
Misteri Daun Teratai Mengapung
“Selembar daun teratai raksasa di tengah danau yang mengapung kokoh tanpa tenggelam meski menopang bobot ksatria bersenjata lengkap.”
---o0o---
Kisah Kuno & Asal-Usul Rahasia
Ditempa oleh sari energi bumi beribu tahun silam, daun ini hanya dapat dipijak oleh mereka yang memiliki keselarasan antara bobot tubuh dan kerendahan hati. Bagi Bara, tempat ini adalah mimbar takdir.
Singkapan Takdir Terhadap Ancaman Purba
Daun ini merupakan pusat titik tumpu mandala kuno yang menyerap getaran ancaman dari dasar bumi.
> “Selembar daun teratai raksasa di tengah danau yang mengapung kokoh tanpa tenggelam meski menopang bobot ksatria bersenjata lengkap.”
Ancaman Purba: Daun ini merupakan pusat titik tumpu mandala kuno yang menyerap getaran ancaman dari dasar bumi.
🪷 🪷 🪷
Kabut tebal menggantung rendah di atas permukaan Danau Ranupala ketika deru langkah berdentang membelah kesunyian rimba lereng pegunungan. Bara menghentikan derap langkah kakinya tepat di bibir dermaga kayu lapuk yang basah oleh rembesan air belerang. Baju zirah lempeng baja hitam yang membalut tubuh kekarnya berderit berat, beradu dengan hentakan gagang tombak trisula pusaka berpamor Padma Wilis yang ia sandarkan pada pundaknya. Air telaga mendadak menggelegak liar, meletupkan buih kehijauan beraroma lumut purba ke udara malam yang dingin menusuk.
“Kau terlambat setengah depa waktu dari perhitungan bintang malam ini, ksatria muda!” tegur suara serak dari balik tirai kabut putih. Sosok Kiyai Syawaluddin melangkah keluar dari rerimbunan semak pakis, janggut peraknya berkibar ditiup angin lembah.
“Aku telah memacu kudaku melewati tiga celah tebing terjal tanpa jeda beristirahat sekejap pun, Kiyai,” sahut Bara sembari menyeka percikan air belerang dari pelindung dagu zirahnya. “Apakah desas-desus di kadipaten benar adanya? Apakah telaga keramat ini sungguh telah terbangun dari tidur seribu warsa yang tenang?”
“Tataplah ke tengah telaga sebelum lidahmu lancang meragukan tanda-tanda alam semesta!” balas Kiyai seraya menudingkan tongkat kayu cendana miliknya ke arah pusaran air.
Bara menyipitkan mata, menembus kabut putih yang tersibak hembusan angin. Tepat di pusat pusaran air yang tenang secara ganjil, terbentang selembar daun teratai raksasa berwarna hijau zamrud seluas balairung istana raja.
“Mustahil,” gumam Bara terperangah takjub. “Bagaimana mungkin selembar daun tanaman air mengapung sekokoh pulau karang di atas pusaran telaga sedalam jurang maut tanpa pernah tenggelam?”
“Itu bukan daun tanaman biasa, anakku!” potong Kiyai Syawaluddin khidmat. “Ditempa oleh sari energi bumi beribu tahun silam, selembar daun teratai raksasa di tengah danau yang mengapung kokoh tanpa tenggelam meski menopang bobot ksatria bersenjata lengkap!”
“Dan untuk apa ksatria dengan beban baju besi seberat ini kau panggil ke mimbar terapung itu, Kiyai?” tanya Bara dengan rasa penasaran yang mendalam di dadanya.
“Karena segel mandala dasar bumi sedang merintih kesakitan!” bentak sang resi seketika saat tanah dermaga berguncang hebat di bawah telapak kaki mereka. Gelombang kejut merayap dari perut bumi, menghempaskan perahu-perahu nelayan hingga hancur berkeping-keping.
“Guncangan dahsyat macam apa ini, Kiyai? Apakah dasar bumi sedang terbelah memuntahkan amukan lahar panas?” seru Bara menyeimbangkan pijakannya.
“Bukan gempa tanah biasa!” jerit sang petapa dengan mata menyala cemas. “Daun ini merupakan pusat titik tumpu mandala kuno yang menyerap getaran ancaman dari dasar bumi. Jika daun itu terbalik malam ini, seluruh lereng pegunungan akan runtuh ditelan lahar purba!”
“Lalu apa hubungannya dengan masa laluku dan senjata di tanganku ini?” tanya Bara dengan jantung berdegup kencang.
“Bagi dirimu, Bara, tempat ini adalah mimbar takdir!” tegas Kiyai Syawaluddin menatap tajam ke pupil matanya. “Kau harus berdiri di atas daun itu dan menstabilkan segelnya sebelum rembulan tepat tegak lurus di puncak kubah langit malam yang pekat ini!”
