Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

KEPUTUSAN MERINGKIK

Keputusan Meringkik – Para pemuda memutuskan membentuk aliansi awal.

---o0o---

Kata-kata Laras Al-Humaira bergema tajam di pelataran Pedepokan Angin Suci, menghantam keheningan bagai dentuman meriam purba. Kenyataan bahwa ibu kandung Bara Al-Mustafa masih hidup dan berada dalam cengkeraman Kaisar Raja Penguasa Kegelapan membuat napas semua orang tertahan.

"Ibu... masih hidup?" bisik Bara Al-Mustafa. Suaranya gemetar, matanya melebar menatap ruang hampa dengan pandangan yang berguncang hebat. "Selama lima belas tahun ini... aku percaya beliau telah gugur dalam pembantaian klan..."

Laras memegang erat kedua tangan Bara, menyalurkan kehangatan dari Mahkota Teratai Tujuh Warna di dadanya. "Visi itu sangat jelas, Bara. Beliau terbelenggu di altar terdalam Lembah Tengkorak Abadi. Energi jiwanya digunakan sebagai penopang segel kegelapan Kaisar."

"Biadab! Benar-benar iblis tak berjiwa!" bentak Bayu Al-Asad, memukul pilar batu di sampingnya hingga retak. "Mereka menawan seorang ibu hanya untuk dijadikan wadah sihir!"

"Bara, kita tidak bisa bertindak gegabah," tegur Samudra At-Thahira, melangkah maju sambil menopang diri pada tongkat kayunya. "Jika separuh kesadaran Kaisar telah menyeberang, Lembah Tengkorak Abadi kini bukan lagi sekadar sarang Ravana. Itu telah menjadi benteng kematian."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Tetua?!" sela Banyu Al-Fatih dengan napas memburu. "Apakah kita hanya akan duduk diam sementara ibu dari saudara kita disiksa di sana?!"

"Tentu saja tidak!" sahut Guntur Al-Ghazi mantap, menghentakkan dasar Perisai Naga Emas ke tanah hingga memicu getaran halus. "Tapi menyerbu ke sana sendirian sama saja dengan bunuh diri!"

Bara perlahan mengepalkan tangannya. Rasa syok di wajahnya perlahan luntur, berganti menjadi kobaran tekad yang sangat dingin dan mematikan. Ia menatap satu per satu wajah kawan-kawannya.

"Aku akan pergi ke Lembah Tengkorak Abadi," ucap Bara dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Dengan atau tanpa pasukan, aku akan membebaskan ibuku."

"Kau tidak akan pergi sendirian, Bara!" tegas Fajar Nur-Zaman, melangkah berdiri tepat di sisi Bara. "Kau adalah pemimpin kami. Duka milikmu adalah duka kami juga!"

"Benar!" tambah Zahra Mentari, mengacungkan belati suryanya yang memancarkan pendar keemasan. "Kita telah mengarungi badai bersama sejak awal. Kita tidak akan membiarkanmu melangkah sendirian ke sarang musuh!"

🪷 🪷 🪷

Embusan angin malam mengibaskan jubah para ksatria di atas reruntuhan benteng Klan Serigala Angin. Di bawah rembulan yang tertutup kabut tipis, sepuluh pemuda dan tetua berkumpul mengelilingi meja batu kuno tempat peta benua dibentangkan.

"Jika kita ingin menembus Lembah Tengkorak Abadi dan menghadapi kesadaran Kaisar, kekuatan kita yang sekarang belum cukup," buka Samudra At-Thahira dengan raut wajah sangat serius. Tangannya menunjuk tiga titik utama di peta. "Klan Serigala Angin telah bangkit, namun klan-klan sekutu lainnya di Benua Barat masih terpecah dan saling curiga."

"Tetua benar," sahut Fajar Nur-Zaman, menggeser kompas energinya ke atas peta. "Klan Merpati Putih di utara dan Klan Karang Samudra di selatan masih mengunci gerbang mereka. Mereka belum tahu bahwa Kaisar telah menyeberangkan kesadarannya."

"Kalau begitu kita harus menyatukan mereka!" seru Bayu Al-Asad tegas. "Kita harus membentuk satu aliansi utuh di bawah satu panji perlawanan!"

Laras Al-Humaira melangkah mendekati meja, memandangi kawan-kawannya dengan tatapan anggun namun penuh kewibawaan. "Aliansi ini tidak bisa hanya didasarkan pada rasa takut terhadap musuh. Kita butuh ikatan jiwa yang setara. Aliansi Teratai Purba harus resmi didirikan malam ini juga."

"Aliansi Teratai Purba..." ulang Banyu Al-Fatih, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. "Nama yang sangat cocok untuk menyatukan kita semua."

"Bagaimana dengan para tetua klan lain?" tanya Mega Nur-Aisyah ragu. "Apakah mereka akan sudi mendengar seruan dari sekumpulan pemuda seperti kita?"

"Mereka harus mau mendengar!" potong Guntur Al-Ghazi keras. Ia menepuk dada zirahnya dengan bangga. "Kita telah menghancurkan tiga Meriam Pembakar Jiwa, mengalahkan Naga Lumpur, dan memukul mundur manifestasi Ravana! Bukti apa lagi yang kurang dari kekuatan aliansi muda ini?!"

"Guntur benar," puji Embun Al-Khansa sambil menyunggingkan senyum lembut. "Kemenangan kita di sini adalah bukti bahwa harapan itu nyata."

Bara Al-Mustafa menatap peta di depannya, lalu menghunus pedang peraknya dan menancapkannya tepat di tengah-tengah meja batu. "Malam ini, di atas tanah sakral Klan Serigala Angin, kita bersumpah untuk mengikat jiwa kita dalam Aliansi Teratai Purba. Tidak ada lagi perbedaan klan, tidak ada lagi keraguan!"

"Kami bersumpah!" seru seluruh pemuda secara serentak, mengacungkan senjata mereka ke udara hingga beradu menghasilkan kilatan cahaya elemen yang memukau.

🪷 🪷 🪷

Di tengah gema sumpah aliansi yang membara, keheningan malam mendadak terpecah oleh suara meringkik yang sangat melengking dan gaib dari arah padang rumput di luar gerbang benteng. Suara meringkik itu bukan berasal dari kuda biasa; getarannya membawa gelombang sihir purba yang menggetarkan batuan karang.

HIHIHIHIINNGGG!

"Suara apa itu?!" jerit Zahra Mentari, refleks memegang gagang belatinya dan menoleh lincah ke arah kegelapan padang rumput.

"Gema suaranya... sangat suci sekaligus penuh amarah!" seru Fajar Nur-Zaman, mengamati jarum kompasnya yang mendadak menunjuk lurus ke luar gerbang.

"Waspada semuanya! Ambil posisi tempur!" perintah Banyu Al-Fatih, memasang kuda-kuda kokoh dengan tombak gandanya.

Dari balik kegelapan malam, muncul kawanan kuda liar berukuran raksasa. Kulit mereka berwarna perak berkilauan dengan surai yang terbakar api biru suci. Di barisan paling depan, memimpin kawanan tersebut, berdiri seekor kuda jantan raksasa bermata emas dengan tanduk kristal tunggal di dahinya. Dialah Sang Pelindung Padang Rumput—Kuda Sembrani Purba.

Lihat selengkapnya