Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

JEJAK PEDANG PERAK

Jejak Pedang Perak – Pertarungan skala kecil pertama Bara membuktikan ketajamannya.

---o0o---

Asap hitam pekat perlahan terurai disambut embusan angin malam yang menusuk tulang. Di atas sehelai daun teratai raksasa yang ternoda racun, Bara Al-Mustafa berlutut sembari memegang bahu kirinya. Darah segar berwarna merah pekat menetes basah, menembus jubah putihnya yang kini terkoyak. Belati beracun yang menancap di bahunya telah terlepas, namun sisa bisa hitam merayap pelan di permukaan kulitnya.

"Bara! Jangan banyak bergerak!" jerit Laras Al-Humaira penuh kecemasan. Meskipun energinya sendiri belum pulih sepenuhnya, Laras memaksa tubuhnya merayap mendekati Bara, meraba luka tusuk yang memancar hawa panas tersebut.

"Aku... aku masih bisa bertahan, Laras," bisik Bara dengan napas terengah-engah, gigi-giginya bertaut menahan nyerinya racun yang mulai menyebar.

Di sekeliling mereka, ketegangan meletup hebat. Banyu Al-Fatih menatap sekeliling dengan mata melotot murka, menggenggam erat tombak gandanya hingga buku-buku jarinya memutih. "Siapa di antara kalian yang melempar belati itu?! Tunjukkan dirimu, Pengkhianat!"

Guntur Al-Ghazi mengangkat perisai besinya tinggi-tinggi, melangkah pasang badan membentengi Bara dan Laras. "Jangan ada yang saling mendekat terlebih dahulu! Siapa pun yang melangkah tanpa perintah akan kuanggap musuh!"

"Tenanglah, Guntur, Banyu!" seru Fajar Nur-Zaman berusaha meredakan kepanikan, meskipun tangannya sendiri gemetar saat memegang busur energinya. "Jika kita saling curiga tanpa bukti, rencana pengkhianat ini justru akan berhasil sepenuhnya!"

"Tapi Bara terluka parah, Fajar!" potong Bayu Al-Asad dengan suara dingin, matanya liar memindai pergerakan angin di sekitarnya. "Seseorang di antara kita menggunakan racun Ular Hitam—racun terlarang yang hanya dimiliki oleh klan pembunuh rahasia."

"Mega, Embun, cepat obati Bara!" perintah Samudra At-Thahira tegas. Tongkat kayunya mendenting lembut di atas daun teratai, memancarkan gelombang bening yang menenangkan emosi meluap di area tersebut.

Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa segera melangkah mendekati Bara. Mega menangkupkan tangan di atas luka Bara, menyalurkan sinar hijau penyembuh, sementara Embun meneteskan penawar racun dari botol kristalnya.

"Racun ini sangat pekat," gumam Mega dengan dahi berpeluh dingin. "Kami butuh waktu untuk menetralkannya secara utuh."

"Kita tidak punya waktu," bisik Zahra Mentari sembari menunjuk ke arah kabut kegelapan di seberang telaga yang mendadak terbelah. "Lihat ke sana!"

Dari balik asap hitam yang memudar, sepuluh sosok bertopeng serigala dengan pakaian zirah serba hitam melangkah keluar dari bayangan pohon-pohon tua di tepi danau. Di tangan mereka, terhunus bilah-bilah pedang melengkung yang memancarkan pendaran racun serupa dengan belati yang melukai Bara.

"Pasukan Kelam Klan Ular Hitam..." desis Bayu Al-Asad, mengenali ukiran di dada para prajurit tersebut. "Mereka bukan ilusi. Mereka pembunuh berdarah dingin yang sebenarnya."

🪷 🪷 🪷

Pemimpin pasukan bertopeng serigala itu melangkah ke depan, mengayunkan pedangnya yang memercikkan lendir racun ke permukaan air. Suara tawa parau keluar dari balik topeng besinya, bergema dingin melintasi sunyinya telaga.

"Serahkan keturunan Al-Mustafa dan gadis pelita itu," perintah sang Pemimpin Klan Ular Hitam dengan nada meremehkan. "Jika kalian menyerah sekarang, kami akan membiarkan sisanya mati dengan cepat tanpa rasa sakit."

