Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

BISIKAN KABUT

Bisikan Kabut – Pertemuan awal dengan Laras Al-Humaira yang membawa peringatan.

---o0o---

Runtuhnya pijakan tanah dan air membalikkan seluruh kesadaran Bara Al-Mustafa. Sensasi melayang dalam kegelapan tak berdasar perlahan pudar saat dinginnya embun malam menyenggol kulit wajahnya. Ia terbangun di atas helai daun teratai raksasa yang berayun tenang. Udara di sekelilingnya dipenuhi kabut tebal berwarna ungu keperakan.

"Bara! Kau sudah sadar?"

Sebuah suara lembut namun bergetar cemas meretas keheningan. Bara menoleh, menemukan Laras Al-Humaira berlutut di sisinya. Gaun merah muda Laras tampak terkoyak di bagian lengan, tetapi binar matanya memancarkan keteguhan yang tak goyah.

"Laras... di mana kita?" gumam Bara parau, mencoba duduk sembari memegang kepalanya yang berdenyut hebat. "Di mana sahabat-sahabat kita yang lain?"

"Kita terpisah saat jatuh ke dalam celah dimensi," jawab Laras seraya menyerahkan sebotol air jernih dari pundi-pundinya. "Minumlah dahulu. Kita berada di tepian Lembah Bisikan Kabut, batas terluar dari wilayah Danau Teratai Tujuh Misteri."

Bara meneguk air itu cepat, merasakan kesegaran dingin yang mengalir memulihkan staminanya. Tangannya bergerak refleks memeriksa pinggang. Pedang perak legendarisnya masih bertengger erat di sana.

"Apakah kau merasakan hawa aneh ini, Laras?" tanya Bara, berdiri tegak sembari mengamati gulungan kabut ungu yang merayap di atas permukaan air telaga.

"Itulah alasan mengapa aku mencarimu sebelum kehancuran tadi terjadi, Bara," potong Laras, raut wajahnya berubah sangat serius. "Ada peringatan kuno yang harus kusampaikan padamu. Kabut ini bukan sekadar fenomena alam biasa."

"Peringatan apa yang kau maksud?" pangkas Bara, mengikis jarak di antara mereka.

Laras menghela napas panjang, merogoh bagian dalam jubahnya dan mengeluarkan sebuah batu kristal oval yang retak di tengahnya. "Ini adalah Kristal Suara milik keluargaku. Sebelum gerbang dasar danau terbakar, kristal ini menangkap pesan rahasia dari masa lalu."

"Pesan dari siapa?" desak Bara penasaran.

"Dari leluhurmu sendiri, Bara Al-Mustafa," bisik Laras lirih. "Ia memberi tahu bahwa bahaya terbesar bukanlah monster yang keluar dari gerbang, melainkan pengkhianatan yang bersembunyi di dalam bayangan kita sendiri."

🪷 🪷 🪷

Bara tertegun mendengar ucapan Laras. Angin malam yang berembus mendadak terasa jauh lebih menusuk hingga ke tulang hitamnya.

"Pengkhianatan?" ulang Bara dengan nada tidak percaya. "Maksudmu... salah satu dari rekan-rekan kita?"

"Aku tidak ingin menuduh siapa pun tanpa bukti, Bara," sahut Laras cepat, memegang pergelangan tangan Bara agar pemuda itu tetap tenang. "Namun kristal ini tidak pernah berbohong. Seseorang di antara kita telah membuka segel luar demi memancing Ravana datang."

"Itu tidak mungkin!" tegas Bara, menggelengkan kepala keras-keras. "Banyu dan Guntur bertaruh nyawa di garis depan. Fajar dan Bayu menyusun strategi tanpa cela. Mega, Embun, Samudra, serta Zahra... mereka semua mengalirkan seluruh energi jiwanya untuk membantu tebasanku!"

"Lalu bagaimana kau menjelaskan hilangnya Batu Jiwa Penyeimbang dari simpanan Tetua Samudra sebelum gerbang meledak?" tanya Laras balik, tatapannya menghujam lurus ke dalam iris mata Bara.

Bara membisu. Logikanya bergolak hebat mendapati kenyataan mengerikan tersebut. Sebelum Bara sempat membalas, kabut ungu di sekitar mereka mendadak bergulung liar, membentuk pusaran-pusaran kecil yang memancarkan suara bisikan gaib.

Pilihlah kepercayaanmu... atau saksikan mereka hancur satu per satu...

"Siapa di sana?!" bentak Bara, menarik pedang peraknya hingga berdenting nyaring membelah sunyi.

"Bara, waspada! Itu adalah Bisikan Ilusi!" seru Laras, melompat mundur dan menarik selendang sutranya yang mulai memancarkan pendar cahaya keemasan.

Dari dalam kabut ungu, muncul tiga sosok berbayangan hitam yang perlahan membentuk wujud Banyu Al-Fatih, Guntur Al-Ghazi, dan Fajar Nur-Zaman. Namun, mata ketiga bayangan itu menyala merah darah.

"Bara... mengapa kau meninggalkan kami dalam kegelapan?" desis bayangan Banyu, mengacungkan tombak gandanya dengan kejam.

"Kau membiarkan kami membusuk di dasar danau sementara kau bersenang-senang dengan Laras!" raung bayangan Guntur, menghantamkan perisainya ke air hingga menciptakan gelombang kejut.

"Jangan terpengaruh, Bara!" teriak Laras keras. "Itu bukan mereka! Kabut ini memanipulasi rasa bersalah dan keraguan di dalam dadamu!"

"Aku tahu!" seru Bara, melesat maju dengan kecepatan tinggi. Pedang peraknya menyabet lurus, membelah bayangan Banyu menjadi dua gumpalan asap. "Sahabatku tidak akan pernah mengucapkan kata-kata sesat seperti itu!"

Laras mengayunkan selendang sutranya, melilit leher bayangan Guntur dan menyalurkan api penyucian hingga ilusi tersebut hancur berkeping-keping. "Kita harus menemukan sahabat kita yang asli sebelum kabut ini meracuni pikiran mereka juga!"

🪷 🪷 🪷

Meskipun dua ilusi berhasil dimusnahkan, kabut ungu justru semakin pekat mengurung Bara dan Laras. Jarak pandang merosot tajam hingga kurang dari dua meter. Suara jeritan dan dentupan senjata bertubi-tubi mulai terdengar dari berbagai penjuru telaga.

"Bara! Di sebelah barat!" panggil Laras seraya menunjuk ke arah pendaran cahaya hijau yang meredup. "Itu aura penyembuh milik Mega dan Embun!"

"Ayo cepat!" perintah Bara, berlari melompati dedaunan teratai yang mengapung liar.

Namun baru beberapa langkah melesat, tanah di bawah air meledak. Rantai-rantai es berwarna ungu mencengkeram pergelangan kaki mereka berdua, menghentikan laju gerakan secara paksa.

"Aaghh!" ringis Laras saat energi es ungu itu mulai menyedot daya sihirnya.

"Laras!" Bara memutar tubuhnya, mengayunkan pedang perak untuk memutus rantai es yang mengikat Laras.

Lihat selengkapnya