Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

GERBANG MISTERI

Perjalanan Menuju Gerbang Misteri – Langkah awal keluar dari zona nyaman.

---o0o---

Tekanan aura murni bertingkat dewa yang memancar dari tengah danau masih menyelimuti benak para ksatria. Sosok tanpa wajah yang berjalan di atas permukaan air tadi telah melangkah mundur ke balik kabut purba, meninggalkan pusaran takdir yang menuntut keputusan cepat. Di tepi Danau Tujuh Misteri yang porak-poranda, Bara Al-Mustafa berdiri mengepalkan tangan. Jubah putihnya melambai diterpa angin malam yang terasa semakin kedinginan. Di sekelilingnya, sembilan pahlawan terpilih mencoba merapikan sisa perbekalan dan memulihkan stamina yang terkuras habis.

"Kita tidak bisa bertarung di medan yang telah dikuasai sepenuhnya oleh musuh," ujar Bara seraya menyarungkan kembali pedang peraknya dengan denting nyaring.

Laras Al-Humaira melangkah mendekat, mengusap debu di pipinya dengan ujung lengan baju. "Apakah engkau bermaksud mengajak kita meninggalkan kawasan danau ini, Bara?"

"Bukan sekadar meninggalkan danau, Laras," sahut Bara, matanya menatap tajam ke arah pegunungan hitam di kejauhan. "Kita harus keluar dari batas wilayah teritorial yang selama ini menjadi zona nyaman pertahanan kita."

Samudra At-Thahira menegakkan tongkatnya, membiarkan ukiran bintang di ujung kayu memancarkan pendar tipis. "Pilihan yang sangat berani, Ketua. Gerbang Misteri berada di luar jangkauan peta benua yang pernah dipelajari manusia."

"Tapi kawasan itu terkenal sebagai wilayah tak bertuan!" seru Banyu Al-Fatih seraya mengangkat perisai beratnya yang telah berhasil diperbaiki. "Tidak ada suplai air murni atau tempat berlindung yang aman di sana!"

"Justru karena itulah kita harus pergi ke sana, Banyu," potong Fajar Nur-Zaman seraya membuka lembaran peta wilayah terlarang. "Musuh memperhitungkan kita akan bertahan di sekitar rumah penyembuhan. Keluar dari zona ini akan mematahkan prediksi garis taktik mereka."

"Aku siap melangkah ke mana pun engkau memimpin, Bara," tegas Guntur Al-Ghazi seraya menguji kehandalan tombak barunya. "Aku tidak ingin menjadi sasaran empuk bagi bayangan yang mengintai."

"Bagaimana dengan persediaan medis kita, Mega?" tanya Embun Al-Khansa seraya meneliti tas herbal penyembuh yang kian menipis.

Mega Nur-Aisyah tersenyum tenang, mengikat selendang hijaunya lebih erat. "Kita akan memanfaatkan tanaman liar di sepanjang jalur Gerbang Misteri. Risiko memang tinggi, namun jiwa kita telah terikat dalam Sumpah Sembilan Bintang."

Bayu Al-Asad menerobos angin malam, mendarat ringan di samping Fajar. "Jalur menuju batas wilayah sudah bersih dari prajurit tengkorak. Ini saatnya kita melangkah keluar dari zona aman!"

"Langkah awal ini akan menentukan hidup mati perjuangan kita," bisik Laras seraya menggenggam erat jemari Bara.

"Kalau begitu, tidak ada alasan untuk ragu lagi," tegas Bara penuh wibawa. "Mari kita hadapi rahasia di balik Gerbang Misteri!"

🪷 🪷 🪷

Rombongan Sembilan Bintang mulai meninggalkan tepi Danau Teratai Tujuh Misteri, menyusuri celah berbatu yang membawa mereka menaik ke lereng Bukit Cadas Hitam. Lingkungan yang biasa mereka kenal—dengan pepohonan teratai perak dan gemercik air danau—perlahan tergantikan oleh hamparan tanah tandus yang tertutup abu vulkanik murni. Udara terasa kian tebal dan berbau logam, menguji ketahanan paru-paru setiap ksatria yang melangkah.

"Rasanya sangat aneh melangkah tanpa perlindungan benteng alami danau," gumam Zahra Mentari seraya membetulkan tali busur di bahunya.

"Ini adalah harga dari sebuah keberanian, Zahra," sahut Samudra At-Thahira yang berjalan di sampingnya. "Zona nyaman sering kali menjadi penjara terselubung yang menumpulkan ketajaman insting ksatria."

