Embun Pagi yang Sejuk Embun Al-Khansa Menunjukkan Jalan Rahasia Menembus Hutan
Insiden Pemicu
Goncangan hebat dari dasar Danau Tujuh Misteri meletus bagai letupan gunung api di bawah air. Sesosok bayangan raksasa bermata merah membara mencakar kegelapan malam, menyebarkan gelombang kejut yang menghempaskan riak air hingga setinggi pepohonan Purba. Kabut hitam pekat yang berbau belerang berhembus kencang, memadamkan pendar cahaya rembulan secara mendadak.
"Formasi bertahan! Jangan biarkan kabut ini menyentuh kulit kalian!" teriak Banyu sembari menghantamkan perisai perunggunya ke tanah lembap.
Guntur menjejakkan kaki lebih dalam, membantu Banyu menopang garis pertahanan. "Lapis energi kita tidak akan bertahan lama jika tekanan ghaib ini terus meningkat, Banyu!"
"Tenanglah, Guntur. Angin di sekeliling kita masih bisa diatur," sahut Fajar dengan tenang, meskipun jarinya gemetar saat menggoreskan mantra taktis di udara.
Bayu meloncat ke dahan terendah di tepi danau, matanya menyipit menembus pekatnya kabut. "Musuh tidak hanya satu. Ada pergerakan ratusan monster rawa di balik bayangan raksasa itu!"
"Bara, apa rencana kita?" tanya Laras yang masih berdiri anggun di atas daun teratai, gaun putihnya melambai diterpa angin kencang. "Kekuatan kegelapan kuno ini melampaui perkiraan awal kita."
Bara mengepalkan tangan pada hulu pedang peraknya. "Kita tidak bisa bertarung di medan terbuka ini. Kekuatan mereka menyerap energi danau."
Mega mengusap peluh di dahinya, lalu berbisik cepat kepada Embun Al-Khansa. "Embun, mantra penyembuhku mulai terdistorsi oleh aura busuk ini. Jika kita bertahan di sini, stamina tim akan habis sebelum fajar."
"Aku merasakan hal yang sama, Mbak Mega," jawab Embun Al-Khansa lembut. Matanya yang jernih menatap ke arah rapatnya pepohonan Hitam di barat danau. "Danau ini adalah perangkap. Kita harus menarik diri sekarang juga."
"Tapi ke mana?" sela Samudra yang sibuk memegang gulungan prasasti. "Seluruh pinggiran danau sudah dikepung oleh barisan vegetasi berduri yang beracun!"
Zahra terkekeh pelan di tengah ketegangan, mencoba mencairkan suasana. "Wah, sepertinya acara jalan-jalan santai kita berubah jadi ajang lari maraton malam hari, ya?"
"Ini bukan waktunya bercanda, Zahra!" gertak Guntur tanpa menoleh.
"Aku serius, Guntur! Lihat Embun, dia sepertinya punya jalan keluar," tunjuk Zahra ke arah Embun yang menapakkan kakinya ke tanah basah.
Embun Al-Khansa melangkah maju, membiarkan aura hijau lembut terpancar dari telapak tangannya. "Ada jalur rahasia di balik Hutan Bayangan Kuno. Jalur itu terlindung oleh segel lumut putih yang hanya merespons darah penyembuh."
"Apakah jalan itu aman, Embun?" tanya Bara memastikan.
"Aman dari mata raksasa itu, Bara. Tapi kita harus bergerak dalam kurun waktu sepuluh detik sebelum gelombang pasang berikutnya menghantam," jawab Embun mantap.
"Semua dengar!" perintah Bara menatap kesembilan rekannya. "Ikuti petunjuk Embun sekarang!"
