Lentera di Sudut Hati

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Embun Subuh di Desa Sukamaju

Udara subuh di Desa Sukamaju merayap dingin, menyusup melalui celah-celah dinding bilik bambu rumah tua milik Ki Jabar. Embun masih membatu di ujung-ujung daun talas, memantulkan cahaya temaram dari pelita minyak tanah yang nyaris padam di sudut ruangan. Langit timur baru saja menyembunyikan pias jingganya, menandakan fajar baru segera merekah di tanah Priangan yang subur ini.

"Bangun, Den. Waktu subuh sudah hampir habis kalau kau terus melingkar seperti kordeng," suara serak Ki Jabar memecah kesunyian, disusul suara batuk kecil yang tertahan di balik kain sarung usang.

Rangga, pemuda berusia sembilan belas tahun dengan mata tajam mewarisi keturunan leluhurnya, mengerjap pelan. Ia menggeliat, melepas selimut kain tenun kasar yang melilit tubuhnya.

"Iya, Ki. Embunnya masih tebal sekali pagi ini," jawab Rangga sambil bangkit dari bale-bale bambu. Suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur. Ia merapatkan jaket rajut wol usang miliknya.

"Embun tebal adalah pertanda alam sedang memeluk desamu dengan erat, Rangga. Tapi ingat, pelukan yang terlalu dingin bisa membuatmu mati rasa kalau kau tidak bergerak," nasihat Ki Jabar sambil melangkah pelan menuju tungku dapur, meraba-raba kayu bakar sisa semalam untuk menyalakan sisa bara.

Rangga mengikuti langkah lelaki paruh baya yang telah merawatnya sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya itu. Aroma ubi rebus dan teh buatan Ki Jabar langsung menguar, bercampur dengan bau tanah basah yang khas dari luar jendela dapur yang terbuka sedikit.

"Apa hari ini benar-benar hari yang tepat untuk turun ke pasar kabupaten, Ki?" tanya Rangga ragu, menatap keranjang anyaman bambu besar yang tergeletak di dekat pintu belakang.

Ki Jabar menoleh, menatap pemuda itu dengan tatapan teduh namun menyiratkan ketegasan yang mendalam. "Alam tidak pernah menunggu waktu yang tepat, Rangga. Alam hanya memberi kesempatan, dan kitalah yang harus menjadikannya tepat atau tidak."

❖ ❖ ❖

Rangga memandang keranjang bambu berisi puluhan ikatan daun sirih hutan dan ramuan obat tradisional racikan Ki Jabar. Hari ini, tujuannya hanya satu: menjual seluruh hasil bumi tersebut di Pasar Sindang Kasih demi menebus utung pupuk dan obat pertanian yang tertunda selama dua musim panen terakhir. Utang itu sudah melilit leher keluarga kecil mereka seperti lilitan akar beringin tua.

"Kita tidak boleh pulang sebelum semua dagangan ini laku terjual dengan harga yang layak, Ki. Aku sudah berjanji pada Pak Lurah untuk melunasi cicilan pertama hari ini," kata Rangga mantap, sembari menyandang tali keranjang ke pundaknya yang bidang.

Ki Jabar mengangguk pelan, meletakkan secangkir teh hangat ke tangan Rangga. "Ingat, tujuanku bukan sekadar membuatmu membawa pulang uang receh, Rangga. Tapi menguji seberapa jauh kau bisa berdiri di atas kakimu sendiri di hadapan orang-orang kota yang licik."

"Aku paham, Ki. Aku bukan lagi anak kecil yang akan menangis jika ditawar murah," balas Rangga sambil menyeruput tehnya yang masih mengepulkan uap tipis.

"Bagus. Jangan biarkan harga diri keluargamu diinjak-injak hanya karena kita orang desa," tegas Ki Jabar.

Rangga melangkah keluar rumah. Pintu kayu berderit nyaring menyambut pagi yang mulai benderang. Kabut tipis masih menyelimuti jalan setapak berbatu yang membelah pesawahan hijau. Langkah kakinya mantap, meski bayang-bayang kesulitan hidup terus membayangi setiap jengkal perjalanannya menuju jalan raya desa.

❖ ❖ ❖

Perjalanan dari dusun terpencil menuju pangkalan ojek desa memakan waktu hampir satu jam berjalan kaki menuruni bukit. Sepanjang jalan, Rangga berpapasan dengan beberapa warga desa yang juga bersiap memulai hari mereka. Ada Pak Tani yang membawa cangkul di pundak, dan Bi Enah yang menjunjung bakul sayur segar.

"Mau ke mana, Rangga? Pagi-pagi benar sudah keliatan rapi," sapa Bi Enah ramah, menampilkan senyum di balik kerudung lusuhnya.

"Mau ke Pasar Sindang Kasih, Bi. Mau mengantar titipan Ki Jabar," jawab Rangga sopan sambil sedikit membungkukkan badan.

"Hati-hati di jalan, ya. Pasar sekarang sedang ramai dan harga-harga barang kebutuhan pokok sedang tidak menentu," pesan Bi Enah sebelum melanjutkan langkahnya.

Rangga hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Ia mempercepat langkahnya tatkala bayangan matahari mulai meninggi, menembus rimbunnya pepohonan mahoni di tepi jalan raya. Suara bising kendaraan bermotor mulai terdengar sayup-sayup, menggantikan suara desir angin dan serangga hutan yang sejak subuh menemaninya.

Setibanya di pangkalan ojek, ia langsung mendapati Mang Udar sedang membersihkan jok motor bebek tuanya dengan sehelai kain lap kusam.

"Wah, anak muda Sukamaju. Mau turun kota lagi kau, Rangga?" tanya Mang Udar tanpa mengalihkan pandangannya dari motor.

"Iya, Mang. Tolong antar saya sampai terminal sub-terminal Sukajaya ya," pinta Rangga sambil menurunkan keranjang dari punggungnya dengan hati-hati.

"Naiklah. Tapi pegangan yang kuat, jalanan dekat jembatan rusak akibat longsor minggu lalu belum sepenuhnya diperbaiki," ujar Mang Udar menyalakan mesin motor yang langsung menderu bising.

Lihat selengkapnya