Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

NYANYIAN DANAU JERNIH

Nyanyian Danau Jernih – Samudra At-Thahira mengungkap sejarah kuno tempat itu.

---o0o---

Kabut tipis menyapu permukaan air yang beriak tenang saat jemari Samudra At-Thahira menyentuh dinginnya Danau Jernih. Angin malam berhembus membawa aroma teratai basah, mempermainkan jubah putih Bara Al-Mustafa yang berdiri tegap di tepian batu. Di belakang mereka, Laras Al-Humaira mengamati hamparan air yang berkilau di bawah naungan rembulan perak. Keheningan malam itu mendadak terganggu oleh dengungan gaib yang halus namun menggetarkan sukma, seolah air di bawah telapak kaki mereka sedang membisikkan sebuah rahasia tua.

"Apakah engkau merasakannya juga, Samudra?" tanya Bara seraya menatap riak air yang membentuk lingkaran-lingkaran simetris tanpa pemicu fisik.

Samudra memejamkan mata sejenak, membiarkan energi spiritualnya menyatu dengan aliran air murni. "Ini bukan sekadar riak air biasa, Bara. Danau Jernih sedang menyanyikan nada penyesalan dari masa lalu yang terasingkan."

Laras melangkah mendekati Samudra dengan raut wajah penuh tanya. "Nada penyesalan? Apakah ini ada hubungannya dengan prasasti raksasa yang baru saja bangkit di Danau Tujuh Misteri?"

"Benar, Laras," jawab Samudra seraya menegakkan tubuhnya dan memegang tongkat kearifannya erat-erat. "Danau Jernih ini adalah cermin spiritual tempat ini. Jika airnya mulai bernyanyi, artinya rahasia kuno yang tersembunyi selama ribuan tahun menuntut untuk diungkapkan malam ini."

Tiba-tiba, permukaan danau meletup halus, memancarkan cahaya biru keemasan yang membumbung ke udara. Dari dalam cahaya itu, bayangan ghaib berupa ukiran-ukiran huruf kuno mengapung, mengelilingi tubuh ketiga ksatria tersebut.

"Perhatikan tulisan-tulisan ini!" seru Banyu Al-Fatih yang baru saja datang bersisian dengan Guntur Al-Ghazi. Perisai berat di punggungnya bergetar merespons gelombang energi asing tersebut.

"Simbol-simbol ini mirip dengan yang kita temui di dasar pusaran air kemarin," pangkas Guntur, matanya menyipit meneliti garis-garis cahaya di udara.

Fajar Nur-Zaman dan Bayu Al-Asad mendekat dengan tergesa-gesa. Fajar segera membuka gulungan perkamen kosong di tangannya. "Samudra, bisakah engkau menerjemahkan ikrar purba ini? Ini bisa menjadi titik terang strategi kita!"

"Aku bisa memahaminya, Fajar," tutur Samudra dengan suara berat namun tenang. "Namun, sejarah ini menyimpan kebenaran yang sangat pahit mengenai asal-usul kegelapan yang sedang kita lawan saat ini."

"Katakan saja, Samudra," pinta Mega Nur-Aisyah yang melangkah lembut bersama Embun Al-Khansa dan Zahra Mentari. "Apapun kebenarannya, jiwa kita sudah menyatu untuk menghadapi takdir ini."

Samudra menatap wajah para sahabatnya satu per satu. "Tempat ini dulunya bukanlah tempat kutukan, melainkan surga suci yang dikhianati oleh rasa serakah para penjaga pertamanya."

🪷 🪷 🪷

Cahaya biru keemasan yang memancar dari Danau Jernih semakin merekah lebar, memproyeksikan bayangan masa lalu di atas udara bagaikan cermin raksasa. Gambar-gambar gaib tersebut memperlihatkan pemandangan Danau Tujuh Misteri di era ribuan tahun silam—sebuah kawasan megah yang dikelilingi oleh pilar-pilar kristal suci dan pepohonan teratai perak yang tak pernah layu.

"Lihatlah gambaran masa lalu ini," bisik Embun Al-Khansa dengan mata berbinar keheranan. "Danau ini dahulu begitu murni dan dipenuhi oleh aura kehidupan."

"Dahulu, danau ini dinamakan Danau Jernih Abadi," ujar Samudra At-Thahira memulai kisahnya, suaranya bergaung mengikuti riak air. "Tempat ini diciptakan oleh Sang Pencipta sebagai muara penyeimbang energi elemen di seluruh benua."

