Tiga hari kemudian, aku menemukan diriku terombang-ambing di atas jalanan tanah yang membelah pedalaman.
Perjalanan menuju Kecamatan Telabang terasa seperti sebuah upacara pelepasan yang panjang; jalanan berlubang dan berdebu seolah sengaja mengocok isi dadaku yang memang sudah remuk.
Di kanan-kiri, kebun karet dan hutan belantara berdiri bisu seperti barisan pelayat yang mengantarkan kepergianku menuju pengasingan. Semakin jauh kendaraan merayap ke dalam pelukan kehijauan yang pekat, semakin terasa asing pula udara yang kuhirup.
Aku, Panji, sedang menuju ke tempat di mana riuh kota tidak lagi terdengar, sebuah tempat yang tampaknya sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin pergi menunggu sambil mencintai kenangan.
Matahari mulai condong ke barat ketika angkutan tua ini akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan tua berdinding papan yang kusam, dengan papan nama yang mulai mengelupas: PLN Unit Listrik Desa Telabang.
Di sinilah takdir baruku ditambatkan.
Aku melangkah turun, disambut oleh seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan rambut yang mulai memutih di ujung-ujungnya. Wajahnya yang dihiasi guratan-guratan usia langsung melembut begitu melihatku menyandang tas ransel yang berat. Beliau adalah Pak Hardi, pimpinan unit di desa terpencil ini.
"Selamat datang, Panji," sapa Pak Hardi lembut, suaranya terdengar hangat seperti secangkir teh di sore hari yang dingin. Beliau menjabat tanganku erat, seolah ingin meyakinkanku bahwa di tempat sesunyi ini, aku tidak benar-benar sendirian.
"Kami sudah lama menunggumu. Tempat ini memang jauh dari keramaian, tapi di sinilah pengabdian kita yang sesungguhnya diuji. Semoga kamu betah di sini."
Aku hanya bisa tersenyum tipis—sebuah senyum formalitas yang kupaksakan muncul di permukaan wajahku yang layu.
Aku mengangguk pelan, menerima sambutan hangat itu dengan sisa-sisa jiwa yang masih tertinggal di peron terminal kota bersama Aina Munaroh.