🪷 🪷 🪷
Deru tajam sebatang anak panah berbulu elang menancap tepat di samping tumit sepatu baja Bara, memecah kesunyian malam pegunungan yang mencekam. Dari dahan pohon beringin tua yang condong ke danau, melayang turun sesosok pendekar wanita berbusana kulit rusa dengan busur kayu di tangannya. Laras Al-Humaira mendarat tanpa suara sedikit pun di atas lantai dermaga kayu yang basah kuyup oleh kabut tebal lembah pegunungan.
“Jangan biarkan mulut orang tua ini menjerumuskan akal sehatmu ke liang lahat, Bara!” seru Ratih tajam sembari menatap bentangan air danau dengan pandangan waspada penuh.
Ksatria berbaju zirah hitam itu menoleh cepat seraya merendahkan posisi tombaknya, terkejut mendapati sahabat seperjalanannya mampu melacak jejaknya hingga ke pedalaman rimba larangan yang dijaga hawa mistis pegunungan kuno.
“Mengapa kau nekat menyusul ke lembah terlarang ini, Laras?” tanya Bara heran.
“Jejak sepatu baja berbobot dua ratus kati milikmu terlalu kentara di tanah basah lereng bukit,” sindir Ratih sembari memeriksa anak panahnya. “Kau berniat melompat ke atas selembar daun teratai dengan zirah pelat baja berat dan tombak besi itu? Akal sehatmu sudah lenyap ditelan angin malam!”
Kiyai Syawaluddin melangkah maju dengan wibawa agung, mengetukkan tongkat kayunya hingga memercikkan kilatan pendar keemasan di atas papan dermaga yang berderak pelan.
“Gadis pemburu ini menilai alam hanya dari ketebalan kulit matanya yang dangkal!” tegur Kiyai Syawaluddin lantang membela rahasia telaga.
Laras mendengus sinis, matanya menyipit menatap gelombang air danau yang kian meninggi curam membasahi tiang penyangga dermaga.
“Aku berbicara berdasarkan kenyataan, Kakek Tua!” tangkis Ratih berang. “Hukum alam mana pun akan menenggelamkan batu kali, apalagi ksatria berzirah perang lengkap!”
“Daun ini tidak tunduk pada hukum alam manusia!” potong Kiyai Syawaluddin menggelegar. “Dengarkan rahasia kuno leluhur: daun ini hanya dapat dipijak oleh mereka yang memiliki keselarasan antara bobot tubuh dan kerendahan hati!”
Bara terpaku di tempatnya berdiri, merasakan getaran ganjil merayap ke sukmanya saat menatap bentangan daun teratai hijau zamrud di tengah pusaran air yang menderu.
“Keselarasan antara bobot tubuh dan kerendahan hati?” bisik Bara merenungkan petuah itu.
“Tepat sekali, ksatria muda!” sambung sang resi menatap tajam. “Jika tubuhmu berbalut baja namun jiwamu berserah, daun itu menopangmu bagai sayap rajawali. Jika hatimu penuh dendam, daun teratai purba itu akan melipat diri dan menelanmu ke jurang maut!”
“Bara memikul dendam kehancuran Perguruan Wilis di pundaknya, Kiyai!” potong Ratih mencemaskan nasib sahabatnya. “Setiap tarikan napasnya adalah amarah pembalasan darah! Bagaimana mungkin jiwanya memiliki kerendahan hati?”
“Itulah sebabnya tempat keramat ini menjadi mimbar penentu takdirnya!” sahut sang resi.
Bara menundukkan kepalanya, memandang bayangan zirah besinya di genangan air dermaga.
“Dendam ini adalah satu-satunya alasan aku tetap memegang senjata, Kiyai!”
“Maka dendammu pulalah yang akan menenggelamkanmu!” balas Kiyai Syawaluddin tegas tanpa kompromi. “Pilihlah sekarang: apakah kau melangkah sebagai ksatria yang menundukkan ego, ataukah kau lari membiarkan ancaman purba memuntahkan bencana?”
🪷 🪷 🪷
Gemuruh dari rongga dasar telaga kian mengganas bagai raungan seribu banteng terluka di dalam jurang goa batu padas. Permukaan air danau yang semula jernih kehijauan mendadak berubah menjadi hitam pekat, mengepulkan uap belerang mendidih yang menyengat tenggorokan. Bara menaiki sebuah sampan kayu kecil, mengayuh dayungnya dengan mantap membelah pusaran riak air menuju pusat telaga.
“Waspadalah, Bara! Pusaran di tengah itu siap menelan sampan kayumu bulat-bulat ke dasar palung maut yang kelam!” jerit Laras Al Humaira dari dermaga.