Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

TIRAI KABUT BERDARAH

Tirai Kabut Berdarah – Banyu dan Guntur membendung serangan mendadak musuh.

---o0o---

Di bagian selatan Benua Barat, terpisah ratusan mil dari gejolak di Puncak Gunung Tengkorak Abadi, deru derap kaki Kuda Sembrani Purba membelah sunyinya Lembah Karang. Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi memimpin rombongan garis selatan menuju Benteng Karang Samudra dengan kecepatan penuh.

"Guntur! Apa kau merasakan getaran aneh di bawah pijakan kaki kuda kita?!" teriak Banyu Al-Fatih seraya memperketat genggaman pada gagang tombak gandanya.

Guntur Al-Ghazi memicingkan mata, mempererat pegangan pada tali kekang Kuda Sembrani emasnya. "Bukan sekadar getaran biasa, Banyu! Tanah ini seperti bernapas dengan hawa kematian yang pekat!"

"Tetua Samudra, berapa jauh lagi kita dari gerbang utama Benteng Karang Samudra?!" tanya Mega Nur-Aisyah, menoleh ke arah Tetua Samudra At-Thahira yang menunggangi kuda di samping Embun Al-Khansa.

"Harusnya benteng itu sudah terlihat di balik celah tebing ini, Mega!" jawab Tetua Samudra At-Thahira dengan suara bergetar kecemasan. "Tapi... kenapa perbatasan ini mendadak sangat gelap?!"

Seketika itu juga, Kuda Sembrani Purba yang ditunggangi Guntur meringkik keras dan mendadak berhenti di tepi jurang tebing. Di depan mereka, hamparan Lembah Karang telah tertutup total oleh gulungan kabut merah tebal yang berbau amis darah murni.

"Berhenti semuanya! Tahan posisi!" perintah Guntur Al-Ghazi dengan menggelegar, mengangkat Perisai Naga Emasnya tinggi-tinggi.

"Kabut apa ini?!" pangkas Embun Al-Khansa, menutupi hidung dan mulutnya menggunakan kain jubah. "Hawa sihir di dalamnya sangat beracun dan merusak saraf pancaindra!"

"Ini Tirai Kabut Berdarah..." bisik Tetua Samudra dengan wajah pucat pasi. "Sihir pemusnah massal terlarang yang dipraktikkan oleh Legiun Bayangan Merah!"

"Mereka tidak hanya mengepung benteng..." geram Banyu Al-Fatih, matanya menyala memancarkan aura elemen air dan es. "Mereka berniat membantai seluruh warga klan sebelum kita sampai!"

"Lihat ke atas tebing!" jerit Mega Nur-Aisyah sambil menunjuk ke arah puncak batuan karang di sekeliling lembah.

Dari balik gulungan kabut merah, bermunculan ribuan mata merah menyala milik Pasukan Mayat Hidup Berzirah Duri dan Pasukan Pemanah Iblis yang telah menyergap mereka dari segala sudut!

🪷 🪷 🪷

Hujan anak panah beracun mendadak meluncur deras dari balik kabut merah, mengincar rombongan garis selatan tanpa ampun. Suara dengungan ribuan panah membelah udara, mengancam untuk menembus tubuh para ksatria dan kawanan Kuda Sembrani Purba.

"Dinding Pelindung Naga Emas!" teriak Guntur Al-Ghazi membahana.

Guntur menghantamkan dasar Perisai Naga Emas ke tanah. Seketika, pendaran cahaya kubah keemasan membumbung tinggi, menutupi seluruh rombongan dan memantulkan ribuan anak panah beracun hingga hancur berkeping-keping di udara.

TRING! TRING! TRING!

"Kerja bagus, Guntur!" puji Banyu Al-Fatih. "Mega, Embun, lindungi Tetua Samudra di dalam kubah!"

"Bagaimana dengan kalian berdua?!" seru Embun Al-Khansa cemas, memancarkan sihir hijau pemurni untuk menetralkan udara beracun yang menyusup ke dalam kubah.

"Kami akan membendung serangan mendadak ini dan menghancurkan komandan mereka!" tegas Banyu Al-Fatih.Ia melompat keluar dari kubah emas, memutar tombak gandanya hingga membentuk pusaran air bening yang melindunginya dari terpaan kabut.

Dari balik kabut merah, muncul sesosok Pangeran Iblis Berzirah Merah Darah yang menunggangi monster serigala berkepala dua. Di tangannya, ia memegang Sabit Raksasa Berantai yang memancarkan aura pembunuh yang amat dingin.

"Aku adalah Jenderal Vargo dari Legiun Bayangan Merah!" raung pangeran iblis itu dengan suara melengking mengerikan. "Kalian para cecurut muda Aliansi Teratai Purba tak akan pernah bisa melewati Lembah Karang ini hidup-hidup!"

"Seruan yang sangat sombong untuk seorang iblis penakut yang bersembunyi di balik kabut!" cibir Banyu Al-Fatih dengan senyuman penuh tantangan.

"Bocah tengil! Akan kucincang tubuhmu menjadi umpan serigala!" bentak Jenderal Vargo murka. Ia mengayunkan Sabit Raksasa Berantai, melepaskan tebasan gelombang darah pekat lurus ke arah Banyu.

"Gaya Tombak Al-Fatih: Tusukan Pusaran Samudra!" pekik Banyu Al-Fatih melesat menerjang ke depan.

CRASHHH!

Ujung tombak Banyu membentur mata sabit Vargo di udara, memicu ledakan gelombang energi air dan darah yang menggetarkan dinding-dinding batu Lembah Karang.

🪷 🪷 🪷

Benturan kekuatan di antara Banyu Al-Fatih dan Jenderal Vargo menimbulkan gelombang kejutan masif yang meruntuhkan batuan karang di sekeliling mereka. Kabut merah berdarah kian menggelembung tebal, menyerap energi dari mayat-mayat hidup yang terus berdatangan tanpa henti.

"Jumlah mereka terlalu banyak, Banyu!" seru Guntur Al-Ghazi yang terus menahan gempuran ribuan mayat hidup pada Dinding Pelindung Naga Emasnya. "Jika kabut ini tidak dihalau, sihir pemurni Embun akan habis menahan racun!"

"Mega! Bisakah kau menyapu kabut ini dengan sihir petirmu?!" teriak Banyu Al-Fatih seraya menangkis sabetan rantai sabit Vargo.

"Kabut ini mengandung cairan darah sihir, Banyu!" balas Mega Nur-Aisyah dari dalam kubah. "Petirku hanya akan memicu ledakan racun jika dipaksakan menyambar tanpa celah udara murni!"

"Kalau begitu, kita harus membuat celah udara murni itu sendiri!" kata Guntur Al-Ghazi dengan mata menyala penuh tekad.

Lihat selengkapnya