🪷 🪷 🪷
Sepuluh ksatria itu berlari secepat kilat menerobos vegetasi rapat, meninggalkan tepian danau yang kini dihantam amukan raksasa bayangan. Suara raungan makhlur purba itu menggetarkan pepohonan, merontokkan dedaunan kering yang langsung terbakar saat menyentuh tanah. Embun Al-Khansa memimpin di paling depan, jemarinya memercikkan benih-benih cahaya hijau yang membuka jalan di antara kerapatan akar-akar beracun.
"Di mana pintu masuknya, Embun?" tanyak Fajar yang berlari bersisian dengan Bayu.
"Di balik tebing batu berlumut itu, Fajar. Percepat langkah kalian!" seru Embun tanpa menghentikan latihannya.
"Awas belakang!" teriak Bayu mendadak.
Sebuah tebasan cakar kegelapan meluncur cepat memotong barisan belakang. Banyu dan Guntur secara refleks memutar badan, menyatukan perisai mereka hingga menciptakan dinding cahaya emas.
BLAR!
Benturan keras membuat Banyu terdorong beberapa meter ke belakang. "Ugh, hantamannya sangat berat!"
"Jangan berhenti, Banyu! Terus bergerak!" teriak Samudra seraya melempar sebuah jimat pelindung untuk memperkuat posisi Banyu.
"Terima kasih, Samudra! Aku masih bisa bertahan!" balas Banyu menyapu napasnya yang memburu.
Mega menghampiri Banyu seraya menempelkan telapak tangannya ke punggung sang penjahat perisai. "Biar kubantu memulihkan staminamu, Banyu. Aura Segaran Tirta!"
"Terima kasih, Mbak Mega. Rasanya jauh lebih ringan," ujar Banyu tersenyum tipis.
Laras menyipitkan mata menatap tebing di depan mereka. "Batu itu terlihat utuh, Embun. Tidak ada celah sama sekali di sana."
"Pandangan mata telanjang memang sering menipu, Mbak Laras," sahut Embun Al-Khansa lembut.
Embun berhenti tepat satu meter di depan dinding batu raksasa yang tertutup rapat oleh lumut menyala. Ia menempelkan kedua telapak tangannya pada permukaan batu dingin tersebut, lalu membisikkan bait doa kuno.
"Wahai akar tua penjaga rahasia fajar, bukalah tiraimu untuk jiwa-jiwa yang mengusung cahaya," bisik Embun.
Seketika, darah tipis beraroma mawar menetes dari ujung jari Embun, terserap penuh oleh lumut-lumut di dinding tebing. Batu keras itu mendadak luluh, bergetar pelan sebelum akhirnya merekah bagai tirai dedaunan, menyingkap sebuah lorong gelap yang memancarkan hawa dingin menyegarkan.
"Luar biasa..." gumam Zahra dengan mata berbinar. "Ini seperti sihir dalam dongeng nenek moyang!"
"Masuk, cepat! Segel ini hanya bertahan sebentar!" seru Embun memanggil kawan-kawannya.
Satu per satu ksatria melompat masuk ke dalam lorong tebing. Bara menjadi orang terakhir yang memasukinya. Sebelum melangkah masuk, ia menatap ke belakang, melihat raksasa danau yang meraung murka karena kehilangan jejak mereka.
"Pintu tertutup!" pekik Embun.
Dinding batu kembali menyatu tanpa bekas. Suara raungan raksasa di luar mendadak redup, tergantikan oleh suara gemericik air tersembunyi dan desir angin dingin yang menenangkan jiwa. Lorong rahasia menuju jantung Hutan Kuno telah terbuka.
🪷 🪷 🪷
Lorong rahasia di dalam tebing itu rupanya merupakan sebuah labirin alami yang terbentuk dari akar-akar pohon raksasa. Hawa dingin yang bertiup di sepanjang lorong membawa aroma tanah basah dan Embun pagi, memberikan rasa sejuk yang seketika menghapus kelelahan fisik para ksatria. Namun, keheningan di tempat ini terasa tidak alami.
"Tempat ini... terlalu tenang," bisik Laras seraya menghujamkan pandangannya ke kegelapan lorong.