Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

PERJUMPAAN PELINDUNG

Perjumpaan dengan Sang Pelindung – Banyu Al-Fatih menyelamatkan desa di tepi danau.

---o0o---

Delapan garis cahaya ungu kemerahan melintasi langit malam, melesat ke berbagai penjuru benua seperti bintang jatuh yang membawa kabar buruk. Bara Al-Mustafa dan Laras Al-Humaira berdiri menatap angkasa, sementara ketujuh sahabatnya terdiam menyaksikan pecahan Batu Jiwa Penyeimbang yang terpencar.

"Pecahan-pecahan itu... salah satunya jatuh tidak jauh dari sini," bisik Fajar Nur-Zaman sembari mencengkeram kompas navigasinya yang bergetar hebat. "Garis jalurnya mengarah tepat ke Desa Teratai Hilir di pesisir selatan danau."

"Desa Teratai Hilir?" Banyu Al-Fatih tersentak, wajahnya mengeras seketika. "Itu desa pemukiman para nelayan tua yang tak memiliki pertahanan sihir sama sekali!"

"Jika pasukan Orde Bayangan mengejar pecahan itu, warga desa akan menjadi sasaran empuk," tambah Guntur Al-Ghazi, mengencangkan tali perisai besinya di lengan.

"Kita harus bergerak sekarang," tegas Bara Al-Mustafa, menatap Banyu dengan tatapan percaya. "Banyu, kau dan Guntur adalah benteng terdepan kita. Ambil posisi mendahului rombongan untuk mengamankan batas Desa Teratai Hilir."

"Serahkan padaku, Bara!" jawab Banyu Al-Fatih mantap. Tangannya menggenggam erat tombak ganda kesayangannya yang mulai memancarkan pendar arus listrik biru. "Aku tidak akan membiarkan satu warga pun terluka."

"Aku ikut bersamamu, Banyu!" seru Guntur Al-Ghazi seraya menghentakkan kakinya. "Perisaiku siap menahan badai apa pun yang mereka kirimkan!"

"Mega, Embun, persiapkan ramuan pemulih jika ada warga yang terpapar racun," perintah Laras Al-Humaira, mengiringi langkah Banyu dan Guntur yang mulai berlari menembus rumpun teratai.

"Kami siap, Laras!" sahut Mega Nur-Aisyah cepat, memeriksa kantong obat di pinggangnya bersama Embun Al-Khansa.

Banyu Al-Fatih melompati bebatuan licin di tepi air dengan kecepatan tinggi. Di dalam dadanya, bergolak tekad membara untuk melindungi orang-orang lemah. Ketika bau asap pembakaran dan jeritan ketakutan mulai tercium dari balik bukit, Banyu tahu bahwa bencana telah melanda desa tersebut sebelum mereka sempat menginjakkan kaki.

"Guntur! Percepat langkahmu!" teriak Banyu, matanya menangkap kobaran api merah menyelimuti atap-atap rumah jerami di tepi telaga.

🪷 🪷 🪷

Jeritan histeris membumbung tinggi ke angkasa malam bersama asap hitam yang membakar permukiman kayu Desa Teratai Hilir. Puluhan prajurit bertopeng besi dengan pakaian zirah legap menggeledah rumah-rumah, melempar obor api, dan menggiring warga desa yang tak berdaya ke lapangan terbuka.

"Di mana pecahan kristal jatuh itu?! Katakan sebelum kuagagalkan nyawa kalian!" bentak seorang komandan sersan berzirah duri hitam, mengacungkan pedang bergerigi ke leher seorang kepala desa tua yang berlutut gemetar.

"K-kami tidak tahu, Tuan... Kami hanya nelayan miskin..." ratap sang Kepala Desa dengan suara parau bercampur tangis.

"Jawaban yang salah!" seru komandan itu kejam, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi siap memenggal leher pria tua tersebut.

"Hentikan Tangan Kotormu!"

Tring! CRASH!

Sebuah kilatan cahaya biru melesat cepat seperti petir dari arah bukit. Tombak ganda milik Banyu Al-Fatih menghantam pedang bergerigi sang komandan hingga patah berkeping-keping. Udara di lapangan bergetar hebat akibat pendaran arus listrik yang meledak dari ujung tombak.

Banyu Al-Fatih mendarat mulus di antara sang Kepala Desa dan pasukan musuh, tubuhnya tegap bagaikan dinding karang tak tertembus.

"Siapa kau, Bocah Tengil?!" teriak komandan musuh yang terperanjat, memegang tangannya yang kebas akibat sengatan listrik.

"Aku adalah Banyu Al-Fatih! Pelindung mereka yang tertindas!" bentak Banyu dengan suara menggelegar yang menghentikan kerusuhan di seluruh lapangan.

Guntur Al-Ghazi mendarat di samping Banyu dengan dentuman keras, menghantamkan perisai besinya ke tanah hingga tercipta retakan dalam. "Dan aku Guntur Al-Ghazi! Pasukan busuk seperti kalian tak punya hak menyentuh rakyat biasa!"

"Kurang ajar! Habisi kedua ksatria ini sekarang juga!" perintah sang komandan murka.

Belasan prajurit berzirah duri menerjang maju dari segala arah, mengayunkan kapak dan tombak beracun.

"Guntur, jaga warga di belakangmu!" seru Banyu seraya memutar tombak gandanya hingga membentuk pusaran badai listrik biru.

"Serahkan padaku! Dinding Gelombang Baja!" balas Guntur, memancarkan kubah energi pelindung yang membentengi ratusan warga desa dari serbuan senjata musuh.

Banyu melangkah maju sendirian menghadapi sepuluh prajurit terdepan. Dengan teknik tarian tombak yang sangat presisi, ia menangkis, memukul mundur, dan menyengat setiap musuh yang mendekat tanpa memberi mereka kesempatan untuk membalas.

"Gaya Tombak Samudra: Hantaman Gelombang Biru!" pekik Banyu, menusukkan tombaknya ke udara. Arus air bercampur listrik menyapu bersih enam prajurit musuh hingga terlempar ke dalam telaga.

🪷 🪷 🪷

Meskipun Banyu dan Guntur berhasil menahan serangan awal, situasi di Desa Teratai Hilir mendadak kian memburuk. Dari dalam danau, muncul tiga sosok raksasa berwujud monster Golem Air yang telah terkontaminasi oleh racun api hitam. Tubuh mereka terbuat dari lumpur dan es busuk yang memancarkan bau menyengat.

"Ternyata ada kejutan lain!" maki Guntur Al-Ghazi, menahan beban berat saat salah satu Golem Air menghantamkan tinju raksasanya ke atas perisai baja miliknya.

"Guntur, bertahanlah!" seru Banyu, melompat menancapkan tombaknya ke bahu Golem Air tersebut untuk mengalirkan sengatan listrik masif hingga monster lumpur itu hancur berhamburan.

Namun, pecahan kristal yang dicari musuh rupanya tersangkut di atas puncak menara pengintai desa yang kini sedang terbakar hebat. Seorang anak kecil terlihat menangis histeris di bawah menara yang mulai roboh.

"Ibu! Tolong aku!" jerit anak kecil itu di tengah kepungan kobaran api dan lelehan asam Golem Air.

Lihat selengkapnya