Gemuruh Pertama – Guntur Al-Ghazi bergabung setelah mengintai ancaman yang sama.
---o0o---
Langit utara bergetar hebat, membiaskan pendaran warna merah darah yang mengerikan di atas garis horison. Bayu Al-Asad mencengkeram dadanya, matanya terbelalak menatap kepulan asap pekat yang membumbung tinggi dari balik Pegunungan Angin.
"Tanah kelahiranku... Klan Serigala Angin..." bisik Bayu dengan suara bergetar. Tangannya yang memegang belati angin berguncang hebat akibat gejolak emosi yang tak tertahan.
"Bayu, tenanglah!" panggil Fajar Nur-Zaman, memegang erat bahu sahabatnya. Namun, raut wajah Fajar sendiri tak kalah pucat saat melihat kompas energinya berputar liar. "Getaran di utara bukan sekadar serangan biasa. Ada tiga ribu prajurit besi Orde Bayangan yang sedang mengepung lembah klanmu!"
Bara Al-Mustafa melangkah mendekat, mengamati langit utara dengan tatapan tajam dan penuh keteguhan. "Kita tidak akan membiarkan tanah kelahiran kalian hancur. Kita berangkat ke Pegunungan Angin sekarang juga!"
"Tapi Bara," sela Samudra At-Thahira seraya menunjuk Banyu Al-Fatih yang masih terbaring dipangkuan Mega dan Embun, "Banyu masih teratur napasnya akibat pertarungan di Desa Teratai Hilir. Jika kita bergerak penuh dengan kecepatan tinggi, kondisinya bisa memburuk."
"Aku tidak apa-apa, Tetua..." bisik Banyu Al-Fatih parau. Ia berusaha duduk tegak, walau wajahnya bercucuran keringat dingin. "Nyawa keluarga Bayu dan Fajar lebih berharga daripada luka lenganku ini."
"Jangan konyol, Banyu!" tegur Laras Al-Humaira lembut namun tegas. "Kau telah membentengi warga desa dengan seluruh jiwamu. Jangan paksakan tubuhmu runtuh sebelum waktunya."
Di tengah keraguan dan dilema yang mencekam tersebut, guncangan berat terasa dari balik semak-semak teratai tebal di tepi bukit. Suara dentuman besi beradu dengan batuan keras bergema nyaring, mengejutkan seluruh kelompok ksatria.
"Siapa di sana?!" bentak Zahra Mentari, refleks mencabut dua belati suryanya dan mengambil posisi siaga.
Sesosok pria berbadan tegap berzirah berat melangkah keluar dari dalam kabut asap. Perisai besi berukir naga di tangannya dipenuhi torehan luka tebasan dan jelaga hitam, namun matanya memancarkan binar keberanian yang tak tergoyahkan.
"Guntur!" seru Bara Al-Mustafa penuh kejutan.
Guntur Al-Ghazi menghentakkan bawah perisainya ke tanah, memicu dentuman gemuruh yang memecah keheningan. "Maaf membuat kalian cemas, Saudara-saudaraku. Aku baru saja kembali dari pengintaian di garis depan Pegunungan Angin!"
🪷 🪷 🪷
Kehadiran Guntur Al-Ghazi membawa hembusan napas lega sekaligus kepastian baru bagi rombongan Bara. Bayu Al-Asad langsung memburu melangkah mendekati ksatria perisai tersebut.
"Guntur! Bagaimana keadaan di Klan Serigala Angin?!" desak Bayu penuh kecemasan. "Apakah gerbang lembah kami masih bertahan?!"
Guntur menghela napas berat, menyapu keringat bercampur jelaga di dahinya. "Pasukan pertahanan klanmu bertarung dengan gigih, Bayu. Namun musuh yang mereka hadapi bukan sekadar prajurit biasa. Jenderal Ravana sendiri yang memimpin gempuran bersama Meriam Pembakar Jiwa!"
"Meriam Pembakar Jiwa?" ulang Fajar Nur-Zaman terperanjat. "Senjata sihir terlarang yang mampu melumerkan benteng batu dalam sekejap?!"