"Langkahi dulu mayatku, Anjing Pembunuh!" bentak Banyu Al-Fatih murka. Dengan satu hentakan kaki yang memecah permukaan air, Banyu melesat seperti anak panah, mengarahkan tombak gandanya tepat ke leher sang pemimpin.

Tring! Cring!

Dua prajurit bertopeng melompat menangkis serangan Banyu, menciptakan letupan percikan api di udara. Pertarungan jarak dekat meletus seketika di atas lembaran-lembaran daun teratai.

"Guntur, Bayu, lindungi para penyembuh!" teriak Fajar Nur-Zaman seraya menarik tali busurnya. Tiga anak panah cahaya meluncur deras, menancap tepat di dada tiga prajurit yang mencoba menerobos dari sisi kiri.

Guntur Al-Ghazi menghantamkan perisainya ke tanah, menerjang maju bagaikan banteng terluka. "Kalian tidak akan menyentuh Bara dan Laras!" bentaknya, mengibaskan perisai besinya hingga memuntahkan gelombang kejut yang melempar dua prajurit pembunuh ke dalam telaga.

Namun, jumlah musuh terlalu banyak dan gerakan mereka sangat lincah. Masing-masing pembunuh bergerak dalam formasi silang yang saling melengkapi, memanfaatkan celah sempit di atas air danau.

"Bara, kau harus tetap berbaring!" tahan Laras saat melihat pemuda itu memegang hulu pedang peraknya, berusaha menopang tubuhnya untuk berdiri.

"Aku tidak bisa diam saja melihat mereka bertaruh nyawa demi aku, Laras," sahut Bara parau. Pandangannya sempat kabur akibat pengaruh racun, namun dorongan tekad di dalam dadanya memaksa darahnya kembali bergolak panas.

"Tapi lukamu belum pulih sepenuhnya!" jerit Embun Al-Khansa panik saat melihat racun hitam masih membakar sebagian bahu Bara.

"Mega, Embun, fokuskan sihir kalian untuk membentengi Laras dan Zahra," pangkas Bara dingin. Ia berdiri tegak, menarik pedang peraknya dari sarung kulitnya. Denting nyaring bilah perak itu memotong hiruk-pikuk pertempuran.

Tiga prajurit pembunuh bertopeng melihat Bara berdiri sendirian di luar barikade perisai Guntur. Matanya berkilat penuh hasrat membunuh.

"Target utama menyerahkan diri!" seru salah satu pembunuh. Ketiganya melompat bersamaan dari tiga arah berbeda, mengarahkan bilah melengkung beracun mereka lurus ke dada, leher, dan jantung Bara.

"Bara! Awas!" teriak Laras hysteris.

Bara tidak menghindar. Ia memejamkan matanya sekejap, menghirup napas dalam-dalam, lalu membiarkan aliran energi pedang peraknya menyatu dengan detak jantungnya. Dalam hitungan seperdetik, matanya terbuka lebar, memancarkan binar keemasan yang tajam.

Swoosh!

Satu tebasan horizontal yang amat cepat dan presisi terayun di udara. Garis cahaya perak melengkung sempurna bagaikan bulan sabit, memotong tiga bilah beracun musuh menjadi dua sebelum menyapu dada ketiga pembunuh tersebut.

Brak!

Ketiga prajurit bertopeng jatuh terhempas ke dalam air, pedang mereka hancur berkeping-keping tanpa sempat menyentuh selembar pun dari jubah putih Bara.

🪷 🪷 🪷

Ketajaman tebasan Bara Al-Mustafa membuat seluruh pertempuran terhenti sejenak. Pemimpin Klan Ular Hitam menyipitkan matanya di balik topeng besi, menyadari bahwa pemuda di hadapannya bukan sekadar ahli pedang biasa.

"Tebasan Kilat Perak..." gumam sang Pemimpin penuh kewaspadaan. "Kau memang pantas menjadi ancaman bagi Tuan Kami. Tapi dengan tubuh beracun seperti itu, berapa kali lagi kau bisa mengayunkan Pedang Perakmu?"

Lihat selengkapnya