"Lalu, apa yang membuat tempat seindah ini berubah menjadi Danau Tujuh Misteri yang penuh racun dan kegelapan?" tanya Zahra Mentari seraya menyentuh proyeksi cahaya teratai perak yang mengapung di dekatnya.

"Pengkhianatan dari Tujuh Tetua Penjaga," jawab Samudra tegas. "Mereka dipercayakan untuk menjaga Tujuh Permata Elemen yang tertanam di dasar danau ini guna memelihara kedamaian."

Bara Al-Mustafa menyilangkan dada, jemarinya memegang hulu pedang peraknya dengan erat. "Tujuh Tetua Penjaga? Apakah mereka adalah sosok yang sama dengan tujuh bayangan raksasa yang kita hadapi di episode sebelumnya?"

"Tepat sekali, Bara," sahut Samudra mengangguk pelan. "Ketakutan akan kematian dan rasa haus akan kekuatan abadi menggerogoti hati mereka. Mereka mencoba menyatukan kekuatan Tujuh Permata Elemen menjadi satu wadah terlarang."

"Mahkota kristal hitam itu..." potong Laras Al-Humaira dengan raut wajah tersentak menyadari sesuatu. "Mahkota yang dipegang oleh sosok bertopeng perak tadi adalah hasil penyatuan permata tersebut!"

"Benar, Laras," kata Samudra. "Ketika mereka memaksakan penyatuan itu, inti energi danau menolak kekejian tersebut. Ledakan ghaib dahsyat merusak tatanan alam, menyegel Tujuh Tetua ke dalam kegelapan dan mengubah air jernih ini menjadi danau beracun yang dipenuhi misteri."

"Jadi, sosok bertopeng perak itu berusaha membangkitkan kembali kekuatan terlarang yang pernah merusak benua ini?" tanya Bayu Al-Asad dengan napas memburu, mengepalkan kedua tangannya.

"Dia bukan sekadar ingin membangkitkan kekuatan itu, Bayu," jelas Samudra. "Dia adalah keturunan terakhir dari Tetua Pertama yang melarikan diri saat bencana itu terjadi ribuan tahun yang lalu."

"Itu menjelaskan mengapa dia begitu bernafsu mengambil inti jiwa Bara," sela Fajar Nur-Zaman seraya mengoreskan catatan cepat pada perkamennya. "Darah ikrar Bara mengandung pasak segel kuno yang ditinggalkan oleh para pahlawan pemurni masa lalu!"

"Artinya, pertempuran kita bukan sekadar membela diri," tegas Banyu Al-Fatih seraya menghentakkan kaki ke tanah. "Ini adalah penuntasan dosa sejarah yang ditinggalkan oleh para penjaga terdahulu!"

"Namun nyanyian danau ini belum selesai," bisik Samudra, matanya menatap tajam ke tengah danau yang mendadak berubah warna menjadi kebiruan pekat. "Masih ada satu rahasia besar yang tersembunyi di balik nama Danau Jernih ini."

🪷 🪷 🪷

Proyeksi sejarah di udara tiba-tiba memudar, tergantikan oleh suara gemuruh rendah yang bergetar dari dasar Danau Jernih. Air danau membelah secara perlahan, memperlihatkan sebuah tangga batu berslumut yang meliuk turun menuju kedalaman dasar danau yang tak tersentuh cahaya matahari.

"Tangga batu ini menuju ke Pedepokan Pemurnian yang telah tenggelam," ujar Samudra At-Thahira seraya melangkah ke anak tangga pertama. "Di sinilah jawaban lengkap atas nyanyian danau ini tersimpan."

"Apakah aman bagi kita untuk turun ke bawah saat ini, Samudra?" tanya Mega Nur-Aisyah khawatir. "Energi spiritual tempat ini terasa sangat tidak stabil pasca hilangnya racun di tubuh Bara."

"Kita tidak punya pilihan lain, Mega," sahut Bara Al-Mustafa dengan mantap. "Jika sosok bertopeng perak itu mengetahui tempat ini, dia akan menggunakan sisa peninggalan Kuil Pemurnian untuk mempercepat ritual mahkota kristal."

"Aku dan Guntur akan berjalan di depan!" seru Banyu Al-Fatih seraya mencabut pedang besar dan mengangkat perisainya, memimpin jalan menyusuri tangga basah tersebut.

"Hati-hati, setiap pijakan tangga ini mengandung jaring pelindung gaib," peringat Embun Al-Khansa seraya menebarkan debu penenang di sekitar barisan mereka.

Lihat selengkapnya