 2 : Tarian Kesedihan di Atas Tanah Yang Kering

Dengan rasa lelah yang aneh dan langkah yang diseret, aku memasuki kantor keesokan harinya. Ruangan itu terasa asing, seperti sebuah ruang tunggu bagi nasib buruk yang sedang mengantre untuk dijatuhkan.

Pak Wawan pimpinanku tampak sibuk di mejanya dengan seseorang yang sedang meneleponnya; wajahnya terlihat tertekan, menanggung beban yang tampaknya enggan ia bagi.

Ruangan itu sendiri terasa begitu lengang, seolah-olah waktu sengaja memperlambat detaknya, hanya menyisakan getaran rendah dari mesin pendingin ruangan yang berbisik konstan di sudut dinding—sebuah dengung sepi yang justru mempertegas kesunyian di dalam dadaku.

Melihat kedatanganku, Pak Wawan segera menutup sambungan teleponnya, dan suara klik gagang telepon yang diletakkan itu terdengar begitu nyaring, memecah udara dan bergema di tengah keheningan yang mendadak membeku di antara kami.

"Pan, sini sebentar," katanya lembut dengan suara yang rendah dan nyaris tenggelam oleh kesunyian ruangan. Suaranya terdengar seperti sebuah bisikan kepasrahan, seolah ia tahu bahwa kata-kata yang akan diucapkannya hanya akan menambah luka baru pada jiwa yang sudah telanjur lebam.

Aku mendekat ke meja kerjanya dengan langkah kaki yang terseret berat di atas lantai keramik yang dingin. Setiap jengkal jarak yang kutempuh terasa seperti beban tak terukur yang harus kupikul sendirian.

"Pimpinan cabang baru saja menghubungiku, beliau memerintahkanmu untuk bergabung ke PLN Unit di Kecamatan Telabang, sebagai Operator Mesin Pembangkit Listrik," ucapnya.

Kata-kata itu mengambang di udara, berputar-putar seperti daun kering yang luruh satu demi satu tanpa mampu meruntuhkan dinding lamunanku yang masih penuh.

Kalimat Pak Wawan seolah membentur dinding kaca yang tebal, karena aku hampir tidak mendengarnya sama sekali.

Pikiranku masih tertinggal di peron terminal yang berdebu, masih dipenuhi oleh kecupan di pipi yang terasa indah namun meninggalkan nyeri yang begitu hebat.

Kehangatan yang tersisa dari kecupan bibir Aina terasa begitu kontras dengan hawa dingin yang perlahan-lahan mengepung tempatku berdiri sekarang.

Lihat selengkapnya