Bayangan yang Mengintai – Musuh utama mengetahui keberadaan kelompok ini.
---o0o---
Cakar es hitam masih mencengkeram erat leher Bara Al-Mustafa dan Laras Al-Humaira, menyebarkan gelombang aura dingin yang membekukan aliran darah. Di bawah desakan gravitasi gaib yang meremukkan tulang, ketujuh sahabat bertarung melintasi rasa sakit, membiarkan simbol Sumpah Sembilan Bintang di pergelangan tangan mereka memancar terang meski merembaskan darah segar. Kegelapan abadi yang membelenggu malam mendadak bergetar hebat saat riak dari perlawanan jiwa mereka menolak untuk padam begitu saja.
"Lepaskan... mereka!" seru Banyu Al-Fatih seraya merayap keluar dari reruntuhan tebing batu, jemarinya yang berdarah menancap kuat di tanah.
"Kami tidak akan biarkan engkau... menyentuh ketua kami!" tambah Guntur Al-Ghazi, memaksakan tubuhnya bangkit meski perisai dan tombaknya telah hancur berkeping-keping.
Sosok bertopeng perak itu menyunggingkan senyum mengejek di balik kedoknya, menatap nanar perlawanan yang berkobar di hadapannya. "Kalian sungguh serangga yang tidak tahu diri. Apakah kalian memikirkan bahwa aku baru saja menemukan kalian di tempat ini?"
Bara berusaha bernapas, matanya yang memancarkan kilat keemasan menembus mata merah sang musuh utama. "Apa... maksudmu?"
"Aku telah mengawasi setiap jengkal langkah kalian sejak awal," bisik sosok bertopeng perak itu, suaranya menggelegar bagaikan gaung ribuan jiwa yang tersiksa. "Kalian tidak pernah bersembunyi. Keberadaan kelompok Sembilan Bintang ini sudah lama berada di dalam genggaman telapak tanganku."
Laras Al-Humaira memegang lengan hitam yang mencengkeram lehernya, berusaha mengalirkan energi ketangguhannya. "Jika engkau sudah mengetahui keberadaan kami... mengapa engkau membiarkan kami melangkah sejauh ini?!"
"Karena aku membutuhkan ikatan jiwa kalian untuk mencapai kematangan sempurna!" jawab sosok itu seraya tertawa melengking, membuat petir hitam menyambar-nyambar di angkasa.
"Jangan dengarkan omong kosongnya!" teriak Fajar Nur-Zaman dari balik tekanan gravitasi. "Dia memprovokasi kita untuk memecah ketenangan taktik kita!"
"Dia tidak berbohong, Fajar," potong Samudra At-Thahira dengan napas terengah-engah, mata kearifannya menatap lingkaran segel gaib yang terukir tak kasat mata di sekeliling area reruntuhan. "Tempat ini... seluruh pertempuran kita tadi... telah dirancang sebagai wadah pengintai olehnya!"
"Tepat sekali, Samudra!" seru sosok bertopeng perak itu dengan nada kemenangan yang amat dingin. "Nyanyian danau, pemulihan Bara, bahkan Sumpah Sembilan Bintang kalian... semuanya hanyalah panggung pertunjukan yang kupersiapkan untuk memancing seluruh pahlawan terpilih berkumpul di satu titik ini!"
🪷 🪷 🪷
Pengakuan dari sosok bertopeng perak mengguncang benak para ksatria. Udara di sekitar reruntuhan batu terasa kian menghimpit saat lapisan ilusi yang menyelimuti malam perlahan terkoyak. Dari balik kegelapan hutan dan tepi Danau Teratai Tujuh Misteri, ribuan mata merah menyala mulai bermunculan. Bayangan-bayangan hitam yang tak terhitung jumlahnya telah mengepung tempat itu tanpa bersuara, mengunci setiap celah untuk melarikan diri.
