Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

SINAR MENTARI

Sinar Pertama Mentari – Zahra Mentari Memecahkan Ketegangan Kelompok dengan Kehangatannya

---o0o---

Gelombang kegelapan yang menyerap Embun di altar batu baru saja surut, meninggalkan keheningan mati yang mencekam di tengah Hutan Asali. Kehancuran Pusaka Teratai Emas dan hilangnya penyembuh utama mereka menghantam mental kesembilan ksatria yang tersisa hingga berada di ambang keputusasaan. Angin dingin menusuk tulang, menggantikan hawa sejuk yang sebelumnya menenangkan jiwa.

"Ini tidak mungkin... Embun hilang? Pusaka itu hancur?" gumam Guntur seraya berlutut gontai, menjatuhkan perisai beratnya ke tanah kristal.

"Jangan menyerah sekarang, Guntur! Kita harus mencari cara untuk membukanya kembali!" teriak Banyu, meski tangannya gemetar hebat saat mencengkeram gagang perisainya.

"Membuka apa, Banyu?!" potong Fajar dengan suara meninggi, matanya memerah menahan frustrasi. "Sihir di altar itu sudah mati total! Teratai Emas itu adalah satu-satunya tumpuan taktik kita!"

Bayu mengepalkan tinjunya hingga berdarah, menghantamkan fisiknya ke pilar batu terdekat. "Argh! Harusnya aku lebih cepat! Harusnya aku melompat menerjang sebelum aura hitam itu menyergap Embun!"

"Ini salahku," bisik Bara lamat-lamat. Tangan kanannya yang memegang pedang perak terkulai lemas di samping tubuhnya. "Aku yang memimpin kalian ke altar ini. Aku yang berniat menyentuh pusaka itu tanpa memperhitungkan jebakan kegelapan kuno."

"Bara, jangan menyalahkan dirimu sendiri," ujar Laras mencoba menenangkan, namun nada suaranya sendiri bergetar hebat melukiskan kepanikan yang mendalam. "Kita semua menyetujui langkah ini."

"Tapi aku pemimpinnya, Laras!" bentak Bara pelan, kepalanya tertunduk dalam membendung rasa bersalah yang menggebu. "Tanpa Embun dan tanpa pusaka penyegel, kita hanya barisan ksatria tanpa arah yang menunggu pembantaian!"

"Lalu apa rencana kita sekarang?!" seru Samudra yang sibuk membalik-balik gulungan prasastinya dengan liar. "Prasasti ini tidak mencatat runtuhnya teratai! Semua informasi kuno berakhir di sini! Kita buta, Bara! Kita benar-benar buta!"

Mega terduduk bersimpuh di samping bekas tempat Embun melayang, mengelus sisa-sisa debu hitam di atas tanah. "Aura penyembuh Embun hilang sepenuhnya... Aku tidak bisa merasakan jejak kehidupannya lagi di sekitar sini. Bagaimana bisa kita bertarung tanpa dia?"

Ketegangan di antara mereka meningkat drastis hingga mencapai puncaknya. Setiap kata yang terucap di antara rentetan hembusan angin malam yang kian pekat hanya menambah pekatnya kabut keputusasaan. Pertengkaran kecil mulai memercik, menghancurkan fondasi kepercayaan yang telah mereka bangun sejak awal perjalanan di Danau Tujuh Misteri. Pertahanan mental mereka runtuh sepenuhnya.

🪷 🪷 🪷

Di tengah lingkaran keputusasaan yang merayap tebal itu, Zahra Mentari melangkah ke tengah-tengah kerumunan. Ia menatap wajah-wajah rekan bertarungnya yang tertunduk lesu dan diselimuti bayang-bayang kegagalan. Dengan helaan napas panjang, Zahra menyunggingkan senyum khasnya—sebuah senyuman hangat yang selalu memancarkan energi keindahan mentari pagi.

"Wah, wah, wah... lihatlah barisan ksatria hebat kita sekarang," panggil Zahra dengan nada suara yang sengaja dibuat santai dan ceria. "Wajah kalian semua sudah mirip seperti daun talas yang tersiram air belerang, layu dan sangat muram!"

Guntur menoleh dengan tatapan tajam tak percaya. "Zahra! Bisakah kau serius sedikit?! Embun diculik dan pusaka kita hancur! Apa yang lucu dari situasi ini?!"

"Memangnya kalau kita semua menangis dan saling menyalahkan di sini, Embun akan mendadak jatuh dari langit sambil membawa teh hangat untuk kita?" balas Zahra terkekeh pelan, melangkah mendekati Guntur lalu menepuk pundak sang penjahat perisai dengan cukup keras.

