Rumah Penyembuhan – Kehadiran Mega Nur-Aisyah yang mengobati luka Bara.
---o0o---
Kabut merah kehitaman sisa pertempuran Danau Teratai Tujuh Misteri masih menggantung pekat di atas dedaunan teratai yang terkoyak. Gelombang energi bayangan raksasa telah padam, namun imbasnya meremukkan tubuh sang pemimpin. Bara Al-Mustafa terbaring tak berdaya di atas pembaringan kayu cendana di dalam Rumah Penyembuhan. Wajahnya pucat pasi bagai kapur, napasnya tersendat-sendat, dan jubah putih kebanggaannya kini tercemar oleh noda darah hitam yang berbau busuk. Racun gaib dari kegelapan kuno merayap cepat, membakar urat nadi dan mengancam jiwa sang penjelajah takdir.
Di samping pembaringan, Laras Al-Humaira berdiri dengan jemari gemetar. Matanya sembap, menatap Bara yang terus merintih dalam ketidaksadarannya. Di luar ruangan, Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi berjaga ketat dengan perisai terentang, memastikan tidak ada sisa monster gaib yang berani mengganggu proses penyembuhan sang ketua.
"Laras, menjauhlah sedikit dari pembaringan. Aku butuh ruang untuk mengalirkan energi murni," sebuah suara lembut namun sangat tegas memecah kepanikan.
Mega Nur-Aisyah melangkah maju. Selendang hijaunya berkibar halus ditimpa angin malam yang menerobos jendela kayu. Di sampingnya, Embun Al-Khansa telah menyiapkan bejana perak berisi air murni Danau Tujuh Misteri dan racikan dedaunan herbal langka.
"Apakah racun itu bisa dihilangkan, Mega?" tanya Laras dengan nada penuh kecemasan. "Napasnya semakin lemah setiap detiknya. Aku tidak sanggup kehilangan dia."
Mega menatap Laras dengan pandangan hangat, berusaha menyalurkan ketenangan. "Tenangkan hatimu, Laras. Racun bayangan ini memang sangat ganas dan merusak organ dalam, tetapi selama jiwanya belum menyerah, aku tidak akan membiarkan takdir menyengsarakan Bara."
"Aku mempercayakan hidupnya padamu, Mega," bisik Laras seraya melangkah mundur beberapa tindak, memberikan ruang bagi sang maestro penyembuh.
Mega meletakkan kedua telapak tangannya tepat beberapa senti di atas dada Bara. Cahaya hijau keemasan perlahan terpancar dari jemarinya, memendar bagai dedaunan musim semi yang menyerap kegelapan. Namun, saat energi murni itu menyentuh kulit Bara, sang ketua mendadak melonjak dan menjerit kesakitan. Tubuhnya berguncang hebat, memuntahkan cairan hitam pekat ke lantai kayu.
"Mega! Apa yang terjadi padanya?!" seru Laras histeris, hendak menerjang maju.
"Jangan mendekat, Laras!" teriak Embun Al-Khansa menahan bahu Laras. "Pembersihan inti racun baru saja dimulai. Jika engkau masuk ke dalam lingkaran energi ini, jiwa racun akan berpindah menghantam tubuhmu!"
Mega menahan getaran hebat pada lengannya. Daging di sekitar dada Bara tampak menghitam dan mengelupas, memperlihatkan aura kegelapan yang menolak dikeluarkan.
"Aura racun ini memiliki kesadaran sendiri," ujar Mega dengan dahi berpeluh dingin. "Racun ini mencoba menggerogoti simpul energi utamanya. Kita harus bertindak cepat sebelum jantungnya berhenti berdenyut!"
🪷 🪷 🪷
Suasana di dalam Rumah Penyembuhan kian mencekam. Pintu kayu berukir tiba-tiba terbuka kasar. Fajar Nur-Zaman dan Bayu Al-Asad masuk dengan langkah tergesa-gesa. Pakaian mereka terkoyak sisa pertarungan, namun raut wajah mereka memancarkan kecemasan yang mendalam atas kondisi Bara.
"Bagaimana keadaannya, Mega?" tanya Fajar langsung pada inti permasalahan. Tangannya menggenggam erat gulungan peta taktik yang kini ternoda lumpur dan darah.
"Serangan bayangan itu melukai intisari spiritualnya," jawab Mega tanpa mengalihkan pandangan dari aura hijau yang terus memancar dari tangannya. "Racun ini diciptakan khusus untuk menghancurkan ksatria bermartabat tinggi seperti Bara."
Bayu Al-Asad melangkah mendekati jendela, menatap ke arah danau yang masih berkabut. "Musuh tahu betul bahwa tanpa Bara, barisan kita akan kehilangan arah. Mereka sengaja menanamkan kutukan racun ini dalam serangan terakhir tadi."
"Kita tidak boleh membiarkan kepemimpinan kita goyah," potong Laras, mencoba menegakkan dadanya meski air mata masih menggenang di pelupuk matanya. "Bara akan sembuh. Dia harus sembuh."
