Udara subuh di Kota Bandar Lampung terasa begitu menggigit kulit, membawa serta kelembapan sisa hujan malam yang membasahi aspal jalanan protokol. Pukul 04.15 WIB, ketika sebagian besar warga masih terlelap dalam selimut tebal mereka, langit timur baru saja menyembunyikan pendar keemasan yang malu-malu di balik siluet Gunung Betung. Di sebuah rumah sederhana bercat hijau pudar di kawasan Kedaton, suara alarm ponsel berdering nyaring, memecah kesunyian kamar tidur berukuran 3x4 meter.
Arka (28) langsung terbangun dengan napas memburu. Keningnya mengerut, merasakan sisa-sisa kantuk yang masih menggelayut berat di kelopak matanya. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi cat mengelupas akibat rembesan air hujan musim lalu. Hari ini adalah hari Senin, tanggal 24 Agustus 2026. Sebuah tanggal yang ia tandai khusus di kalender meja kerjanya sebagai titik tolak perubahan besar dalam hidupnya, sebuah niat yang sudah lama tertunda akibat kesibukan duniawi yang seolah tak ada habisnya.
"Bismillah... semoga aku tidak kesiangan lagi seperti minggu lalu," gumam Arka pelan, meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih terasa dingin.
Ia bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju kamar mandi di sudut belakang rumah demi menghindari suara berderit dari lantai kayu tua yang berpotensi membangunkan ibunya yang sedang tidur lelap di kamar sebelah. Air wudu yang ia basuhkan ke wajah terasa bagaikan sengatan es yang menyadarkan seluruh saraf di tubuhnya. Setiap tetesan air yang jatuh dari ujung dagunya seolah membasuh beban pikiran yang selama ini menumpuk di kepala.
Di ruang tamu, suasana masih remang-remang. Hanya ditemani cahaya temaram dari lampu neon 10 watt, Arka merapikan sarung kotak-kotak berwarna cokelat tua dan mengenakan peci hitam kesayangannya yang sedikit usang di bagian tepi. Ia melirik jam dinding plastik di dinding ruang tamu; jarum pendek menunjuk angka empat lebih dua puluh menit. Waktu Subuh di Bandar Lampung pada pagi hari ini jatuh tepat pukul 04.28 WIB. Jarak dari rumahnya menuju Masjid Al-Falah, masjid tertua di lingkungan tempat tinggalnya, terbentang sejauh kurang lebih 700 meter dengan kondisi jalanan menanjak dan berbatu.
"Mau ke mana, Arka? Pagi benar," suara serak khas bangun tidur terdengar dari balik pintu kamar ibunya, Bu Siti (56), yang keluar mengenakan mukena putih bersih.
"Mau ke masjid, Bu. Mau coba salat berjemaah di shaf pertama seperti janji Arka kemarin," jawab Arka sambil merapikan sajadah kecil yang tersampir di sofa.
Bu Siti tersenyum hangat, garis-garis keriput di wajahnya tampak melembut di bawah temaram lampu. Matanya menyiratkan kelegaan yang mendalam. "Alhamdulillah, nak. Hati-hati di jalan, udaranya dingin sekali. Jangan lupa baca doa keluar rumah."
"Ibu tenang saja. Arka berangkat sekarang ya, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Arka menyentuh halaman rumah ketika embusan angin pagi menyambutnya dengan kejam. Ia merapatkan jaket parasut hitam yang ia kenakan untuk menahan udara dingin yang merasuk hingga ke tulang. Tujuan utamanya pagi ini sangat jelas dan terpatri kuat dalam benaknya: mencapai Masjid Al-Falah sebelum azan berkumandang, mengambil tempat di shaf pertama tepat di belakang imam, dan memulai kebiasaan baru yang konsisten untuk merutinkan salat lima waktu secara berjemaah di masjid.
Selama bertahun-tahun, Arka merasa hidupnya berjalan di tempat. Sebagai seorang pekerja lepas di bidang desain grafis yang sering bekerja hingga larut malam, ritme biologisnya telah bergeser drastis. Ia sering kali tertidur menjelang subuh dan baru bangun ketika matahari sudah tinggi. Akibatnya, salat subuhnya sering kali menjadi qadha, dikerjakan terburu-buru di kamar tidur sesaat sebelum ia membuka laptop untuk mulai bekerja kembali. Rasa bersalah itu telah menumpuk menjadi beban psikologis yang berat.
"Kali ini tidak boleh gagal lagi. Kemarin sudah niat, hari ini harus jadi eksekusi," ucap Arka menyemangati dirinya sendiri sambil berjalan keluar dari gang sempit rumahnya menuju jalan raya utama yang masih sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor.
Di kepalanya, target hari ini bukan sekadar datang tepat waktu ke masjid, melainkan melatih kedisiplinan mental. Ia ingin merasakan ketenangan batin yang sering diceritakan oleh rekan kerjanya, Pak Haji Usman, seorang pria paruh baya pemilik percetakan lokal yang selalu tampak tenang dalam menghadapi tekanan pekerjaan sebesar apapun karena rajin salat berjemaah di masjid.
"Arka! Pagi amat, Bro!" sebuah suara menyapa dari arah belakang, memecah keheningan pagi.
Arka menoleh dan mendapati Dimas (27), tetangga sekaligus teman masa kecilnya yang tinggal tiga rumah dari kediamannya, tengah mendorong sepeda motor matic dengan lampu depan yang menyala remang-remang. Dimas mengenakan jaket jeans belel dan celana training abu-abu.
