Suatu malam, aku, Mas Tri, dan Amang Julak kembali menikmati panasnya kopi di warung. Sementara mesin pembangkit dijaga oleh Pak Hardi, yang menurut Mas Tri, entah kenapa sejak kedatanganku beliau berubah menjadi semakin bijak. Terkadang, ia mengijinkan dua orang operatornya ini pergi menikmati suasana malam di kampung, dan beliau yang mengawasi panel-panel listrik di ruangan pembangkit. Itulah hal yang bijak menurut Mas Tri.
Suara jangkrik mengiringi suasana pedalaman yang pekat, menyisakan obrolan-obrolan kecil yang mengalir di antara kehangatan cangkir.
"Panji, kau kenal Acil Ratna, bukan?" tanya Amang Julak tiba-tiba.
Pertanyaan itu seketika membuatku hampir tersedak untuk kedua kalinya hari itu. Aku membetulkan posisi duduk, mencoba menutupi keterkejutanku. "Kenal... sedikit, Mang. Tadi siang saya sempat melihatnya dari balik jendela."
"Menurutmu, bagaimana orangnya?" tanya Amang Julak lagi.
"Tampaknya baik, Mang."
"Cantik tidak?"
Aku terdiam. Pertanyaan itu terasa seperti sebuah jebakan yang membingungkan. Jika aku mengiyakan, mereka mungkin akan mengira aku menaruh hati. Namun, jika aku menggeleng, hal itu akan terdengar seperti sebuah penghinaan.
"Ya... entahlah, Mang," jawabku seadanya, memilih jalan tengah yang paling aman.
Amang Julak manggut-manggut, tatapannya menerawang ke luar warung. "Memang cantik dia itu." gumamnya tiba-tiba.
Mas Tri yang sedang meneguk kopinya seketika menahan tawa. Ia terbatuk kecil hingga wajahnya memerah menahan geli.
"Kenapa Mas Tri tertawa?" tanyaku heran.
"Tidak apa-apa, Pan. Kopinya terlalu pedas," jawabnya berdalih, mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Amang Julak menatap Mas Tri dengan tajam. "Tri, kalau ada orang sedang berbicara serius, jangan tertawa."
"Iya, Mang, maaf," kata Mas Tri, meskipun senyum jenaka masih tertinggal di sudut bibirnya.