Lelaki yang Menggenggam Janji

Raihan Langit
Chapter #4

Bab 4 : Tatapan dari Balik Tirai

Suatu sore, saat sisa hujan benar-benar menguap dan menyisakan bau tanah yang makin pekat, aku dikenalkan Mas Tri dengan seorang lelaki paruh baya yang datang ke ruangan pembangkit listrik dengan sarung yang dililit di leher. Penampilannya bersahaja, khas orang-orang pedalaman yang karib dengan sunyi. Tubuhnya tidak besar, namun ada wibawa yang memancar dari balik langkahnya yang tenang. Kumisnya tebal, jalannya pelan seolah ia menghargai setiap jengkal tanah yang dipijaknya, tapi anehnya, semua orang yang kebetulan lewat sore itu menyapanya dengan takzim dan hormat yang tulus.

"Ini Amang Julak," kata Mas Tri, menyikut lenganku pelan seraya mematikan puntung rokoknya ke tanah. "Tetua kampung sini. Kalau ada apa-apa di kampung, orang larinya ke beliau."

Amang Julak menatapku dari atas sampai bawah, matanya yang teduh namun tajam seolah sedang membaca lembaran takdir tersembunyi yang kupikul dari kota. Ia lalu mengulurkan tangan, sebuah jabat tangan yang terasa kasar oleh kerja keras namun menyalurkan kehangatan tanah pedalaman.

"Jadi ini anak baru yang dikirim dari kota itu? Panji, ya?" tanyanya, suaranya berat dan berwibawa, menggema di antara dinding-dinding seng pembangkit.

"Iya Mang, saya Panji," jawabku agak grogi, mendadak merasa sangat kecil di hadapan lelaki yang tampaknya telah menelan banyak garam dalam kehidupan ini.

"Bagus. Betah-betah di sini ya. Jangan seperti anak yang kemarin, baru tiga hari sudah minta pindah lagi karena takut gelap," katanya sambil terkekeh, suara tawanya renyah, memecah ketegangan yang sedari tadi menggantung kaku.

Aku hanya bisa tersenyum tipis, meraba hatiku sendiri yang sebenarnya tidak takut pada kegelapan malam, aku hanya takut pada kegelapan rindu yang tak berujung.

Amang Julak bercerita banyak, dan sejak itu aku paham, jika Mas Tri adalah teman jaga mesinku yang setia membagi asap rokok dan keluh kesah, maka Amang Julak adalah kamus hidup kampung Telabang ini.

Di dalam kepalanya yang mulai memutih, tersimpan rapat rahasia setiap sudut tanah ini—termasuk, mungkin, rahasia tentang tirai yang selalu bergerak di seberang jalan itu.

***

Acil Ratna namanya.

Pertama kali kulihat di suatu sore, ketika hujan baru berhenti dan tanah masih basah dan wangi. Aroma tanah pascahujan selalu punya cara yang kejam untuk membawa kembali kenangan lama, termasuk ingatan pada wangi tubuh Aina Munaroh yang dulu menguap bersama debu di terminal.

Lihat selengkapnya