"Tentu saja dia akan sembuh, Laras," sahut Embun Al-Khansa lembut sambil mencelupkan kain kasa ke dalam air murni. "Mega adalah penyembuh terbaik di seluruh penjuru negeri ini. Tidak ada racun yang tak bisa diurai oleh energinya, selama kita memberi kepercayaan penuh padanya."
Mega menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan konsentrasi penuh. Cahaya hijau dari tangannya berkilau semakin terang, membentuk pola bunga teratai gaib yang melayang di atas dada Bara. Namun, reaksi racun di dalam tubuh Bara semakin brutal. Urat-urat di leher Bara menonjol biru kehitaman, dan suhu tubuhnya melonjak sangat tinggi hingga membakar kain linen penyangga kepalanya.
"Arghhh!" Bara meraung dalam ketidaksadarannya. Matanya terbuka melotot, namun pupil matanya menghilang, sepenuhnya tertutup warna hitam pekat.
"Bara! Dengarkan suaraku!" seru Laras, tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak mendekat. Dia berlutut di samping pembaringan dan menggenggam jemari dingin Bara. "Lawan kegelapan itu! Jangan biarkan mereka mengambil jiwamu!"
"Laras, pegang tangannya dengan erat!" perintah Mega dengan suara yang bergetar menahan tekanan gaib. "Salurkan ingatan manis kalian! Cinta dan kenangan murni adalah jangkar terbaik untuk menahan jiwanya agar tidak hanyut ke alam kematian!"
Laras menggenggam tangan Bara semakin kuat. "Ingat ikrar kita di bawah pohon rembulan, Bara? Kita berjanji untuk menyingkap rahasia Danau Tujuh Misteri bersama-sama. Engkau tidak boleh ingkar janji!"
Seolah mendengar bisikan Laras, tubuh Bara yang tadinya kejang perlahan-lahan mengendur. Pupil matanya mulai kembali, menatap bayangan Laras yang samar-samar di atasnya.
"La... ras..." bisik Bara sangat lirih, hampir tak terdengar di antara deru angin malam.
"Aku di sini, Bara. Aku di sini," sahut Laras dengan derai air mata yang jatuh menimpa pipi Bara.
"Fajar, Bayu, bantu aku menahan gelombang susulan!" seru Mega saat melihat kabut hitam keluar dari pori-pori kulit Bara. "Racun ini bereaksi terhadap ikatan emosional mereka. Ini kesempatan kita untuk mencongkel intisari racun tersebut keluar dari tubuhnya!"
Fajar dan Bayu segera mengambil posisi melingkar di sekeliling pembaringan, menangkupkan tangan mereka untuk menyalurkan energi angin pendukung guna memperkuat benteng aura penyembuhan Mega.
🪷 🪷 🪷
Meskipun pertolongan pertama telah diberikan, ancaman dari luar tidak kunjung surut. Dentuman keras tiba-tiba bergema dari arah gerbang luar Rumah Penyembuhan. Dinding kayu bergetar hebat, dan debu-debu halus berguguran dari atap. Samudra At-Thahira dan Zahra Mentari melangkah masuk dengan raut wajah tegang.
"Ada apa di luar, Samudra?" tanya Bayu Al-Asad seraya menarik gagang belatinya.
"Sisa-sisa prajurit bayangan berkumpul di batas danau," jawab Samudra dengan suara tenang namun tegas. "Mitos kuno menyebutkan bahwa racun di tubuh Bara memancarkan sinyal pemanggil bagi makhluk kegelapan. Mereka datang untuk memastikan Bara tidak selamat."
"Zahra, bagaimana kondisi benteng pertahanan?" tanya Fajar Nur-Zaman.
Zahra Mentari menyunggingkan senyum tipis, mencoba mencairkan suasana meski kilatan kecemasan terlihat di matanya. "Banyu dan Guntur sedang bersenang-senang di luar. Mereka menjadikan prajurit bayangan itu seperti pasak kayu. Namun, jumlah mereka terlalu banyak, kita tidak bisa bertahan lama jika proses penyembuhan ini berlarut-larut."
"Aku butuh waktu lebih banyak!" seru Mega Nur-Aisyah, peluh membasahi seluruh wajah cantiknya. Selendang hijaunya kini meredup, terkontaminasi oleh hawa beracun yang ditarik dari tubuh Bara. "Racun ini telah mengkristal di dalam pembuluh darah intinya. Jika aku memaksakan mencabutnya secara kasar, pembuluh darahnya akan pecah dan dia akan mati seketika!"
"Lakukan dengan cermat, Mega," kata Laras seraya mengusap dahi Bara yang kian panas. "Kami akan melindungi ruangan ini dengan taruhan nyawa kami."
Bara kembali merintih kesakitan. Racun kristal di dalam tubuhnya mulai menolak energi hijau Mega. Serpihan aura hitam meledak pelan dari dada Bara, memotong aliran aura penyembuhan Mega hingga sang maestro terdorong ke belakang beberapa langkah.
"Mega!" seru Embun Al-Khansa seraya menangkap tubuh sahabatnya itu.