Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

SUMPAH SEMBILAN BINTANG

Sumpah Sembilan Bintang – Pembentukan resmi ikatan Bara, Laras, dan 7 sahabat.

---o0o---

Reruntuhan tanah bekas jurang kegelapan masih mengepulkan asap tipis di bawah pekatnya langit malam. Sisa-sisa badai aura hitam yang menghantam mereka beberapa saat lalu perlahan memudar, meninggalkan sunyi yang mencekam di antara gugusan batu kuno. Bara Al-Mustafa bertumpu pada satu lututnya, berusaha menegakkan tubuhnya seraya menatap langit malam yang mendadak dipenuhi hamparan kabut pekat. Di sekelilingnya, sembilan sosok yang selama ini mengarungi bahaya bersama mulai bangkit satu per satu dari himpitan debu pertarungan.

"Apakah semua orang masih bernapas?" tanya Bara dengan suara serak namun tegas, matanya menyapu sekeliling medan yang porak-poranda.

Laras Al-Humaira segera melangkah mendekatinya, mengulurkan jemarinya yang gemetar untuk membantu Bara berdiri. "Aku di sini, Bara. Tubuhku memar, tetapi jiwaku belum goyah sedikit pun."

"Kami juga masih bertahan, Ketua!" seru Banyu Al-Fatih seraya menghentakkan perisai beratnya ke tanah, membersihkan sisa jelaga hitam.

Guntur Al-Ghazi menyapu pelipisnya yang berdarah, lalu terkekeh pelan. "Musuh pikir ledakan tadi cukup untuk menghabisi kita. Mereka sangat meremehkan daya tahan ksatria danau."

"Jangan jumawa dulu, Guntur," potong Fajar Nur-Zaman seraya memeriksa peta taktiknya yang terkoyak. "Musuh sengaja memisahkan kita dari Batu Inti Pemurnian untuk memecah fokus pertahanan."

Bayu Al-Asad melangkah maju, membiarkan angin malam mengibarkan ujung jubahnya. "Fajar benar. Tapi lihat ke atas sana, ada sesuatu yang berubah dengan konfigurasi langit malam ini."

Semua mata tertuju ke angkasa. Di balik gulungan kabut hitam yang pekat, sembilan titik cahaya bintang yang redup mendadak memancar dengan pola melingkar tepat di atas kepala mereka. Cahaya itu tidak hanya berpendar di langit, tetapi juga memantulkan getaran langsung ke dalam dada setiap pahlawan yang berdiri di tempat itu.

"Konjungsi Sembilan Bintang..." bisik Samudra At-Thahira dengan tatapan penuh kepastian dan keterkejutan.

"Apa artinya fenomena itu, Samudra?" tanya Mega Nur-Aisyah seraya merapatkan selendangnya di samping Embun Al-Khansa.

"Sumpah kuno yang belum pernah diikrarkan kembali sejak seribu tahun lalu," jawab Samudra seraya menatap Bara dan Laras secara bergantian. "Langit menuntut kita untuk menyatukan takdir secara utuh, bukan lagi sekadar ikatan rekan seperjuangan."

"Artinya, ikatan kita harus diresmikan malam ini juga?" tannya Zahra Mentari, tangannya menggenggam erat busur panahnya yang bercahaya tipis.

"Benar, Zahra," sahut Samudra. "Tanpa peresmian Sumpah Sembilan Bintang, jiwa kita tidak akan pernah cukup kuat untuk menembus benteng akhir Danau Tujuh Misteri."

🪷 🪷 🪷

Cahaya sembilan bintang di langit malam kian menembus kepekatan kabut, memproyeksikan sembilan pilar sinar tipis yang jatuh tepat memutari area reruntuhan batu. Keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan yang menakutkan, melainkan keheningan suci yang menuntut kesaksian jiwa. Bara Al-Mustafa mencabut pedang peraknya, menancapkan mata pedang itu ke tengah lingkaran tanah.

"Selama ini kita bertarung bersama karena nasib dan ancaman musuh," ujar Bara seraya memandang sembilan sahabatnya satu per satu. "Namun malam ini, di bawah naungan Sumpah Sembilan Bintang, kita harus memilih dengan penuh kesadaran."

"Pilihan apa yang engkau maksud, Bara?" tanya Laras Al-Humaira, matanya berbinar memantulkan cahaya bintang yang jatuh dari angkasa.