"Eh, Dim. Iya nih, mau ke masjid. Tiba-tiba terbangun dan teringat niat kemarin," jawab Arka sambil tersenyum kikuk, sedikit terkejut karena jarang sekali melihat Dimas bangun pagi-pagi buta seperti ini.
Dimas menghentikan dorongan motornya, lalu menghela napas panjang hingga uap putih tipis keluar dari mulutnya akibat udara dingin. Ia menggelengkan kepala pelan. "Wah, kesurupan apa lu, Ka? Jam segini udah rapi pakai peci dan sarung. Biasanya lu baru tidur jam segini abis revisi desain klien."
"Bosen juga hidup kayak kelelawar, Dim. Sesekali pengen nyoba cari ketenangan pagi. Lu sendiri mau ke mana dorong motor? Mogok?" tanya Arka balik, melirik mesin motor Dimas yang tampak mati total.
"Iya, ban belakang bocor pas gua mau pulang dari warung kopi ujung jalan tadi malam. Belum sempat ditambal, jadi terpaksalah pagi ini gua dorong cari tambal ban. Tapi karena lu mau ke masjid, gua jadi agak iri juga lihat muka segar lu," ujar Dimas sambil tertawa kecil, meski matanya menyiratkan rasa lelah yang amat sangat.
"Makanya, sesekali mampir ke masjid, Dim. Enak loh suasananya pas subuh, adem, pikiran langsung jernih," ajak Arka dengan penuh antusiasme, mencoba menularkan semangat positif yang tengah membara di dadanya.
Dimas terdiam sejenak, menatap ke arah ujung jalan di mana menara Masjid Al-Falah mulai terlihat menjulang tinggi, memantulkan cahaya lampu hias menara yang berwarna hijau kekuningan. Ada secercah keraguan di mata Dimas, namun ia segera menepisnya dengan senyuman masam.
"Nanti deh, Ka. Gua selesain urusan motor dulu. Lagian baju gua kan belel begini, nggak pantas masuk masjid," kata Dimas merendah.
"Ah, nggak ada istilah nggak pantas buat menghadap Yang Kuasa, yang penting pakaian suci dan niat bersih. Udah ya, Dim, gua duluan nanti keburu iqamah!" pamit Arka sambil menepuk bahu Dimas sekilas.
"Iya, iya, silakan orang alim! Doain urusan gua lancar ya!" balas Dimas sambil kembali mendorong motornya ke arah bengkel tambal ban terdekat.
❖ ❖ ❖
Arka mempercepat langkah kakinya begitu meninggalkan Dimas. Jalanan mulai menanjak tajam, menguji kekuatan fisik dan pernapasannya yang jarang berolahraga. Debar jantungnya mulai terasa di rongga dada, bukan karena takut, melainkan karena kombinasi udara dingin dan usaha ekstra kakinya menaklukkan undakan jalan beton yang agak licin oleh lumut tipis.
Di sepanjang perjalanan, suasana lingkungan sekitar tampak sangat damai. Rumah-rumah penduduk masih tertutup rapat, menyisakan suara deburan air dari beberapa selokan kecil di sisi jalan dan kicauan burung gereja yang mulai bersahutan di pucuk-pucuk pohon mangga milik warga. Pikirannya melayang pada berbagai proyek desain yang menumpuk di meja kerjanya. Ada revisi dari klien korporat yang harus diselesaikan sebelum jam sepuluh pagi ini, serta tenggat waktu logo kafe yang belum juga disetujui. Namun, anehnya, bayang-bayang pekerjaan itu tidak lagi menimbulkan rasa cemas yang mencengkeram seperti biasanya.
"Fokus ke tujuan utama dulu, Arka. Urusan dunia biarkan nanti menyusul setelah kewajiban selesai," batinnya menenangkan diri.
Tepat pada pukul 04.22 WIB, Arka akhirnya tiba di halaman depan Masjid Al-Falah. Masjid berukuran sedang dengan arsitektur perpaduan modern dan tradisional Betawi itu tampak berdiri kokoh. Halaman masjid yang disemen bersih tampak basah oleh embun pagi. Di teras depan, jejak sandal dan sepatu para jemaah sepuh sudah tertata rapi di rak kayu berukuran besar. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dari pengeras suara masjid terdengar merdu, dibawakan oleh seorang muazin senior bernama Pak Haji Umar yang suaranya sudah akrab di telinga warga sejak Arka masih kecil.
Arka menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kayu gaharu bercampur wangi karpet masjid yang khas dari ambang pintu. Ia melepas sepatu ketsnya dengan hati-hati, menempatkannya di rak bagian paling bawah, lalu melangkah menuju tempat wudu di sisi kanan bangunan utama masjid.
Suasana tempat wudu terasa sangat sejuk. Air keran mengalir deras dengan suhu yang terasa membekukan jemari tangan. Di sana, sudah ada dua orang kakek berselendang kain sarung yang sedang membasuh kaki mereka dengan khusyuk. Arka mengangguk hormat ketika salah seorang kakek, Pak Haji Mahmud (70), tokoh masyarakat setempat yang disegani, menatapnya dengan senyuman teduh.
"Pagi, Nak Arka. Tumben sekali terlihat subuh ini di masjid. Biasanya jarang kelihatan kalau bukan hari Jumat," sapa Pak Haji Mahmud dengan suara parau namun ramah.
"Iya, Pak Haji. Mulai hari ini saya mau coba istiqamah salat berjemaah di sini," jawab Arka sopan sambil membungkukan sedikit tubuhnya sebagai bentuk takzim.