Teka-Teki Teratai Tujuh Warna – Penemuan segel kuno yang terkuak.
---o0o---
Badai racun hitam bergulung gila di atas langit Pegunungan Angin, menyisakan reruntuhan Kuil Angin Suci yang merintih kedinginan. Binar merah dari kepergian Roh Ravana meninggalkan keputusasaan yang merayap di antara puing-puing batu yang terbakar.
"Lembah Tengkorak Abadi..." bisik Bara Al-Mustafa, menatap ke arah timur dengan mata emasnya yang menyala penuh dendam. Tangannya mengepal erat di hulu pedang peraknya. "Tempat klan Al-Mustafa dibantai... Dia sengaja memancing kita ke kuburan leluhurku."
"Bara, jangan biarkan kemarahan membuai langkahmu," sela Laras Al-Humaira lembut, menyentuh lengan Bara. Binar keemasan di matanya berkilat cemas. "Ravana kini menjadi roh abadi yang menyatu dengan pecahan Batu Jiwa kedua. Serangan tanpa perhitungan hanya akan menyerahkan pecahan pertama di tanganku kepadanya."
"Laras benar, Bara," tambah Samudra At-Thahira, melangkah maju dengan tongkat kayunya yang bergetar pelan. "Lembah Tengkorak Abadi dilindungi oleh Segel Teratai Tujuh Warna, sebuah formasi sihir purba yang dibuat oleh leluhurmu untuk mengunci iblis kedalaman."
"Segel Teratai Tujuh Warna?" ulang Fajar Nur-Zaman terperanjat. Ia berlutut di tanah, menyapu jelaga hitam untuk mengungkapkan sebuah prasasti batu tua yang tertimbun di dasar lantai kuil. "Prasasti ini... ini memuat peta koordinat tujuh warna segel itu!"
"Biar kuperiksa!" seru Bayu Al-Asad yang bergegas mendekat bersama Zahra Mentari. "Jika segel itu masih ada, mengapa Ravana bisa bebas berkeliaran di sana?!"
"Karena segel itu tidak utuh lagi," jawab sebuah suara lemah dari balik pilar batu yang runtuh.
Tetua Klan Serigala Angin berjalan terengah-engah, dibantu oleh Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa yang menyanggah tubuh rentanya. Matanya yang kabur menatap Bara dengan rasa hormat yang mendalam.
"Anak muda dari Al-Mustafa..." panggil Tetua Klan parau. "Segel purba itu membutuhkan kekuatan inti dari Teratai Tujuh Warna untuk diaktifkan kembali. Tanpa memecahkan teka-teki segel tersebut, siapapun yang melangkahkan kaki ke Lembah Tengkorak Abadi akan hancur menjadi debu jiwa."
"Katakan pada kami, Tetua," tegas Banyu Al-Fatih yang berdiri tegak disamping Guntur Al-Ghazi meski tubuhnya masih dibalut perban. "Bagaimana cara memecahkan teka-teki segel kuno itu?!"
Tetua Klan menunjuk ke arah prasasti batu yang diusap Fajar. "Tujuh warna, tujuh penguji jiwa, dan satu kebenaran yang tersembunyi di balik kebenaran."
🪷 🪷 🪷
Prasasti batu tua di dasar lantai Kuil Angin Suci perlahan memancarkan pendaran cahaya tujuh warna: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Garis-garis sihir kuno terukir rumit, membentuk pola kelopak teratai raksasa yang saling mengunci di tengah-tengah ukiran tersebut.
"Luar biasa..." gumam Fajar Nur-Zaman, jarinya menelusuri ukiran huruf-huruf purba yang terpahat melingkar. "Ini bukan sekadar teka-teki kata, ini adalah susunan kunci elemen jiwa yang membutuhkan resonansi dari kita bertujuh!"
"Resonansi jiwa?" tanya Zahra Mentari, menunduk menatap belati suryanya. "Maksudmu, setiap dari kita mewakili salah satu warna kelopak teratai itu?"
"Tepat sekali, Zahra," sahut Samudra At-Thahira seraya mengetukkan tongkatnya. "Merah untuk keberanian tempaan api, Jingga untuk gairah angin, Kuning untuk fajar harapan, Hijau untuk kesucian hidup, Biru untuk ketenangan air, Nila untuk kedalaman pelindung, dan Ungu untuk keagungan jiwa teratai."
"Tujuh elemen... tujuh ksatria," bisik Laras Al-Humaira, menyadari keselarasan yang sempurna. "Ini bukan kebetulan bahwa kita berkumpul di sini hari ini."
"Tapi bagaimana cara membuka segel ini?!" desak Bayu Al-Asad tidak sabar, matanya mengerling tajam ke arah asap hitam yang masih menggumpal di utara. "Setiap detik yang kita buang adalah kesempatan bagi Ravana untuk memperkuat tubuh rohnya!"
"Tenanglah, Bayu," tegur Guntur Al-Ghazi tenang. Ia menepuk perisai besinya yang masih memiliki retakan halus. "Langkah terburu-buru hanya akan menjebak kita dalam jerat musuh. Fajar, bacakan ukiran pertama pada prasasti itu!"
Fajar mengangguk cepat, membersihkan sisa debu dari permukaan prasasti. "Dengarkan baik-baik. Ukiran ini berbunyi: Ketika air membasuh api keberanian, dan angin menyapu fajar keheningan, perisai bumi akan menopang keagungan teratai yang mekar di atas keputusasaan."
"Kata-katanya sangat kiasan," kata Mega Nur-Aisyah mengernyitkan dahi. "Apa artinya 'air membasuh api keberanian'?"
"Itu adalah petunjuk urutan pengaliran energi kita!" teriak Bara Al-Mustafa tiba-tiba, matanya berbinar cerah saat menyadari maksud sebenarnya. "Banyu, kau adalah air. Aku adalah api keberanian. Kita harus menyatukan garis energi kita terlebih dahulu pada titik koordinat pertama!"
"Aku mengerti!" sahut Banyu Al-Fatih mantap, melangkah mendekati sisi kiri prasasti. "Mari kita mulai penyucian segel kuno ini!"
🪷 🪷 🪷
Banyu Al-Fatih dan Bara Al-Mustafa meletakkan telapak tangan mereka di atas ukiran kelopak biru dan merah pada prasasti kuno. Energi air biru jernih milik Banyu mengalir deras, menyatu dengan pendaran api perak milik Bara. Prasasti itu menggelegar, melepaskan gelombang cahaya suci yang mengangkat seluruh lantai kuil ke udara.
BUMMM!
Namun, alih-alih membuka pintu segel, reaksi sihir kuno tersebut mendadak terkontaminasi oleh racun es ungu sisa gempuran Ravana. Pola teratai pada prasasti berubah warna menjadi hitam pekat, menembakkan ribuan duri energi es yang menyasar para ksatria.
"Awas! Sihir pelindung segel ini terdistorsi oleh aura kegelapan Ravana!" jerit Fajar Nur-Zaman melompat mundur.
"Dinding Pelindung Besi!" bentak Guntur Al-Ghazi, melompat pasang badan di depan Mega dan Embun, menahan hujan duri es dengan perisai tebalnya.
Tring! Tring! CRASH!