"Zahra benar, Guntur," sela Bayu yang masih memegang pisau anginnya. "Tapi bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa juga tidak akan menyelesaikan masalah!"

"Siapa bilang aku bertingkah seolah tidak ada apa-apa, Bayu?" jawab Zahra seraya menatap ke arah Bayu. "Aku tahu situasi kita sedang kacau balau. Tapi kalau kita membiarkan kepalaku dan kepala kalian dipenuhi oleh asap hitam keputusasaan, kita justru memberikan apa yang diinginkan oleh sosok di balik altar itu!"

Bara mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata Zahra yang berbinar terang di tengah kegelapan hutan. "Apa maksudmu, Zahra?"

"Maksudku sederhana, Pemimpin," sahut Zahra dengan senyum merekah. "Musuh ingin kita terpecah. Musuh ingin kita saling menyalahkan hingga kekuatan satu jiwa yang kita banggakan itu hancur menjadi serpihan tak berguna!"

"Tapi kita kehilangan Embun, Zahra..." lirik Mega dengan suara serak, air mata masih menggenang di pelupuk matanya. "Dia adik seperjuanganku..."

Zahra berjalan menghampiri Mega, berlutut di depannya lalu menggenggam kedua tangan Mega yang dingin. "Embun belum mati, Mbak Mega. Aku mengenalnya. Embun adalah sosok yang paling tangguh di antara kita semua. Dia tidak akan menyerah begitu saja di dalam sana, jadi kenapa kita yang di sini justru menyerah lebih dulu?"

"Zahra..." gumam Mega tertegun menatap keteguhan di mata gadis di depannya.

"Lagipula, bukankah namaku Zahra Mentari?" tancap Zahra seraya berdiri tegak dan menepuk dadanya bangga. "Tugasku adalah menjadi sinar pertama yang mengusir kegelapan malam di hati kalian! Selama aku masih bernapas, tidak ada yang boleh menyerah di tempat ini!"

🪷 🪷 🪷

Kehangatan perkataan Zahra mulai mencairkan ketegangan yang sempat membekukan suasana, namun kenyataan pahit di sekitar mereka tidak serta-merta melenyap begitu saja. Hutan Asali yang tadinya bercahaya indah kini semakin meredup. Dahan-dahan kristal mulai membusuk, meneteskan cairan hitam yang mengeluarkan bau sangit menembus indra penciuman.

"Perkataanmu ada benarnya, Zahra," kata Fajar seraya menyesuaikan tali busur energinya. "Tapi secara taktis, kita kehilangan arah. Tanpa prasasti Samudra yang bisa dibaca dan tanpa pusaka, kita tidak punya peta pertempuran."

Samudra mengangguk lemah, menunjukkan lembaran prasasti yang kini tertutup jelaga hitam. "Tulisannya benar-benar terhapus, Fajar. Energi kegelapan tadi mengunci seluruh pengetahuan kuno yang ada di dalam lembaran ini."

"Tidak ada tulisan yang benar-benar terhapus jika kita tahu cara melihatnya dari sudut pandang lain," sahut Zahra ringan seraya melangkah mendekati Samudra.

"Apa maksudmu?" tanya Samudra kebingungan saat Zahra mengambil lembaran prasasti tua itu dari tangannya.

"Lihat ini," tunjuk Zahra pada serat-serat kain prasasti yang membara pelan. "Prasasti ini tidak rusak karena sihir hitam, Samudra. Ini hanya tertutup oleh jelaga ilusi—sama seperti kabut yang menyerang pikiran kita di dalam lorong tebing tadi!"

"Maksudmu... tulisan aslinya masih ada di balik jelaga ini?" tanya Laras penuh rasa ingin tahu, melangkah mendekat ke samping Zahra.

"Tentu saja!" seru Zahra mantap. Ia menguncupkan jari-jarinya, memanggil pendar energi Sinar Mentari yang berwarna kuning keemasan dari dalam dadanya. "Cahaya mentari tidak pernah menghancurkan, ia menyibak bayangan dan menyingkap kebenaran!"

Zahra mengusapkan tangannya yang memancarkan pendar hangat di atas permukaan prasasti hitam tersebut. Seketika, jelaga pekat yang menutupi permukaan kertas menguap perlahan, menyingkap huruf-huruf emas baru yang sebelumnya tidak terlihat.

"Berhasil! Tulisannya muncul kembali!" pekik Samudra terkaget-kaget, matanya melotot memindai barisan kalimat baru itu.

Lihat selengkapnya