"Perhatikan setiap pijakan kalian!" seru Banyu Al-Fatih dari barisan paling depan. "Batuan di sini sangat labil dan mudah runtuh ke jurang!"

Guntur Al-Ghazi berjalan bersisian dengan Banyu, mengamati dinding tebing yang dipenuhi ukiran garis-garis gaib yang tak dikenal. "Fajar, apakah ukiran di tebing ini merupakan penanda jalur tua?"

Fajar Nur-Zaman menghentikan langkahnya sejenak, mendekatkan obor aura ke permukaan batu tebing. "Ini bukan sekadar penanda jalur, Guntur. Ini adalah ikrar batas yang dibuat oleh para leluhur untuk mengurung bahaya di balik Gerbang Misteri."

"Artinya, begitu kita melewati batas tebing ini, kita resmi berada di luar jangkauan hukum alam benua?" tanya Bayu Al-Asad dari atas batu tinggi.

"Benar, Bayu," jawab Fajar tegas. "Di luar batas ini, gravitasi, aliran energi spiritual, bahkan arah angin bisa berubah secara acak tanpa peringatan."

Laras Al-Humaira memandang Bara yang terus memimpin di depan tanpa henti. "Engkau tampak sangat tenang, Bara. Apakah engkau tidak merindukan ketenangan Danau Tujuh Misteri?"

Bara Al-Mustafa menyunggingkan senyum tipis, menoleh sebentar ke arah Laras. "Rindu adalah hal yang manusiawi, Laras. Namun membiarkan diri terbuai oleh kenyamanan masa lalu hanya akan membuat kita hancur saat badai yang sesungguhnya tiba."

"Pikiran yang sangat matang dari seorang ketua," puji Mega Nur-Aisyah dari barisan tengah. "Namun jangan lupa untuk menjaga ritme napasmu, Bara. Aura tempat ini mulai mengikis cadangan stamina kita."

"Terima kasih atas peringatanmu, Mega," sahut Bara seraya memperlambat langkahnya sedikit agar seluruh rombongan tetap dalam formasi rapat.

Embun Al-Khansa membagikan cairan penawar racun udara kepada setiap ksatria. "Minumlah ini. Air racikan ini akan menetralkan uap belerang yang mulai mengganggu saluran pernapasan kalian."

"Terima kasih, Embun," ujar Zahra seraya meneguk cairan itu hingga tuntas. "Rasa pahitnya sangat menyengat, namun dadaku terasa jauh lebih lapang sekarang."

"Tetap waspada!" pangkas Samudra menunjuk puncak bukit di depan mereka. "Gerbang terluar wilayah misteri sudah terlihat!"

🪷 🪷 🪷

Puncak Bukit Cadas Hitam menyajikan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Di hadapan mereka, terbentang sebuah lembah raksasa yang tertutup oleh badai petir merah tanpa henti. Di tengah-tengah lembah tersebut, berdiri dua pilar batu raksasa berbentuk naga melingkar yang saling berhadapan—inilah Gerbang Misteri yang legendaris. Namun, untuk mencapainya, mereka harus melintasi Jembatan Jiwa yang terbuat dari ikatan rantai besi tua yang melayang di atas jurang tanpa dasar.

"Jembatan rantai ini tampak sangat rapuh," cetus Banyu Al-Fatih seraya mengetuk besi rantai dengan ujung sepatunya.

" rapuh adalah ilusi matamu, Banyu," jelas Samudra At-Thahira. "Jembatan ini tidak ditopang oleh tiang batu, melainkan oleh kekuatan niat dari orang yang memijaknya."

"Maksudmu, jika hati kita diliputi keraguan, jembatan ini akan putus?" tanya Guntur Al-Ghazi seraya menatap jurang kelam di bawahnya.

"Tepat sekali, Guntur," jawab Samudra. "Tempat ini adalah ujian pertama bagi siapa pun yang berani keluar dari zona nyaman mereka."

Tiba-tiba, angin badai petir merah bertiup kencang, melepaskan gelombang kejut yang menggoyang rantai besi tersebut secara brutal. Suara gemerincing besi beradu dengan petir menggelegar, memicu kepanikan kecil di antara barisan.

"Formasi Rantai Bintang!" perintah Fajar Nur-Zaman cepat. "Saling pegang pundak sahabat kalian! Salurkan aura Sumpah Sembilan Bintang untuk menstabilkan jembatan!"

Bara Al-Mustafa melangkah paling depan di atas rantai licin itu. "Laras, pegang pinggangku! Banyu, kunci barisan belakang!"

Lihat selengkapnya