Sore berikutnya, aku benar-benar bertemu dengan Acil Ratna. Bukan dari balik jendela yang buram, bukan pula dari kejauhan yang semu, melainkan bertatap muka secara langsung di jalan kampung.
Ia sedang membawa keranjang kecil dengan kedua tangannya ketika kami tidak sengaja berpapasan di tikungan jalan yang agak sempit. Langkah kaki kami seketika terhenti secara bersamaan. Udara sore yang lengang mendadak sarat akan kecanggungan yang tak kasatmata.
"Oh..." Itulah kata pertama yang keluar dari belahan bibirnya dengan nada terkejut yang tertahan.
Aku mencoba mencairkan suasana dengan menyunggingkan senyum tulus. "Acil Ratna."
Ia membalas senyumku, sebuah lengkungan manis yang membuat guratan di wajahnya tampak lebih lembut. "Mas Panji."
"Mau ke mana, Cil?" tanyaku, sekadar memecah keheningan yang mulai merayap.
"Mau ke rumah saudara sebentar," jawabnya lirih.
Aku mengangguk pelan, dan ia pun ikut mengangguk. Setelah itu, kami sama-sama terdiam selama beberapa detik. Dunia di sekitar kami seolah ikut berhenti karena kami berdua benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi.
Namun, beberapa detik kemudian, ia memberanikan diri bertanya dengan suara yang teramat pelan, "Sudah makan, Mas?"
Aku hampir saja tertawa mendengarnya. Ia memanggilku 'Mas' sedangkan menurut Mas Tri, Acil Ratna sedikit lebih tua dariku. Dan pertanyaan itu terasa menggelitik karena sepertinya sudah menjadi syarat administrasi yang wajib ditanyakan oleh masyarakat di kampung ini kepada setiap orang yang mereka temui di jalan.
"Belum, Cil," jawabku jujur.
"Kenapa belum makan?" Ia bertanya lagi, menyiratkan secercah perhatian yang tulus. Matanya yang bulat dan bening menatap mataku, cahaya mata yang ramah dan hangat.
Dan harus kuakui, ketika dilihat dari jarak sedekat ini, Acil Ratna ternyata memiliki wajah yang cantik. Rambutnya hitam sepinggang diikat begitu saja, ada belahan yang manis di bibirnya yang merah. Kecantikan yang benar-benar khas perempuan pedalaman.
Tiba-tiba aku teringat Aina Munaroh.
Aku bergegas menundukkan kepala memandang tanah, "Belum lapar, Cil." jawabku seadanya.
Acil Ratna mengangguk-angguk dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. "Kalau nanti lapar, jangan lupa makan, ya."
Aku mengangguk patuh. "Baik, Cil."
Ia pun kembali melangkah, berjalan pergi meninggalkanku. Aku berjalan ke arah sebaliknya.
Sepuluh langkah aku berjalan, hingga tiba-tiba aku mendengar suaranya yang lembut memanggilku dari arah belakang.