Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

BAYANGAN DARI KEDALAMAN

Bayangan dari Kedalaman – Kemunculan monster danau yang mengganggu kedamaian.

---o0o---

Keheningan yang mencekam mencengkeram tebing karang di atas Pedepokan Teratai Hitam. Kata-kata pengkhianat itu bergema licik, menghantam kesadaran Bara Al-Mustafa dan kawan-kawannya bagaikan petir di tengah malam telanjang.

"Wadah palsu... apa maksudmu dengan ucapan gila itu?!" bentak Bara Al-Mustafa, menautkan jemarinya di atas hulu pedang perak. Matanya menyala penuh amarah, melangkah pasang badan menutupi Laras Al-Humaira yang masih terpaku memucat.

Laras memegang dadanya yang berdenyut kencang. Ia menatap sosok gadis bergaun putih di dalam peti kristal, wajah yang benar-benar serupa dengan dirinya tanpa cela sedikit pun. "Bara... jantungku... getarannya selaras dengan peti itu."

"Jangan mendengarkannya, Laras!" tegas Bara dengan nada mantap, menoleh sekilas untuk memberikan kepastian. "Kau adalah Laras yang selama ini berjuang bersama kami. Tak ada wadah palsu di antara kita!"

"Betapa manisnya kemesraan kalian," ejek sosok pengkhianat bermata dingin yang berdiri di samping peti mati kristal. "Tapi takdir tidak peduli pada perasaan hampa manusia biasa."

"Cukup omong kosong ini!" jerit Banyu Al-Fatih seraya menghentakkan tombak gandanya ke tanah. "Siapa kau sebenarnya, dan mengapa kau mengkhianati kami?!"

Pengkhianat itu menyeringai, mengangkat tangannya yang terbalut jubah hitam. "Aku adalah cermin dari keserakahan kalian sendiri. Dan hari ini, penghuni kedalaman danau akan terbangun untuk menagih janji darah!"

Sebelum Banyu melesat menyerang, pengkhianat itu menghantamkan Batu Jiwa Penyeimbang langsung ke atas tutup peti mati kristal. Cahaya keemasan yang semula suci mendadak meledak, terkontaminasi oleh arus energi kelam berbau busuk.

"Tidakkah ini bahaya?!" teriak Fajar Nur-Zaman memegang kompas energinya yang retak seketika. "Getaran ini bukan berasal dari kuil... ini dari dasar telaga!"

Bummm!

Guncangan dahsyat meretakkan tebing karang raksasa di sekitar mereka. Air Danau Tujuh Misteri meletup tinggi ke angkasa, memuntahkan gelombang hitam setinggi sepuluh meter yang menggulung ribuan kelopak teratai di permukaannya.

Dari tengah pusaran air yang membual pekat, muncul bayangan raksasa bermata merah menyala. Sebuah monster purba berwujud tentakel bertanduk kristal keluar dari kedalaman yang paling kelam, melolongkan raungan purba yang merobek malam.

🪷 🪷 🪷

Raungan monster danau itu memicu gelombang kejut yang menghempaskan batuan karang di sekitar Pedepokan Teratai Hitam. Kabut hitam beracun membubung tinggi, menutupi sinar rembulan dan melempar seluruh kawasan ke dalam kegelapan yang pekat.

"Monster Leviathan Telaga!" seru Samudra At-Thahira, menggenggam erat tongkat kayunya untuk menahan terpaan angin kencang. "Makhluk purba yang disegel ribuan tahun lalu oleh klan Al-Mustafa telah lepas!"

"Itu adalah Makhluk Penjaga Gerbang Kelam!" tambah Bayu Al-Asad yang berjuang mengendalikan pusaran angin agar kawan-kawannya tidak terlempar ke jurang. "Energi Batu Jiwa telah merusak kesadarannya!"

"Banyu, Guntur, kunci posisi kalian!" perintah Bara dengan suara lantang, mengibaskan jubah putihnya yang berkibar diterpa angin badai. "Monster ini mengincar energi kehidupan di sekitar kuil!"

"Serahkan padaku dan Guntur!" seru Banyu Al-Fatih, melompat ke atas batuan terjal dengan tombak ganda berkilat listrik. "Guntur, tahan tentakel sebelah kirinya!"

"Dinding Pelindung Besi!" bentak Guntur Al-Ghazi, menghantamkan perisainya hingga memunculkan pendaran gelombang baja yang menangkis tebasan tentakel bersisik tajam milik sang monster.

Brakkk!

Benturan keras membuat air danau berkecak hebat. Monster danau itu mengibaskan lima tentakel raksasa lainnya secara bersamaan, merobek permukaan air dan mengincar para penyembuh di garis belakang.

"Awas! Mega, Embun, tetap di balik lindunganku!" teriak Zahra Mentari, melompat lincah melempar belati-belati surya untuk memotong arah serbuan tentakel.

"Sinar Penyucian Keheningan!" jerit Mega Nur-Aisyah bersama Embun Al-Khansa, menangkupkan tangan membentuk perisai hijau bening di sekeliling kelompok.

"Laras, kau tidak apa-apa?" tanya Bara, menggenggam tangan Laras yang masih tampak sangat terguncang oleh kenyataan di dalam kuil.

"Aku... aku masih belum mengerti, Bara," bisik Laras dengan mata berkaca-kaca, menatap peti mati kristal yang kini mulai terangkat oleh pusaran energi monster. "Tapi aku tahu... jika monster itu menguasai Batu Jiwa, dunia ini akan hancur."

"Kalau begitu, mari kita selesaikan ini bersama," ucap Bara tulus, mengusap lembut jari-jemari Laras sebelum menarik pedang peraknya. "Tunjukkan pada mereka siapa dirimu yang sebenarnya!"

Laras mengangguk pelan, menyapu air matanya dan mengencangkan selendang sutranya. Binar keberanian kembali berkilat di matanya. "Mari kita lindungi kedamaian ini!"

🪷 🪷 🪷

Monster danau itu kembali melolong, mengibaskan ekor raksasanya yang bertanduk kristal. Ledakan racun pekat menyemprot dari pori-pori kulitnya, membakar air telaga hingga berubah menjadi uap asam yang sangat korosif.

"Uap ini merusak pertahanan kita!" peringatkan Fajar Nur-Zaman, mengusap matanya yang perih. "Jika kita menghirupnya terlalu lama, paru-paru kita akan terbakar!"

"Bayu! Tiup racun ini kembali ke arah monster itu!" seru Guntur yang memegang perisainya dengan tangan berdarah akibat menahan gempuran fisik tanpa henti.

"Taufan Pemurni Air!" pekik Bayu Al-Asad, memutar tubuhnya di udara dan menciptakan badai angin puyuh yang menyapu uap asam keluar dari area kuil.

Namun, sang monster tidak tinggal diam. Kristal di atas kepalanya menyala merah darah, menembakkan gelombang laser energi destruktif lurus ke arah Banyu dan Fajar yang berada di posisi garis depan.

Swooshhh!

Lihat selengkapnya