Suara deburan ombak kecil yang bergesekan dengan lambung perahu-perahu nelayan tua di Pelabuhan Muara menjadi satu-satunya ritme yang akrab di telinga Yusuf setiap kali fajar mulai menyibak tirai malam. Udara pagi di pesisir utara itu selalu membawa serta aroma asin garam laut yang bercampur pekat dengan bau lumpur bakau. Di sudut dermaga yang agak menjorok ke daratan, berdirilah sebuah surau kayu sederhana berukuran enam kali enam meter, beratapkan seng berkarat yang sebagian catnya telah mengelupas dimakan usia. Surau Al-Hidayah, begitu papan nama usang yang digantung di kusen pintu menyebutnya, adalah saksi bisu dari separuh usia Yusuf yang dihabiskan dalam keheningan dan ketaatan.
Pagi itu, jarum jam dinding di dalam surau baru saja menunjuk pukul empat lewat lima belas menit. Cahaya lampu neon kuning berwatt rendah di teras surau berdengung pelan, memancarkan bias kemerahan yang berkelahi dengan kelamnya sisa subuh. Yusuf berdiri di dekat sumur timba di samping surau, menggulung lengan kemeja koko putihnya yang tampak bersih meski sudah berulang kali dicuci. Air sumur yang jernih dan dingin membasuh telapak tangannya, mengalir lembut di sela-sela jemarinya yang terbiasa memegang lembaran-lembaran kitab kuning yang tebal.
"Sudah bangun selarut ini, Yuf? Angin laut subuh ini sedang tidak bersahabat, menusuk sampai ke tulang," suara serak Pak RT, Haji Mahmud, memecah kesunyian sambil melangkah pelan menuruni jalan setapak berpasir, mengenakan sarung kotak-kotak hijau dan peci hitam beludru yang agak miring.
Yusuf menghentikan basuhan wudunya sejenak, menoleh dengan senyum tipis yang selalu menyungging di bibirnya—tenang, tidak pernah terburu-buru, namun menyisakan jarak yang tak terbaca oleh siapa pun. "Iya, Pak Haji. Biasa, membersihkan tempat wudu sekaligus merapikan saf. Takutnya nanti jemaah keburu datang dan lantainya masih licin terkena embun laut," jawab Yusuf dengan nada suara yang rendah, nyaris tenggelam oleh deru angin yang membawa buih air asin ke daratan.
"Kamu ini, masih muda, tapi kerjanya hanya mengurus surau, mengajar anak-anak mengaji, lalu menyendiri di kamarmu yang sempit itu. Tidak ada niat untuk merantau ke kota, mencari pekerjaan yang lebih layak seperti pemuda-pemuda lain di kampung seberang?" tanya Haji Mahmud, menepuk bahu Yusuf yang bidang dengan kehangatan seorang ayah.
Yusuf merapikan peci putih di kepalanya, lalu menatap lurus ke arah cakrawala timur yang mulai memerah di balik siluet gugusan pulau kecil. "Rezeki Allah itu luas, Pak Haji. Di sini, di surau kecil ini, saya merasa menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan gemerlapnya lampu kota. Sunyi di sini bukan berarti sepi, tapi ruang paling jujur untuk berbicara dengan-Nya."
Percakapan singkat itu terhenti tatkala suara azan subuh berkumandang dari pelantang suara surau yang berdesau-desau. Yusuf melangkah masuk ke dalam ruangan utama yang berbau khas kayu jati tua dan wangi kayu gaharu. Sunyi yang dipeluknya bukanlah pelarian, melainkan benteng pertahanan terakhir dari masa lalunya yang kelam dan belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun di kampung pesisir itu.
❖ ❖ ❖
Di balik kesahajaan dan rutinitasnya sebagai penjaga sekaligus guru ngaji di Surau Al-Hidayah, Yusuf menyimpan sebuah misi besar yang diemban dalam diam. Dalam lembaran buku harian bersampul kulit hitam yang selalu ia kunci rapat di dalam laci meja kayunya, tertulis sebuah tujuan hidup yang telah ia ikrarkan di hadapan pusara sang ibu tiga tahun silam: melunasi seluruh hutang budi keluarganya dan membebaskan tanah wakaf pesantren tua peninggalan sang kakek di pedalaman Demak yang kini dikuasai oleh tengkulak lintah darat akibat tipu muslihat masa lalu.