"Benar, Fajar," angguk Guntur dengan raut wajah sangat serius. "Itulah alasan mengapa aku langsung kembali setelah menerobos garis belakang musuh. Aku telah mengintai pola pertahanan dan kelemahan barisan meriam mereka."
"Luar biasa, Guntur!" puji Samudra At-Thahira mengangguk kagum. "Informasimu adalah kunci kemenangan kita."
Laras Al-Humaira melangkah ke tengah lingkaran, menatap Guntur dan Bara secara bergantian. "Guntur, bagaimana strategi terbaik untuk menerobos barisan meriam itu tanpa memancing perhatian pasukan utama Ravana?"
Guntur menancapkan belati pendeknya ke atas tanah basah, menggambar peta taktik sederhana. "Pasukan besi Ravana berkumpul di Celah Tengkorak. Mereka membagi lini menjadi tiga lapis. Jika kita menyerang secara terbuka, Meriam Pembakar Jiwa akan meratakan kita sebelum sempat mendekati gerbang klan."
"Artinya kita butuh pengalihan perhatian skala besar," potong Bayu Al-Asad, matanya berkilat penuh dendam. "Aku akan memancing perhatian pasukan utama!"
"Tidak, Bayu. Kau dan Fajar adalah kunci untuk menembus lembah," tegas Bara Al-Mustafa. Bara menyentuh hulu pedang peraknya. "Guntur, kau yang paling mengenali medan pengintaian itu. Bisakah kau memimpin barikade terdepan bersama Banyu?"
Guntur menatap Banyu Al-Fatih yang berdiri dibantu oleh Mega dan Embun. "Banyu telah mengorbankan jiwanya di desa ini. Biar aku yang menjadi dinding tunggal kalian kali ini! Gemuruh perisaiku akan memecahkan konsentrasi meriam mereka!"
"Aku siap mendampingimu dari garis tengah, Guntur!" seru Zahra Mentari bersemangat, mengacungkan belati suryanya.
"Mega, Embun, persiapkan pelindung sihir penyerap panas," perintah Laras dengan anggun. "Kita tidak boleh membiarkan satu pun percikan api meriam menyentuh barisan kita."
🪷 🪷 🪷
Rombongan ksatria melesat cepat menembus bukit-bukit batu menuju Celah Tengkorak di kaki Pegunungan Angin. Hawa udara di sekitar mereka terasa kian panas dan menyengat, dipenuhi bau belerang serta racun api yang membakar pepohonan kuno.
Dari balik tebing karang raksasa, terlihat pemandangan yang amat mengerikan. Tiga unit Meriam Pembakar Jiwa berukuran raksasa terpasang gagah di atas bukit batu, memuntahkan bola-bola api hitam bertubi-tubi ke arah gerbang batu Klan Serigala Angin.
DUAARRR! DUAARRR!
Dinding gerbang batu yang megah retak parah, melepaskan gelombang asap dan jeritan para ksatria serigala yang bertahan mati-matian di atas benteng.
"Gerbang utama tidak akan bertahan lebih dari sepuluh menit!" teriak Fajar Nur-Zaman menunjuk retakan di dinding batu.
"Pasukan perintis musuh mulai memanjat reruntuhan!" tambah Bayu Al-Asad dengan gigi bertaut murka.
"Semuanya, ambil posisi!" perintah Bara Al-Mustafa dengan nada menggelegar. "Guntur, wujudkan gemuruhmu!"
Guntur Al-Ghazi berlari paling depan, melompati jurang batu karang tanpa ragu sedikit pun. Tubuhnya berzirah berat melayang di udara sebelum mendarat dengan dentuman dahsyat di tengah-tengah barisan depan prajurit besi Orde Bayangan.
BUMMM!
"Siapa yang berani mengganggu garis belakang?!" teriak seorang komandan meriam berzirah merah murka.
"Aku adalah Guntur Al-Ghazi! Gemuruh yang akan meremukkan kesombongan kalian!" bentak Guntur membahana.