Lelaki yang Menggenggam Janji

Raihan Langit
Chapter #7

Bab 7 : Saingan Cinta Amang Julak

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang aneh namun teratur. Kadang-kadang, Acil Ratna mengirimiku makanan yang diletakkan begitu saja di atas meja teras mes. Di lain waktu, ia hanya menanyakan apakah aku sudah makan ketika kami tidak sengaja berpapasan di jalan. Bahkan, terkadang ia mendadak muncul di dekat tempatku bekerja dengan alasan yang tidak terlalu jelas. Ketika aku memandangnya, ia hanya akan berkata lirih, "Hanya menumpang lewat saja," padahal rumahnya berada di arah yang sama sekali berlawanan dari jalan yang ia lalui. 

Aku mulai menyadari bahwa perempuan itu memang semakin sering hadir di sekitar kehidupanku. Namun, karena aku terlalu sibuk dengan rutinitas menjaga mesin pembangkit dan pikiranku sendiri masih sepenuhnya dipenuhi oleh janji masa lalu kepada Aina, aku tidak pernah menganggap kehadiran Acil Ratna sebagai sesuatu yang serius. 

Di dalam hatiku, aku masih setia menunggu Aina Munaroh. Setiap malam sebelum memejamkan mata, aku selalu membuka laci meja dan memandangi buku harian bersampul biru pemberiannya. Kadang-kadang aku membaca kembali pesan-pesan lama di dalam buku itu untuk merawat kenangan, dan kadang-kadang aku hanya menatap hampa layar telepon genggamku yang sama sekali tidak menangkap sinyal. Jarak yang membentang telah mengubah rindu menjadi sesuatu yang tidak memiliki wujud nyata; ia hanya hadir, diam, dan menunggu dalam keheningan yang setia. 

Mungkin karena terlalu tenggelam dalam riak rinduku sendiri, aku sampai tidak menyadari bahwa di dekatku, ada seseorang yang sedang mengalami hal yang sama persis. Hanya saja, orang itu tidak sedang menunggu seseorang yang jauh, melainkan sedang berharap dengan sepenuh hati pada seseorang yang berada di dekatnya. 

Suatu sore, aku sedang sibuk memperbaiki pagar kayu yang mulai rapuh di depan mes ketika Acil Ratna datang melangkah mendekat. Sebuah wadah plastik tergenggam di tangannya. 

"Panji," sapanya lembut. 

Aku segera berdiri dan menyeka peluh di tangan. "Ya, Cil." 

"Ini untukmu," katanya seraya mengulurkan wadah plastik tersebut kepadaku. 

"Apa ini, Cil?" tanyaku, menerima wadah yang terasa masih menyisakan sedikit kehangatan itu. 

"Wajik, saya membuatnya tadi pagi," jawabnya, diiringi seulas senyum manis yang tulus. 

"Terima kasih banyak, Cil." 

Ia tersenyum lebih lebar. "Jangan dihabiskan sendiri, ya." 

Aku mengangguk patuh. "Baik, Cil." 

"Bagi juga dengan Mas Tri," pesannya kemudian. 

Aku kembali mengangguk. "Baik, Cil." 

Setelah itu, Acil Ratna masih saja berdiri diam di tempatnya. Aku menunggunya berbalik untuk pergi, namun ia bergeming. Aku menantinya lagi selama beberapa detik, tetapi ia justru tampak berdiri dengan gelisah, seolah ada sepotong kalimat yang tertahan di kerongkongannya. 

Akhirnya, karena merasa canggung, aku bertanya, "Ada hal lain lagi, Cil?" 

Lihat selengkapnya