September, 25.
21.00 di teras rumah Ratih.
Ratih duduk di bangku kayu di teras rumahnya. Menikmati angin malam sepoi-sepoi sendirian. Langit di selatan tampak menunjukan kilatan-kilatan petir, kemungkinan di selatan jauh sedang turun hujan lebat.
Ratih Purnamasari, wanita muda berusia awal 23 tahun, duduk sendiri sambil mengamati cincin batu permata merah delima peninggalan kakeknya.
Ratih merasa kosong dalam hatinya, hidupnya selama ini selalu jauh dari masalah, namun dalam 3 tahun terakhir hidupnya berputar seperti roda terbalik. Bukan satu tapi satu persatu masalah datang dan pergi bergantian.
Tiga tahun lalu orang tua Ratih meninggal, dan Ratih di beri warisan tanah tandus di kaki gunung. Meskipun tidak terlalu jauh dari desa, tempat ini lumayan sepi dan terpencil.
Ratih memiliki dua saudara laki-laki dan satu perempuan. Harta dan warisan di desa peninggalan orang tuanya habis di bagi oleh mereka bertiga. Rumah dan halaman tidak di sisakan untuknya.
Ratih hanya mendapatkan sehektar tanah tandus di kaki gunung. Ratih menikah dua tahun lalu, namun keluarga suaminya memperlakukannya seperti pembantu dan terlalu pelit. Jadi, Ratih memilih bercerai dan hidup menyendiri.