Siang itu, selepas anak-anak pengaji pulang berhamburan dengan riang gembira membawa buku Iqra di dada, surau kembali jatuh ke dalam pelukan sunyi. Yusuf duduk bersila di atas tikar pandan, membuka sebuah amplop cokelat tebal yang berisi surat peringatan terakhir dari juragan tanah bernama Mardani. Surat itu mengancam bahwa jika dalam kurun waktu enam bulan sisa pelunasan sebesar lima puluh juta rupiah tidak segera dibayarkan, maka bangunan utama pesantren tempat ratusan anak yatim belajar akan diratakan dengan tanah untuk dijadikan gudang pengolahan ikan.
"Yusuf... kamu tidak bisa terus-menerus menanggung beban ini sendirian. Pesantren itu sudah lama mati," suara lembut Kakak tirinya, Aminah, tiba-tiba terdengar dari ambang pintu surau. Aminah datang dengan mengenakan kerudung abu-abu yang agak kusam, membawa rantang berisi ubi rebus dan segelas teh tawar hangat.
Yusuf menutup amplop cokelat itu perlahan, lalu menatap Aminah dengan sorot mata yang menyembunyikan badai kepedihan. "Pesantren itu bukan sekadar bangunan tua, Teh. Di sanalah tempat Abah mengajarkan arti hidup yang sebenarnya. Selama Yusuf masih bernapas, tanah itu tidak boleh jatuh ke tangan orang-orang yang tidak mengenal halal dan haram."
"Tapi dengan cara apa? Mengajar ngaji anak-anak nelayan hanya cukup untuk makan sehari-hari, Yuf. Tidak akan pernah cukup untuk menutup hutang sebanyak itu dalam waktu enam bulan!" sanggah Aminah dengan nada frustrasi, matanya berkaca-kaca menatap kesabaran adiknya yang terkadang terasa begitu menyiksa.
Yusuf menarik napas panjang, menghirup aroma teh hangat yang mengepulkan uap tipis di hadapannya. "Yusuf sedang berikhtiar, Teh. Selain mengajar di sini, Yusuf mulai menulis naskah buku keagamaan dan menerjemahkan kitab-kitab klasik pesanan penerbit kota. Hasilnya memang sedikit, tapi Allah Maha Kaya. Yang penting kita tidak berjalan di atas jalur yang dimurkai-Nya."
Tujuan Yusuf sangat jelas dan terukur di atas kertas, namun jalannya terjal berdarah-darah. Ia tidak ingin meminta sumbangan atau belas kasihan dari para pejabat yang korup, apalagi menjual harga diri dengan meminta-minta di lampu merah kota kecamatan. Ia ingin menebus tanah leluhur itu dengan keringat halalnya sendiri, melalui ilmu yang ia miliki dan kesabaran yang tidak bertepi.
"Mardani itu orang licik, Yuf. Dia tidak segan-segan menggunakan cara kotor jika kemauannya tidak dituruti," peringat Aminah sambil meletakkan rantang di samping sajadah.
"Biarkan dia dengan cara dunianya, Teh. Kita hadapi dengan cara langit," balas Yusuf mantap, meski di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu persis bahwa waktu terus berdetik dan sisa tabungannya masih jauh dari angka yang diharapkan.
❖ ❖ ❖
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Musim penghujan di pesisir utara datang dengan angin kencang yang menghantam atap-atap seng surau hingga berderit nyaring setiap malam. Di tengah deru badai yang menerpa, kesunyian Yusuf semakin pekat. Ruang kamar kecilnya di samping surau yang hanya berukuran dua kali tiga meter menjadi saksi bisu atas lembaran-lembaran kertas naskah yang semakin menumpuk di atas meja kayu berkaki tiga.
Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul dua malam. Hujan di luar turun begitu deras, menyerupai ribuan jarum yang menghujam bumi tanpa ampun. Di bawah temaram lampu meja dari bohlam lima watt, Yusuf masih terjaga. Matanya memerah karena kurang tidur, namun tangannya tidak berhenti menggoreskan tinta pena di atas kertas HVS putih. Setiap baris kalimat yang ia tulis adalah tetesan doa, sebuah ikhtiar intelektual untuk merajut kembali impian masa kecilnya yang tercerai-berai.
"Tok... tok... tok..."
Suara ketukan pintu pelan namun tegas terdengar di tengah gemuruh suara hujan. Yusuf menghentikan gerak penanya. Dahinya berkerut heran. Siapa yang datang ke surau pada pukul dua pagi di tengah badai separah ini?
Yusuf beranjak dari kursi kayunya, mengenakan jaket parasut hitam lusuh yang biasa ia pakai untuk berjalan malam, lalu membuka pintu kayu yang berderit nyaring. Di hadapannya, berdiri sesosok tubuh basah kuyup dengan mantel hujan transparan yang sudah robek di bagian bahu. Wajahnya pucat pasi, menggigil hebat hingga giginya bergemeretuk.