"Pilihan untuk mengikat jiwa dan takdir kita menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan," jawab Bara dengan suara membahana. "Jika satu di antara kita terluka, seluruh barisan akan merasakan pedihnya. Jika satu gugur, takdir kita semua akan terancam runtuh."

"Aku tidak pernah ragu sejak pertama kali melangkah bersamamu, Bara," tegas Banyu Al-Fatih seraya melangkah maju dan meletakkan tangan kirinya di atas hulu pedang Bara. "Dinding pertahananku adalah milikmu dan milik seluruh sahabat di sini."

Guntur Al-Ghazi menyusul dengan langkah mantap, menumpukkan tangannya di atas tangan Banyu. "Guruh dan petirku tidak akan pernah berhenti bergema sebelum takdir kegelapan ini kita hancurkan bersama."

"Strategiku bukan lagi sekadar angka dan peta," kata Fajar Nur-Zaman seraya menangkupkan tangannya di atas tumpukan jemari rekan-rekannya. "Strategiku kini adalah komitmen penuh untuk memastikan kita semua pulang dengan selamat."

"Aku adalah angin yang akan selalu menerjang di depan kalian," tambah Bayu Al-Asad seraya tersenyum bangga dan menumpukkan tangannya.

Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa melangkah bersisian. Jemari mereka yang dipenuhi aura penyembuh menempel hangat pada tumpukan tangan para ksatria.

"Penyembuhan kami bukan hanya untuk merawat luka fisik," ucap Mega dengan penuh kelembutan. "Penyembuhan kami adalah pelita yang akan menjaga nyawa ikatan ini agar tidak pernah padam."

"Suka dan duka kalian adalah luka kami juga," sambung Embun dengan derai air mata keharuan yang mengalir tulus di pipinya.

Samudra At-Thahira dan Zahra Mentari melangkah melengkapi lingkaran tersebut. Samudra meletakkan tongkat kearifannya tepat di samping pedang Bara, sementara Zahra tersenyum penuh optimisme.

"Kearifan masa lalu tidak ada gunanya tanpa keberanian kalian semua," tutur Samudra terharu.

"Dan keceriaanku adalah janji bahwa harapan akan selalu ada di tengah kegelapan!" seru Zahra seraya menumpukkan tangannya.

Kini tinggal Laras Al-Humaira yang berdiri menatap Bara. Bara mengulurkan tangan kanannya yang tersisa menuju ke tengah tumpukan jemari para ksatria.

"Laras... engkau adalah pelita penuntun jiwaku," bisik Bara lembut. "Maukah engkau mengikat renjana dan ketangguhanmu dalam sumpah abadi ini?"

Laras tersenyum sangat indah, melangkah mendekat, dan menyatukan jemarinya dengan jemari Bara di atas tumpukan tangan seluruh sahabatnya. "Hingga nafas terakhir dan sampai ujung takdir, jiwaku adalah milik ikatan ini, Bara."

🪷 🪷 🪷

Saat seluruh jemari kesepuluh pahlawan itu saling bersentuhan di atas hulu pedang perak Bara, sembilan pilar cahaya bintang dari langit melesat turun menghantam bumi. Ledakan cahaya keemasan bercampur biru murni membumbung tinggi, menggetarkan seluruh permukaan reruntuhan batu. Namun, proses penyatuan ikatan suci ini tidak berjalan tanpa hambatan dari alam gaib.

Dada setiap ksatria mendadak dihantam oleh gelombang rasa sakit yang luar biasa dahsyat. Bayangan-bayangan masa lalu, ketakutan tergelap, dan keraguan terdalam dari jiwa masing-masing mendadak terproyeksi di dalam pikiran mereka secara bersamaan.

"Ujian penyelarasan jiwa!" teriak Samudra At-Thahira dengan suara tertahan saat tubuhnya menggigil hebat. "Jangan lepaskan pegangan kalian! Jiwa kita sedang diuji apakah mampu menampung beban kenangan sahabat yang lain!"

Banyu Al-Fatih mengerang keras, matanya terpejam erat saat merasai kepedihan dari luka-luka lama yang pernah dialami Mega dan Embun. "Rasa sakit ini... bagaimana kalian sanggup menahannya selama ini, Mega?!"

Lihat selengkapnya