Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

LEMBAH KELAM

Penyergapan Lembah Kelam – Taktik Fajar Nur-Zaman diuji untuk pertama kali.

---o0o---

Gelombang tebasan aura hitam milik duplikat kegelapan meluncur menerjang ruang hampa. Bara Al-Mustafa menahan hantaman itu menggunakan cermin energi gabungan, namun ledakan dahsyat melempar seluruh kelompok melintasi retakan dimensi. Ketika kesadaran mereka kembali, kesepuluh ksatria terhempas di dasar sebuah jurang curam bertanah kehitaman yang diselimuti kabut tebal beraroma busuk—Lembah Kelam.

"Apakah semua orang selamat?!" teriak Bara seraya menancapkan pedang peraknya ke tanah lembap untuk menegakkan tubuhnya yang gemetar.

Laras Al-Humaira meringis pelan, memegangi bahunya yang memar akibat benturan. "Aku di sini, Bara. Tubuhku memar, tetapi jiwaku masih utuh."

"Di mana kita sebenarnya?" tanya Banyu Al-Fatih seraya mengangkat perisai beratnya yang kini dipenuhi retakan halus.

"Lembah Kelam," sahut Samudra At-Thahira seraya menyapu pandangan ke sekeliling dinding batu setinggi ratusan meter yang mengapit mereka. "Wilayah jebakan alami di mana cahaya bulan tidak pernah menyentuh tanah."

Fajar Nur-Zaman melangkah ke tengah formasi, mengeluarkan gulungan peta taktik yang pendar sinarnya redup akibat energi jahat tempat tersebut. "Tempat ini sangat berbahaya. Dinding tebingnya mengunci aliran udara, membuat pantulan suara dan aura menjadi sangat kacau."

"Fajar, lihat ke atas tebing itu!" bisik Bayu Al-Asad yang mendarat dari balik kabut dengan wajah pucat pasi.

Dari balik kegelapan puncak tebing yang mengelilingi mereka, muncul ratusan mata berbinar ungu keemasan. Siluet monster berwujud serigala berzirah besi gaib dan prajurit pemanah bayangan melangkah perlahan, mengepung seluruh celah keluar dari lembah tersebut.

"Kita terjebak dalam perangkap penyergapan!" seru Guntur Al-Ghazi seraya menggenggam erat tombak petirnya yang mulai menyala.

"Jangan bertindak gegabah, Guntur!" potong Fajar tegas seraya menahan lengan sahabatnya. "Ini bukan pertempuran terbuka yang bisa diselesaikan dengan otot dan luapan emosi!"

"Musuh telah menutup seluruh akses masuk dan keluar lembah ini," tambah Zahra Mentari seraya menarik tali busurnya yang bergetar. "Jumlah mereka ratusan, Fajar!"

Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa merapat ke barisan tengah, mempersiapkan ramuan peningkat refleks instan. "Cadangan energi medis kita sangat terbatas," bisik Mega risau.

"Taktik pertempuran kita di masa lalu tidak akan bekerja di celah sempit ini," ucap Samudra seraya menatap Fajar dengan penuh kepercayaan. "Sekarang, seluruh keselamatan kelompok ini ada di tangan kalkulasimu, Fajar Nur-Zaman."

Fajar mengepalkan jemarinya, menghembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadanya. "Ini adalah ujian pertama bagi seluruh taktik yang kupelajari. Dengarkan instruksiku dan jangan ada satu orang pun yang menyimpang!"

"Katakan perintahmu, Fajar!" tegas Bara Al-Mustafa seraya menyerahkan komando penuh. "Kami akan menjadi jemari dari otas strategimu!"

🪷 🪷 🪷

Pasukan penyergap di puncak tebing melepaskan hujan anak panah beracun hitam yang meluncur deras bagaikan badai kegelapan. Suara deru angin dari ratusan panah membakar keheningan Lembah Kelam, mengancam untuk meremukkan barisan para ksatria dalam hitungan detik.

"Formasi Kura-Kura Besi: Polarisasi!" perintahkan Fajar Nur-Zaman dengan suara nyaring yang membelah gaung lembah.

"Diterima!" jerit Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi serempak.

Banyu menancapkan perisai raksasanya ke tanah, sementara Guntur menyilangkan tombak petirnya di atas perisai tersebut. Kombinasi aura tanah dan petir menciptakan kubah pelindung setengah lingkaran yang membungkus erat kesepuluh pahlawan. Anak panah beracun menghantam kubah tersebut bertubi-tubi, memicu ledakan percikan api yang menyalakan kegelapan malam.

"Banyu, tahan tekanan sudut tiga puluh derajat di sisi kiri!" teriak Fajar seraya menatap retakan pada kubah pelindung.

"Aku menahannya, Fajar! Tapi hantaman ini terlalu berat!" sahut Banyu dengan urat leher menegang hebat.

"Zahra, Bayu, gunakan pemantulan gema tebing!" lanjut Fajar tanpa ragu. "Tembakkan anak panah dan tebasan angin ke arah dinding tebing bagian utara pada sudut empat puluh lima derajat!"

"Mengapa ke dinding tebing utara?!" tanya Zahra Mentari terkejut. "Musuh berada di tebing timur dan barat!"

"Jangan bertanya, lakukan sekarang!" potong Fajar dengan mata berkilat tajam. "Percayalah pada perhitungan pantulan akustik lembah ini!"

Zahra menarik tali busurnya penuh, melepaskan tiga anak panah cahaya ke arah dinding tebing utara yang kosong. Pada saat yang sama, Bayu Al-Asad mengibaskan belatinya, mengirimkan gelombang angin tajam mengikut arah panah Zahra.

Baaaaang! Baaaaang!

Serangan Zahra dan Bayu memantul keras dari dinding tebing utara yang berlapis kristal gaib alami. Pantulan gelombang suara dan energi cahaya itu membiaskan arah ledakan secara tak terduga, meluncur lurus menghantam barisan pemanah musuh di tebing timur dan barat dari arah belakang mereka sendiri!

"Jeritan histeris musuh terdengar memecah kegelapan saat puluhan pemanah bayangan jatuh dari atas tebing."

"Taktikmu berhasil, Fajar!" seru Bayu Al-Asad penuh takjub dari balik kubah pelindung. "Pantulan tebing itu menghancurkan barisan pemanah musuh!"

"Ini baru gelombang pertama," jawab Fajar dengan raut wajah serius yang tak mengendur. "Pasukan serigala berzirah di tebing barat mulai turun menerjang ke dasar lembah. Mereka ingin memancing kita bertarung jarak dekat di tanah berlumpur!"

"Apa rencana kita selanjutnya, Fajar?" tanya Laras Al-Humaira seraya siap mencabut belatinya.

"Kita akan berpura-pura terdesak dan mundur ke dalam celah sempit di sudut selatan," instruksi Fajar dengan senyum tipis yang penuh misteri. "Kita akan menggunakan lumpur beracun lembah ini sebagai senjata pembalik keadaan!"

🪷 🪷 🪷

Puluhan serigala berzirah gaib meraung dahsyat saat mereka melompat turun dari dinding tebing, mendarat kasar di tanah berlumpur Lembah Kelam. Cakar-cakar besi mereka mengoyak tanah, meluncur deras menerjang barisan Sembilan Bintang yang perlahan mundur teratur sesuai dengan instruksi Fajar Nur-Zaman.

"Mundur lebih cepat!" teriak Fajar seraya memberi aba-aba tangan. "Bara, Laras, berpura-puralah kehilangan keseimbangan di atas lumpur!"

Lihat selengkapnya