"Lihatlah ke sekeliling kalian," bisik sosok bertopeng perak seraya melempar tubuh Bara dan Laras ke tanah secara kasar. "Kalian tidak pernah bertarung dalam kegelapan. Akulah kegelapan yang selalu mengintai di balik bayangan kalian."
Bara terbatuk keras, memegangi lehernya yang memar kehitaman, namun Laras segera berada di sampingnya untuk memberikan topangan. "Engkau mengintai kami... hanya untuk menjadikan kami mangsa akhir?"
"Mangsa?" sosok itu terkekeh pelan, melangkah mundur mendekati pilar kristal hitam yang tertancap di tengah lautan bayangan. "Bukan mangsa, Bara. Kalian adalah kunci. Setiap pertumpahan darah, setiap racun yang disembuhkan Mega, dan setiap ikatan yang diikrarkan Samudra adalah racikan energi murni untuk mengaktifkan takdir sejati tempat ini."
Bayu Al-Asad menerjang maju, menggunakan sisa aura anginnya untuk berdiri di depan Fajar. "Kau memanfaatkan perjalanan kami sejak dari Rumah Penyembuhan?!"
"Bahkan lebih awal dari itu, Bayu Al-Asad," jawab sosok bertopeng perak dengan nada santai. "Sejak Bara pertama kali menginjakkan kaki di atas daun teratai Danau Tujuh Misteri, jejaring bayanganku sudah merayap di dalam bayangan jubah putihnya."
"Itu sebabnya..." gumam Embun Al-Khansa seraya menatap Mega Nur-Aisyah yang pucat pasi. "Itu sebabnya racun di tubuh Bara saat itu bereaksi begitu aneh! Racun itu bukan sekadar membunuh, tapi mengirimkan data energi jiwa Bara kepada musuh!"
"Pintar sekali, penyembuh muda," puji sosok itu seraya menepuk tangan dengan gerakan pelan yang menghina. "Kalian pikir kalian sedang menyelamatkan pahlawan kalian, padahal kalian sedang membuka pintu gerbang bagi pengintaianku."
Mega menggigit bibir bawahnya, penyesalan mendalam terpancar dari matanya. "Aku... aku yang mengalirkan energi murni itu... aku telah membuka jalur bagi bayangannya..."
"Jangan salahkan dirimu, Mega!" tegas Bara Al-Mustafa seraya bangkit berdiri tegak dengan pedang perak teracung mantap. "Niatmu murni untuk menyelamatkanku. Kebajikan kita tidak akan pernah bisa dinodai oleh kejahatan musuh!"
"Pidato yang sangat menyentuh, Bara," potong sosok bertopeng perak dengan suara dingin yang menusuk tulang. "Namun kebenaran tidak bisa diubah oleh kata-kata indah. Keberadaan kelompok ini sudah terbongkar sepenuhnya, dan peta kekuatan kalian kini milikku!"
🪷 🪷 🪷
Tangan kanan sosok bertopeng perak terangkat ke udara. Seketika itu pula, dari dalam tanah di bawah telapak kaki masing-masing ksatria, muncul cermin-cermin bayangan berwarna pekat. Di dalam cermin tersebut, terpapar secara terperinci seluruh rahasia, kelemahan taktik, serta batas kemampuan spiritual dari kesepuluh ksatria terpilih.
"Fajar Nur-Zaman, sang maestro strategi yang selalu mengandalkan pola angin barat," ucap sosok itu seraya menunjuk cermin di depan Fajar. "Kini aku tahu batas kalkulasi otasmu."
"Bayu Al-Asad, kecepatannya luar biasa namun selalu menyisa celah di bahu kiri saat memutar belati," lanjutnya mengintimidasi. "Mega dan Embun, cadangan energi penyembuh kalian akan habis total jika dihantam serangan bertubi-tubi dalam tempo tiga menit."
"Bagaimana mungkin... dia mengetahui setiap detail kecil dari teknik kita?!" seru Zahra Mentari dengan tangan gemetar saat menatap cermin bayangan miliknya.