Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

ANGIN BARAT MENYAPA

Angin Barat Menyapa – Bertemu Bayu Al-Asad di lembah perbatasan.

---o0o---

Jeritan kepedihan Laras Al-Humaira membelah keheningan perbatasan Sungai Kematian. Tangannya mencengkeram erat pundak Bara Al-Mustafa, sementara pendaran keemasan Mahkota Teratai Tujuh Warna di dadanya bergejolak hebat, membiaskan percikan ungu beracun.

"Laras! Apa yang terjadi padamu?!" teriak Bara Al-Mustafa, menahan tubuh Laras yang gemetar hebat di atas punggung Kuda Sembrani Jantan.

Wanita bertopeng emas di atas dinding tengkorak itu terkekeh pelan, mengayunkan Cermin Kristal Ungu yang terus memancarkan benang-benang energi kegelapan lurus ke arah Laras.

"Suara itu... Bara, kepalaku... seperti dihantam ribuan jarum!" pangkas Laras parau, matanya berair menatap wanita misterius di atas sana. "Dia... dia mencoba menarik jiwaku keluar!"

"Langkah yang sangat menyedihkan, Nenek Sihir!" jerit Bayu Al-Asad yang mendarat lincah di samping mereka, belati anginnya berkilat memancarkan taufan perak. "Menyerang seorang gadis dari balik dinding busukmu!"

"Siapa kau yang berani menyebutku nenek sihir, Bocah Angin?!" bentak wanita bertopeng emas dengan nada dingin membunuh.

"Namaku Bayu Al-Asad! Dan angin baratku tak pernah sudi membiarkan sekutu Orde Bayangan bernapas lega!" seru Bayu membahana.

"Bayu, jaga garis pertahanan kiri!" perintah Fajar Nur-Zaman, mengarahkan busurnya ke atas dinding tengkorak seraya melepaskan tiga panah cahaya. "Sihir cermin itu bertindak sebagai pemutar balik gelombang jiwa!"

Panah cahaya Fajar menghantam cermin kristal, menciptakan ledakan kilat yang memutus benang-benang energi ungu secara paksa. Wanita bertopeng emas mendesis murka saat cerminnya terkikis tipis.

Laras terkulai di dada Bara, napasnya tersengal-sengal. "Terima kasih, Fajar... Bayu..."

"Simpan terima kasihmu untuk nanti, Laras," kata Zahra Mentari, memperketat genggaman pada dua belati suryanya. "Pasukan tengkorak di dasar sungai mulai merangkak naik!"

"Bayu Al-Asad, pimpin jalur udara perbatasan!" seru Bara Al-Mustafa menatap tajam ke depan. "Buka jalan menembus dinding tengkorak itu sekarang!"

"Dengan senang hati, Bara!" jawab Bayu Al-Asad sambil tersenyum menyeringai penuh keberanian.

🪷 🪷 🪷

Gemuruh air beracun di dasar Sungai Kematian membual hebat. Ribuan tengkorak besi berterbangan keluar dari dalam sungai, membentuk badai serangga mekanis berduri yang menyerap sinar rembulan. Hawa dingin yang menusuk tulang melingkupi seluruh lembah perbatasan.

"Sihir terlarang Klan Tengkorak Hitam!" seru Fajar Nur-Zaman, jarinya memetik tali busur tanpa henti untuk menjatuhkan tengkorak-tengkorak terdepan. "Mereka menggunakan jiwa-jiwa terbuang untuk mengunci wilayah ini!"

"Biar taufan angin baratku yang membersihkan sampah-sampah ini!" teriak Bayu Al-Asad.

Bayu melompat tinggi dari punggung Kuda Sembrani, memutar tubuhnya di udara seperti gasing energi. Dua belati angin di tangannya melepaskan bilah-bilah taufan tajam yang memotong rantai tengkorak besi menjadi serpihan tak berguna.

"Tarian Angin Barat: Tebasan Taufan Pemutus!" pekik Bayu membahana di seluruh lembah.

CRASH! CRASH! CRASH!

Puluhan tengkorak besi hancur berhamburan ke dalam sungai. Namun, wanita bertopeng emas di atas dinding hanya tersenyum mengejek melihat aksi cepat Bayu.

"Gerakan yang cukup lincah untuk seorang pemuda Lembah Angin," puji wanita itu dengan nada licik. "Namun, tarian anginmu tak akan mampu menembus Dinding Jiwa Tengkorak ini!"

Ia menghentakkan tongkat kristalnya ke dinding. Seketika, pecahan tengkorak yang hancur di dasar sungai menyatu kembali, membentuk raksasa galian batu bermata merah yang memblokir seluruh celah tebing.

"Monster itu terus beregenerasi!" teriak Zahra Mentari, melompati serpihan batu seraya memotong jalur maju tiga tengkorak bersayap.

"Setiap kali hancur, mereka menyerap energi racun dari sungai!" tambah Fajar Nur-Zaman dengan dahi bercucuran keringat.

Bara Al-Mustafa memandang Bayu Al-Asad yang melayang di atas pusaran anginnya. "Bayu! Bisakah kau menemukan inti utama penggerak Dinding Jiwa itu?!"

"Intinya ada di dalam cermin kristal wanita itu, Bara!" sahut Bayu Al-Asad mantap, matanya mengunci lurus ke arah dada wanita bertopeng emas. "Beri aku waktu tiga puluh detik, dan aku akan meremukkan cermin busuk itu!"

"Kami akan membentengimu!" seru Laras Al-Humaira yang mulai bangkit kembali, menyatukan kekuatan pita sutranya bersama panah cahaya Fajar.

🪷 🪷 🪷

Lembah perbatasan bergetar hebat saat Raksasa Tengkorak Batu mengayunkan tinjunya yang besarnya seukuran rumah ke arah rombongan pahlawan. Hantaman tersebut menghancurkan bibir tebing, melemparkan batu-batu membara ke segala arah.

"Dinding Cahaya Teratai!" jerit Laras Al-Humaira, mengibaskan selendang pelanginya untuk menangkis reruntuhan batu agar tidak menghantam Kuda Sembrani Jantan.

"Fajar! Zahra! Kunci pergerakan tangan kiri raksasa itu!" perintah Bara Al-Mustafa, memancarkan api perak dari pedangnya untuk memotong tenda-tenda sihir musuh.

"Panah Pengikat Surya!" teriak Fajar Nur-Zaman melepaskan lima anak panah yang menancap tepat di sendi bahu Raksasa Tengkorak.

Lihat selengkapnya