"A... Astagfirullah... Pak Darto?" kaget Yusuf saat mengenali sosok nelayan paruh baya langganan jemaah surau yang tinggal di ujung kampung.
Pak Darto jatuh tersungkur di ambang pintu, napasnya tersengal-sengal dan memegang perutnya yang terluka. "Yuf... tolong... anakku... si Bima... dibawa pergi oleh anak buah Mardani karena urusan hutang perahu..." rintih Pak Darto dengan suara yang nyaris tak terdengar tertelan suara petir yang menyambar di kejauhan.
Tanpa berpikir panjang, Yusuf langsung memapah Pak Darto masuk ke dalam kamar, mendudukkannya di atas dipan kayu kecil, lalu mengambil handuk bersih dan segelas air hangat. Transisi hidup Yusuf yang semula tenang, terisolasi di dalam bilik sunyinya, seketika runtuh diterjang oleh realitas pahit kehidupan masyarakat pesisir yang terjerat oleh lingkaran setan lintah darat.
"Tenang dulu, Pak. Minum airnya pelan-pelan. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Yusuf dengan suara yang tenang namun tegas, mencoba meredakan kepanikan pria tua tersebut.
"Mardani... dia menagih hutang bunga berbunga malam-malam begini. Karena aku tidak punya uang tunai, dia membawa Bima sebagai jaminan di gudang garam pelabuhan lama. Mereka... mereka mau menghajari anakku kalau aku tidak melunasi malam ini juga!" tangis Pak Darto pecah, memecah keheningan malam yang basah.
Yusuf tertegun. Jarak antara niatnya menyelamatkan pesantren keluarganya dan kewajibannya menolong sesama hamba yang teraniaya kini beririsan di hadapannya. Dunia sunyi yang selama ini ia bangun sebagai tempat perlindungan mendadak memanggilnya keluar untuk menghadapi monster nyata yang selama ini bersembunyi di balik topeng kedermawanan semu di kampung nelayan itu.
"Mari, Pak. Kita ke sana," kata Yusuf singkat, mengambil sebuah senter besar bercahaya terang dari balik pintu.
"Tapi... tapi mereka punya banyak orang dan senjata tajam, Yuf! Kamu seorang guru ngaji, bisa-bisa kamu..."
Yusuf menggeleng pelan, menatap lurus ke mata Pak Darto dengan ketenangan yang memancarkan keyakinan mutlak. "Kita tidak sedang melawan mereka dengan kekuatan otot, Pak. Kita berjalan atas nama keadilan."
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Yusuf dan Pak Darto membelah genangan lumpur pekat di sepanjang jalan setapak menuju kawasan gudang garam tua di pelabuhan lama. Angin laut malam itu berhembus kencang, membawa bau amis ikan asin dan belerang yang menyesakkan dada. Di kejauhan, sebuah lampu petromak menyala terang di teras gudang reyot berdinding seng berkarat, memantulkan bayangan-bayangan hitam yang bergerak mondar-mandir di balik jendela kaca kusam.
"Itu tempatnya, Yuf. Lihat, motor-motor preman suruhan Mardani terparkir di depan," bisik Pak Darto dengan gemetar, bersembunyi di balik tumpukan jaring ikan bekas bersama Yusuf.
Yusuf mengamati situasi dengan cermat. Ada sekitar empat orang preman bertubuh kekar dengan tato memenuhi lengan mereka, tengah duduk-duduk sambil menenggak minuman keras botolan di dekat pintu masuk. Di sudut ruangan yang agak gelap, tampak seorang remaja berusia belasan tahun—Bima—terikat kedua tangannya pada tiang kayu dengan mulut dilakban hitam, menangis dalam diam.
"Kurang ajar, benar-benar sudah melampaui batas," gumam Yusuf pelan, rahangnya mengeras di balik bayangan malam.
"Jangan nekat, Yuf. Kita lapor polisi saja," cegah Pak Darto panik, menarik ujung jaket Yusuf.
"Polisi di kota kecamatan butuh waktu satu jam untuk sampai ke sini, Pak. Kalau kita menunggu, anak bapak bisa cacat malam ini juga," jawab Yusuf tenang namun penuh determinasi.
Yusuf melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan tegap tanpa keraguan sedikit pun menuju pintu gudang garam. Sorot lampu senter di tangannya ia matikan, membiarkan tubuhnya menyatu dengan kegelapan malam hingga ia berdiri tepat di ambang pintu di hadapan keempat preman tersebut.
"Hei! Siapa kamu, guru ngaji kampung sok pahlawan!" hardik salah seorang preman berbadan gempal dengan bekas luka sayat di pipi kirinya, berdiri sambil menghunus sebilah pisau belati kecil.